Posts

Gadis Layang-Layang

Image
Dia berdiri tegak, empat langkah dari tepi. Gedung seratus dua lantai itu menjulang seakan menembus awan. Gadis itu merasa, dia adalah layang-layang.
Angin mengibaskan rambutnya, mengibaskan roknya yang berwarna jingga, mengibaskan cerita yang dia dekap.. menyerahkan cerita itu pada langit.. pada semesta. Tidak ada lagi rahasia di atas sana. Angin mengisahkan atas nama gadis itu. Bahkan burung-burung pun berusaha mencapai ketinggian ini, untuk sekadar tahu apa yang terjadi. Apa yang akan gadis itu lakukan.. gedung seratus dua lantai itu memahami.
Gadis layang-layang memutuskan untuk melangkah maju.
Langkah pertama. Apabila diibaratkan, gadis itu dapat digolongkan genus Euphorbia. Jenis tumbuhan yang tidak pernah memilih menjadi demikian. Penuh duri, memiliki self-defense cukup tinggi, dan tidak mekar besar berwarna-warni. Siapa yang mau memasukkan Euphorbia dalam buket bunga? Hampir tidak ada.
Langkah kedua. Gadis itu teringat sebuah cerita -- yang dia hubungkan dengan ceritanya sendiri. …

Hanya Sebuah Obrolan

Image
(Sudut pandang Landon)

“Aku ingin berbincang denganmu sore ini. Bercerita tentang hal-hal kecil saja,” ucap Madlyn. Tangannya menggenggam erat tenganku. Sorot matanya meneriakkan sesuatu yang tidak dapat aku artikan, “kumohon duduklah bersamaku di kafe pertama kali kita bertemu. Sungguh ini untuk terakhir kali.”

Aku menatapnya tanpa berkata apapun. Mematung, merasakan kehangatan tangannya pada telapak tanganku yang dingin. 

Pilihanku hanya dua: berkata jujur atau diam. Jujur bahwa tidak ada rasa tertinggal. Bahkan sekadar menghabiskan waktu bersama pun aku enggan. Madlyn adalah seorang wanita luar biasa. Hanya saja, aku tidak bisa.

Aku memilih pilihan kedua. Diam lalu melangkah pergi. Berjalan menjauh setelah perlahan melepas genggamannya. Meninggalkannya di tengah kerumunan para pejalan kaki. Membiarkannya tak punya pilihan selain berdiri sendiri.

Aku sadar sedang menghancurkan hatinya. Padahal yang dia inginkan hanya sebuah obrolan.

Aku tahu dia mencintaiku. Kupikir dulu juga merasakan ha…

Kita di Sebuah Senja

Image
Merdu debur ombak mengalun di telingaku. Sosokmu hadir di depan mataku.. nyata tanpa reka. Kau bercerita tentang gunung dan laut, tentang langit dan bumi.. jelas tanpa retorika. Aku tak jenuh mendengarkan sembari bermain dengan pasir pantai. Senja ini, kita mengungkapkan semua.

Bertahun-tahun yakin tali itu tidak akan bersatu. Aku ingat pertemuan terakhir kita. Kau mengantarku pulang, berdiri di depan pintu, mengirimkan sinyal tak ada harapan, lalu aku menutup pintu, berjanji tidak akan jatuh pada pusaran itu lagi.

Namun, lihat lah sekarang. Kau satu-satunya yang menembus proteksi diriku. Apabila diibaratkan bumi, kau hampir mencapai inti. Apabila diibaratkan angkasa, kau telah dekat dengan perbatasan galaksi. Dengan kata lain, kau mahadaya.

Kemampuanmu memahami kisah hidupku sungguh mengagumkan. Kau terjun dari tebing tinggi, meluncur menuju palung jiwaku yang terdalam. Aku telah menunjukkan semuanya. Ketakutanku, kekhawatiranku, kelemahanku, dan segala sisi burukku. Kau hanya tersenyum…

A Woman

Image
At the age of fourteen, I thought that looking into the eyes of the boy I liked was as easy as putting a love letter into his desk drawer. It took less than thirty seconds for me to take a step closer to him without any hesitancy, then I did it. I did come over his desk and I did look at him in the eyes very deeply that my eyes could have popped out. I could do it. I was dauntless, I was a girl.
Now, it is not as simple as what I did when I was fourteen. I have no idea what the heck is wrong with me. It feels like I have no strength to fight against my anxiety and nervousness. Every time I try to be bold and take the very first action, I get this brunt inside my tummy. Each and every time I push myself towards him, my chest feels like it is going to blow up. My lips cannot open up to say any word. My body literally happens to be very rigid. I myself cannot figure out why.
Him. The guy who is standing by the grey wallpapered wall.
The beat of the party moves him so fast. He dances on the …

2015

Image
Hampir pukul enam sore di sebuah kafe pinggir kota. Aku duduk sendirian menikmati secangkir coklat panas. Merayakan kemerdekaan atas segala yang menjeratku sedemikan lama. Aku sedang terpaku pada langit malam saat kudengar lagu Bee Gees diputar. And you come to me on a summer breeze  Keep me warm in your love then you softly leave  And it's me you need to show  How deep is your love  Dalam sekejap pikiranku terseret dalam piringan hitam. Terputar dua tahun mundur. Malam itu, dalam bus yang menuju pulau Dewata. Lagu ini terus kumainkan. Kuingat benar bagaimana rasanya. Lagu indah sebagai pengantar sementara pikiran terbuncah kebagiaan. Akhirnya aku memilikinya, pikirku. Hidupku akan bahagia selamanya. Saat itu kupandang langit malam dibalik kaca -- sama seperti yang kulakukan sekarang.  Lalu pikiranku kembali lagi di masa sekarang. Kini tak ada yang tertinggal. Semua rasa membuncah itu tak lagi tersisa. Hanya sia yang pilu. Angan tak lazim yang terhempas debur ombak takdir. Aku tidak pedu…

Opto, Ergo Sum

Image
Seorang penulis pernah berkata, “Opto, Ergo Sum. Aku memilih maka aku ada.” Aku tak genap setitik ketika dibandingkan dengan luas semesta. Hanya secuil kehidupan diatas katulistiwa. Helai benang yang disulam menjadi tubuh ringkih, selalu bergidik ketika mendengar kata marabahaya. Tak ada hebatnya. Apabila bisa memilih, aku ingin terlahir dengan segala kelebihan. Lebih penampilan, lebih kepintaran, lebih kekuatan. Namun, nyatanya.. aku terlahir sedemikian rupa tanpa diberi kesempatan untuk menentukan pilihan. Dan aku tetap ada. Ketika ada ungkapan ‘Opto, Ergo Sum’, kemungkinan besar persoalan memilih ini ada di dunia lahir. Yaitu ketika kita sudah diberkahi kehidupan. Artinya eksistensi manusia dapat dikukuhkan apabila individu tersebut mampu mengambil opsi untuk mempertahankan hidupnya. Menentukan jalan mana agar bisa hidup dengan segala kelebihan serta kekurangan. Kemudian, muncul pertanyaan mengenai kesempatan memilih sebelum lahir. Agar ada, aku tidak pernah memilih. Lalu bagaimana bil…

Fiction

Image
Someone asked me, “Have you ever written, spoken, or created anything real?’ Then I answered, “Not really because I have never been so smart. Only been hanging on a certain sarcastic ability that is mixed with madness and irony.” He replied, “What do you make, then?” I shortly responded, “You know, fiction.” He was quiet for a while then said, “Confession, I actually have read some of yours, and mostly I don’t understand.” I smiled, “I consider that as a compliment.” He raised an eyebrow, “Why? I literally said you’re insane.” (Annisa -- June 25, 2016)