Posts

A Woman

Image
At the age of fourteen, I thought that looking into the eyes of the boy I liked was as easy as putting a love letter into his desk drawer. It took less than thirty seconds for me to take a step closer to him without any hesitancy, then I did it. I did come over his desk and I did look at him in the eyes very deeply that my eyes could have popped out. I could do it. I was dauntless, I was a girl.
Now, it is not as simple as what I did when I was fourteen. I have no idea what the heck is wrong with me. It feels like I have no strength to fight against my anxiety and nervousness. Every time I try to be bold and take the very first action, I get this brunt inside my tummy. Each and every time I push myself towards him, my chest feels like it is going to blow up. My lips cannot open up to say any word. My body literally happens to be very rigid. I myself cannot figure out why.
Him. The guy who is standing by the grey wallpapered wall.
The beat of the party moves him so fast. He dances on the …

2015

Image
Hampir pukul enam sore di sebuah kafe pinggir kota. Aku duduk sendirian menikmati secangkir coklat panas. Merayakan kemerdekaan atas segala yang menjeratku sedemikan lama. Aku sedang terpaku pada langit malam saat kudengar lagu Bee Gees diputar. And you come to me on a summer breeze  Keep me warm in your love then you softly leave  And it's me you need to show  How deep is your love  Dalam sekejap pikiranku terseret dalam piringan hitam. Terputar dua tahun mundur. Malam itu, dalam bus yang menuju pulau Dewata. Lagu ini terus kumainkan. Kuingat benar bagaimana rasanya. Lagu indah sebagai pengantar sementara pikiran terbuncah kebagiaan. Akhirnya aku memilikinya, pikirku. Hidupku akan bahagia selamanya. Saat itu kupandang langit malam dibalik kaca -- sama seperti yang kulakukan sekarang.  Lalu pikiranku kembali lagi di masa sekarang. Kini tak ada yang tertinggal. Semua rasa membuncah itu tak lagi tersisa. Hanya sia yang pilu. Angan tak lazim yang terhempas debur ombak takdir. Aku tidak pedu…

Opto, Ergo Sum

Image
Seorang penulis pernah berkata, “Opto, Ergo Sum. Aku memilih maka aku ada.” Aku tak genap setitik ketika dibandingkan dengan luas semesta. Hanya secuil kehidupan diatas katulistiwa. Helai benang yang disulam menjadi tubuh ringkih, selalu bergidik ketika mendengar kata marabahaya. Tak ada hebatnya. Apabila bisa memilih, aku ingin terlahir dengan segala kelebihan. Lebih penampilan, lebih kepintaran, lebih kekuatan. Namun, nyatanya.. aku terlahir sedemikian rupa tanpa diberi kesempatan untuk menentukan pilihan. Dan aku tetap ada. Ketika ada ungkapan ‘Opto, Ergo Sum’, kemungkinan besar persoalan memilih ini ada di dunia lahir. Yaitu ketika kita sudah diberkahi kehidupan. Artinya eksistensi manusia dapat dikukuhkan apabila individu tersebut mampu mengambil opsi untuk mempertahankan hidupnya. Menentukan jalan mana agar bisa hidup dengan segala kelebihan serta kekurangan. Kemudian, muncul pertanyaan mengenai kesempatan memilih sebelum lahir. Agar ada, aku tidak pernah memilih. Lalu bagaimana bil…

Fiction

Image
Someone asked me, “Have you ever written, spoken, or created anything real?’ Then I answered, “Not really because I have never been so smart. Only been hanging on a certain sarcastic ability that is mixed with madness and irony.” He replied, “What do you make, then?” I shortly responded, “You know, fiction.” He was quiet for a while then said, “Confession, I actually have read some of yours, and mostly I don’t understand.” I smiled, “I consider that as a compliment.” He raised an eyebrow, “Why? I literally said you’re insane.” (Annisa -- June 25, 2016)

Pulang Sekolah

Image
Bel pulang sekolah berbunyi lebih dari dua jam yang lalu. Namun gadis itu masih berdiri termangu di depan kelas. Menatap entah apa, memikirkan entah apa, sesuatu yang tidak terbaca. Dan disini aku masih memandangnya dari kejauhan.
Kini dia berjalan menuruni tangga. Lalu berhenti di depan mading yang telah dibacanya puluhan kali. Karya sastra bulan ini oleh anonim ‘AA’. Tips dan trik tentang bagaimana merawat piringan CD. 
Ramalan horoskop untuknya cukup bagus terutama soal kesehatan. Artikel-artikel tersebut dia baca hampir setiap hari. Hingga hafal penerbit buku yang dijadikan referensi di kolom Fakta Belaka. Dia masih berdiri di depan mading. Satu-satunya hiburan selagi menunggu. Sementara seluruh temannya mungkin sedang tidur siang.
Kupandangi wajahnya. Rautnya bergetar hambar. Umurnya tak lebih dari 13 tahun, namun pandangan itu menunjukkan sesuatu yang lain. Rasa berat hati dan kepasrahan. Semua dalam keluguan. Di balik rambut lusuh dan kulit berminyak setelah menghabiskan waktu di d…

Di Titik Tengah

Image
Dia adalah segalanya. Bagaikan semilir angin laut yang menerpa rambutku saat di pantai, kupu yang hinggap di bunga yang kutanam sejak bibit, hangat selimut dikala hujan badai, musik merdu yang memanjakan jiwa, serta kepastian cahaya di ujung lorong gelap.
Aku ingin mendekapnya. Menahannya di titik ini untuk menemaniku berlayar mengarungi samudera -- atau aku yang menemaninya, sama saja. Memilikinya untukku sendiri. Menyuruhnya jangan kembali ke dekapan masa lalu. Mengajaknya makan malam sambil bercerita tentang rupa dunia. Melihatnya tertawa. Menyaksikannya jatuh cinta.. padaku. Aku. Begitu banyak rasa sakit yang kusimpan dan dia mampu mengobati.. dengan nasihat bijak dan candaan renyah. Cukup dengan tatapan hangat, sentuhan lembut, dan pelukan melindungi. Seakan aku tidak akan merasa sakit lagi.  Dia. Terlalu banyak tawa palsu yang dia paksakan, dan di hadapanku, dia bisa menjadi diri sendiri tanpa harus memaksa ceria -- menelanjangi jiwanya seutuh-utuhnya. Tanpa rahasia…

The Secret Place

Image
Sherlock Holmes menyebutnya mind palace, aku menyebutnyathe secret room. Ruang rahasia. Tempat aku menjejalkan idealismeku tentang dunia -- bahwa satu tambah satu sesungguhnya tidak mempunyai jawaban signifikan. Tempat pikiranku meloncat-loncat dari satu konsep ke konsep lainnya, berlarian menciptakan definisi sebuah fenomena, menari-nari dengan argumen dalam inner dialogue.
Kepalaku adalah tempat ter-asik di jagad raya.  Aku bisa saja tertawa dan berpura-pura menikmati pesta, berdansa sambil menenggak cola. Padahal sebenarnya aku berpikir segalanya benar-benar membosankan. Orang-orang yang pada dasarnya berkarakter sama, yang memiliki kehidupan monoton, yang saling menggantungkan diri satu sama lain, yang jenuh pada rutinitas lalu menciptakan bahagia dengan mengadakan pesta layaknya hari raya. Padahal bagiku, aku bisa mendapatkan segalanya dalam pikiranku sendiri. Bahagia yang aku ciptakan sendiri. Tanpa bergantung pada apapun. Karena aku manusia bebas. Tidak seperti mereka. Kepalaku ad…