OXELEE; chapter one



Oxel berhenti sejenak. Mencari kata-kata yang tepat untuk kesekian kali.  Kesunyian kamar menyita pikirannya. Ia bergeming dan kembali menulis.

Aku lelah membenci
Namun,
aku tidak bisa menghentikannya
Membenci orang-orang yang membuatku
merasa semakin takut  untuk kehilangan
-Oxelee-

Ia menutup buku hariannya dan melemparnya ke lantai. Ia memasukkan beberapa buku Science Exact ke dalam tas. Menyisir ringan rambut coklat panjangnya dengan tangan, lalu bergegas keluar kamar dan menyusuri tangga.
            “Pagi, Oxel.” Sapa Quinn.
            Quinn menyambutnya di ruang tamu. Oxel hanya memandang dingin adiknya itu, lalu kembali berjalan tidak acuh. Mengabaikannya.
            “Hey, Oxel. Tunggu.”
            “Apa?”
            “Aku membuatkanmu cheese sandwich dan susu coklat untuk kau makan di kampus. Aku tahu kau pasti tidak mau sarapan di rumah.” Quinn tersenyum manis sambil menyodorkan sebuah tas kecil. “Mobil Kyle sedang ada di bengkel, jadi dia tidak bisa mengantarku hari ini. Aku akan ikut bus sekolah saja.”
            “Kyle siapa?”
            “Kau lupa pacar adikmu sendiri? Benar-benar.. ”
Oxel langsung menyerobot tas kecil berisi makanan kesukaannya itu sebelum Queen melanjutkan kalimatnya dan berjalan pergi tanpa mengatakan apapun.
            “Hati-hati ya.” Seru Quinn saat Oxel melewati pintu. Oxel hanya mendengus dan merogoh tasnya untuk mencari kunci mobil.
 Bus sekolah Manhattan High School berhenti di depan rumah. Pintu bus terbuka dan sang supir, Mr. Cortonn melongok keluar pintu. Tersenyum ramah pada Oxel. Aku yakin bau badannya masih seperti buah naga busuk. Oxel mengernyit membayangkan dirinya yang dulu duduk di kursi belakang Mr. Cortonn saat SMA. Seharusnya dia dipecat untuk alasan kesehatan paru-paru para siswa.
             Quinn berlari keluar rumah menuju bus. Rambut coklat sebahunya dikuncir kuda. Ia sangat cantik, sama seperti Oxel.
             “Bye, Oxel.” Quinn melambaikan tangan.


Oxel memarkir mobil ford hitamnya di lapangan parkir New York Univesity (NYU), perguruan tinggi terbaik di New York, bahkan mungkin di Amerika, yah mungkin saja. Ia berjalan melewati halaman depan dengan sikap dingin. Sesekali memandang sinis pada hal-hal yang dianggapnya konyol.
            Cuaca Manhattan hari ini sedang hangat. Rumput hijau halaman depan kampus dipenuhi oleh mahasiswa yang sekadar duduk-duduk, membaca buku, atau bercanda atau kejar-kejaran dengan cowok-cowok.
            Racquel Luent dan geng populernya duduk di bawah pohon Port Jackson yang paling rindang. Membicarakan butik yang baru di buka di Avenue 8 Street. Paige dengan semangat menceritakan gaun beledu jingga yang kemarin dilihatnya di butik itu. Tayler, Stephani, dan Daniella mendengarkan Paige dengan wajah berseri-seri. Sedangakan Raqcuel, sang pentolan, matanya hanya tertuju pada Marc yang sedang membaca sebuah buku karya Shakespeare. Marc adalah cowok paling keren di New York University, bahkan di Manhattan. Tubuhnya tinggi tegap, berambut merah cepak, tampan, populer, dan kaya raya. Racquel menyukai Marc.
            Chuck mencoba mengganggu konsentrasi membaca Marc dengan menari-nari layaknya Jim Carry dalam film Bruce Almighty. Cowok-cowok yang lainnya tertawa melihat Chuck. Sedangkan Marc hanya melambaikan tangannya, tanda agar Chuck segera menyingkir. Chuck akhirnya menyerah dan beralih mengganggu Allen dan Penny. Marc hanya tersenyum tipis melihat tingkah Chuck lalu kembali berkonsentrasi pada bukunya. Ia membalikkan halaman buku dengan susah payah karena angin meniup kencang.
            Marc memandang ke arah kerumunan di pinggir halaman, dan tidak sengaja melihat Oxel berdiri memandangnya. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Oxel langsung memalingkan wajahnya dan kembali berjalan menuju pintu masuk gedung. Nikmatilah kepopuleran kalian yang konyol itu. Aku pernah menjadi seperti kalian, tapi, sekarang, tidak lagi. Ia menghentikan langkahnya. Meremas tasnya yang penuh buku. Aku tidak pernah menyesal menjadi seperti ini.
            “Oxel. Hey Oxelee Johnston!” Seseorang meneriakkan namanya di belakang.
            “Josh.” Oxel bergumam lalu kembali melanjutkan langkahnya, tidak memerdulikan orang yang memanggil-manggilnya sejak tadi.
            “Hey, hey. Berhentilah Oxel.”
            “Apa?”
            “Pesta dansa minggu depan, kau mau menjadi pasanganku? Kumohon.” Josh masih terengah-engah karena mengejar Oxel. Rambut pirangnya berantakan. Seragam basket NYU Athletics yang masih dipakainya menarik perhatian orang-orang yang lewat.  Ia masih menunggu jawaban dari Oxel sementara tangannya sibuk menahan maket-maket desain di tasnya yang sudah penuh sesak agar tidak jatuh. Oxel memandang wajah Josh. Matanya biru, sebiru laut.
“Aku mahasiswi kedokteran semester enam yang tidak menyukai sesuatu yang kekanak-kanakan seperti pesta dansa.” Oxel kembali berjalan meninggalkan Josh yang terlihat kecewa.
            “Kau tahu ‘kan, aku menyukaimu sejak semester empat, Oxel?”
            Oxel langsung menghentikan langkahnya, lagi. Terdiam sebentar lalu berbalik. “Kau konyol, Josh Crawford. Jangan bodoh!”

            “Tidak bisakah sekali saja kau tidak bersikap dingin pada semua orang? Tersenyumlah, tertawalah, nikmati kebahagiaan. Kau seharusnya melakukan itu, Oxel, atau paling tidak biarkan aku berusaha membuatmu tersenyum LAGI.”

            Oxel mengernyitkan dahi dan tertawa sinis. “Kau tahu apa tentang kehidupan dan kebahagiaan?!” Ia menghilang dalam kerumunan. Meninggalkan Josh berdiri mematung sambil berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa pergi dengan Oxel di pesta dansa nanti.


Oxel memasuki ruang kelas. Memandang sejenak Carol, sahabatnya sejak kecil yang duduk di bangku baris ketiga. Carol tersenyum padanya, dan seperti biasa, ia hanya memandang dingin. Ia memilih duduk di bangku baris pertama, lalu mengeluarkan buku Science Exact : Medical Anatomy dan sebuah buku catatan. Ia mendengarkan Profesor Svante dengan seksama. Aksen Rusia Profesor tidak terlalu mengganggunya, walaupun banyak orang mengejek aksennya yang buruk. Aku ingin menjadi seorang dokter yang hebat.
             Lilian datang terlambat dan memilih untuk duduk di bangku sebelah Oxel. Oxel berdehem tidak senang.
             “Carilah bangku lain.”
 “Maaf?” Lilian bingung.
 “Carilah bangku lain. Kau datang dan merusak konsentrasiku. Aku baru saja kehilangan lima persen dari materi hari ini.” Oxel memperjelas kata-katanya tanpa memandang Lilian.
             “Kau benar-benar aneh.” Lilian kesal dengan Oxel.
             “Terima kasih.” Jawab Oxel tenang, seakan dia baru saja menerima sebuah pujian. Tangannya memainkan pulpen sambil menunggu reaksi Lilian untuk segera pergi.
             “Lilian, duduklah di bangku-ku. Aku ingin berbicara pada Oxel.” Carol tiba-tiba sudah berdiri di sisi Lilian. “Maafkan perlakuan Oxel, Lil.”
             “Baiklah. Lagipula aku tidak mau mengganggu konsentrasi ‘Oxel si Aneh’ lebih banyak lagi.” Lilian menarik tasnya dan pergi. Oxel tidak terlalu memerdulikan mereka berdua.
             “Hey, hey. Ada apa di sana? Tenanglah.” Profesor Svante menunjuk ke arah mereka. Aksennya terdengar menggelikan. “Tenang atau kalian akan aku keluarkan dari kelas.”
             “Ma.. Maaf, Profesor.” Carol menggigit bibirnya, membayangkan Profesor marah dan mengeluarkannya dari kelas seperti dulu saat ia bertengkar dengan George, mantan pacarnya, dan membuat kekacauan. Lalu konsentrasinya kembali tertuju pada Oxel.
             “Oxel. Mom mengundangmu makan malam sabtu besok.” Carol berbisik dan tersenyum. Ia sangat manis saat tersenyum. Rambut panjangnya dijepit dengan jepit pita merah muda, tubuhnya kurus dan kulitnya agak coklat. Ia gadis keturunan Asia yang cantik. Jaket cardigan putih yang di belinya di Los Angeles musim panas lalu membuatnya terlihat cathcy. “Ajaklah Quinn juga.”
             “Aku sibuk. Katakan itu pada Bibi Becky.”
             “Oxel, kumohon kali ini saja.”
             “Apa yang kau harapkan?”
             “Kau tidak bisa begini terus. Kau tidak bisa memperlakukan aku, Marc, Quinn, bahkan semua orang dengan cara begini. Kembalilah seperti dulu, Oxel.”
             Profesor mengakhiri kelas dan memberi beberapa tugas tentang anatomi tubuh manusia. Oxel membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas. Carol masih menunggu tanggapan Oxel.
             “Oxel, bicaralah padaku.” Carol memohon. Oxel memandangnya dingin lalu melangkah pergi meninggalkannya.


Halaman belakang kampus sepi, seperti biasanya. Hanya ada beberapa orang mengobrol dan terlihat akan meninggalkan tempat itu. Oxel berjalan menyusuri rerumputan hijau sambil menendang-nendang batu kerikil. Ia berhenti di sebuah pohon besar yang sudah tua dan duduk di bawahnya.  Akar pohon yang tebal dan berbonggol mencuat ke atas tanah. Daunnya rindang, namun beberapa sudah mulai mencoklat. Tanda bahwa musim gugur telah tiba. Di bawah pohon inilah Oxel banyak menghabiskan waktunya. Ia memakan cheese sandwich yang diberikan Quinn pagi tadi.
            Kau tahu 'kan, aku menyukaimu sejak semester empat, Oxel?  Kata-kata Josh itu terus terngiang di telinganya. Setiap ia memikirkan Josh, ia teringat pada seseorang. Ia mengambil sebuah foto dari dalam tasnya. Foto seorang pria dengan seragam tim The Manhattan Indians Basketball, tim basket Manhattan High School. Pria dalam foto itu tersenyum ceria dengan sebuah bola basket di tangan kanannya. Rambutnya pirang dan terlihat tidak disisir rapi. Matanya biru, sebiru laut.
            Chad, ada seseorang yang mirip denganmu. Matanya, rambutnya, dan bahkan caranya bicara sama sepertimu. Air mata menetes dari kedua mata hijau Oxel. Ingatannya saat ini seperti roll film yang terputar ke belakang, mengingat masa lalu. Ia semakin sedih.
            Angin berhembus kencang, menjatuhkan daun-daun yang sudah terlalu kering. Tidak terlihat ada siapapun disana, kecuali Oxel. Ia bergidik. Angin mengebaskan rambut coklat panjangnya yang terurai. Semak-semak dan daun-daun yang berjatuhan menimbulkan suara berisik. Ia menyukai suara itu, suara dedaunan itu. Ia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tangannya memegang erat foto itu.
            Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Quinn menelpon. Quinn, kenapa kau selalu mengganggu waktuku bersama Chad?!
            “Apa?”
            “Carson... dia pulang.”
            “Carson?” Oxel terkejut.
            “Ya. Carson pulang dan dia ingin bertemu denganmu.”
            “Berani sekali dia. Baiklah, aku pulang.” Oxel menutup telponnya. Raut wajahnya berubah menjadi penuh kebencian dan kemarahan. Ia merapikan barang-barang dan memasukkannya ke dalam tas, lalu berjalan menuju lapangan parkir dengan langkah cepat.


Carson duduk di ruang tamu. Setelah mendengar suara mobil Oxel, ia langsung berjalan keluar menghampirinya dengan wajah penuh rasa bersalah. Oxel sedikit memperhatikan perubahan pada penampilan kakaknya itu yang sudah menghilang selama bertahun-tahun, dan sekarang tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa rasa bersalah. Sejak dulu Oxel sudah membenci Carson, sejak ia masih kecil. Satu-satunya orang yang kematiannya akan Oxel rayakan adalah Carson. Kini rambut Carson dipotong cepak rapi, tidak lagi bergaya mohawk seperti dulu.
            “Oxel.”
            “Sedang apa kau disini, Carson?”
            “Aku kembali untuk kalian.”
            “Untuk kami? Menggelikan.”
            “Aku baru menyadari betapa buruknya aku dulu. Tolong maafkan aku, Oxel. Beri aku kesempatan untuk menjadi kakak yang baik untukmu dan Quinn.” Carson meraih tangan Oxel.
            “Setelah bertahun-tahun kau baru menyadarinya dan kembali ke rumah ini? Setelah selama ini, kau baru menyadari betapa buruknya dirimu? Setelah semua masa kecilku dan Quinn memiliki kakak sepertimu? Setelah selama ini?!” Oxel menghempaskan tangan Carson.
            “Kau bertambah cantik, kau tahu. Kau benar-benar seperti seorang putri.” Carson mencoba mengalihkan pembicaraan. Tangannya membelai lembut rambut Oxel.
            “Diam, Carson! Aku tidak pernah menganggapmu ada. Kau tidak pernah ada di dalam hidupku!”
            “Aku akan tinggal disini lagi. Aku adalah bagian hidupmu, Oxel.” Carson tersenyum. Oxel meremas tasnya yang penuh buku lalu melemparnya ke arah Carson.
            “Apa kau gila? Aku membencimu sejak dulu dan selamanya! Pergilah dari hidup Oxelee dan Quinn Johnston!” Oxel berteriak-teriak di hadapan Carson.
            Quinn yang sejak tadi hanya memandang dari dapur tidak bisa lagi tinggal diam. Ia mengahampiri Oxel dan menariknya masuk ke dalam kamar di lantai dua. Ia menyeret kakaknya itu menaiki tangga tanpa mengatakan apapun. Sementara Oxel mencoba melepaskan genggaman tangan Quinn yang sangat erat. Quinn tidak ingin pertengkaran hebat antara Oxel dan Carson terjadi lagi seperti terakhir kali.
             Di depan pintu kamar, Oxel mengutuk. “AKU MEMBENCIMU, CARSON!”

***

Carson dan Quinn duduk di beranda depan. Dua cangkir cappuccino panas menemani mereka di atas meja.
            “Kau bisa setenang ini, Quinn? Bagaimana kalau dia tidak kembali?” Carson terlihat mencemaskan Oxel yang pergi dari rumah sejak kemarin. Quinn menanggapinya santai, seakan dia sudah terbiasa dengan tingkah kakak perempuannya itu.
            “Tenanglah. Dia pasti akan kembali.” Quinn memainkan cangkir di tangannya. “Dia hanya butuh sedikit waktu untuk menerimamu kembali.”
            “Kemana dia?”
            “Entahlah. Setelah Chad..” Quinn berhenti berbicara. Diletakkannya cangkir ke atas meja. “Setelah kejadian itu, dia sering sekali menghilang dan tidak ada satupun yang tahu dimana dia bersembunyi.”
            “Di rumah temannya?”
            “Kau bercanda? Dia tidak lagi punya teman. Dia menjauhi semua orang, bahkan Marc dan Carol. Oh iya, besok Sabtu kita diundang makan malam oleh Bibi Becky. Kita harus datang kesana. Lagipula, kau sudah lama tidak bertemu dengan Carol dan keluarganya, 'kan?”
            “Ya.”
            “Baiklah. Sudah larut, tidurlah. Besok Oxel pasti sudah kembali.” Quinn beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah. Carson masih terdiam di kursi mapel yang dibuat ayahnya saat ia berumur lima tahun itu. Udara malam membuatnya bergidik. Carol. Carol Roms.


Sinar matahari pagi menyeruak ke dalam ruangan melalui jendela. Oxel terbangun dari tidurnya. Matanya terasa berat. Tidak ada kelas hari ini sehingga ia ingin menghabiskan waktunya dengan tidur di kamar. Dipeluknya Autissy, bantal Garfield berwarna kuning yang didapatnya saat ulang tahunnya yang ketujuh belas.
            “Aku tahu, kau pasti pulang.” Quinn sedang merapikan lemari Oxel dan mengambil beberapa pakaian kotor.
            “Apa yang kau lakukan disini, Quinn? Aku mengunci pintuku.” Oxel terkejut melihat Quinn berada di dalam kamarnya.
            “Aku punya kunci duplikat semua pintu di rumah ini, Oxel sayang. Bangunlah. Nanti malam kita ke rumah Carol untuk makan malam.”
            “Keluar dari kamarku!”
            “Oxel.”
            “Kubilang keluar! Sekarang!”
            “Baiklah. Baiklah. Aku keluar.” Quinn keluar dari kamar Oxel dengan membawa banyak pakaian kotor. Oxel bangkit dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, menyingkirkan buku-buku yang berserakan di lantai ke sudut, kemudian menyalakan komputer dan memutar musik. Ia meringkuk di tempat tidur memeluk Autissy, memandang ke luar jendela dan melihat burung-burung kookaburra bertengger di dahan pohon di depan rumah. Kakinya tidak sengaja menendang majalah The MHS Log, majalah Manhattan High School terbitan lama yang diletakkan serampangan di atas tempat tidur. Pada cover depannya terpampang wajah seorang gadis paling populer di sekolah, wajahnya sangat cantik layaknya model. Ia meraih majalah itu lalu melemparnya. Aku yang dulu telah mati. Gadis populer itu, gadis keren itu, aku tidak menginginkannya lagi.

***

"Oxel, keluarlah. Kita harus segera berangkat.” Quinn mengetuk pintu kamar Oxel. Membujuknya agar ia mau keluar. Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
            “Dia belum mau keluar?” Carson menghampiri Quinn sambil merapikan jas hitamnya. Rambutnya disisir rapi dan kelihatan berminyak. Sepatu kulitnya seperti baru disemir sebanyak dua puluh kali. “Buka pintunya. Kau 'kan punya kunci duplikat”
            “Aku tidak bisa. Nanti dia akan marah.”
            “Dia bertingkah seperti anak kecil. Oxel, keluarlah. Kita akan terlambat.”
            Pintu kamar terbuka dan Oxel keluar. Carson dan Quinn agak terkejut melihat Oxel berdandan. Ia memakai gaun beledu biru tanpa lengan yang panjangnya diatas lutut. Gaun itu adalah gaun yang dibelinya di butik Breakthru saat ia masih di semester dua. Rambutnya diurai rapi dan sebuah jepit menarik poninya ke belakang. Ia memakai higheels merah. Ia terlihat cantik, namun raut mukanyak masih sama. Dingin dan kaku.
          Quinn tersenyum manis seperti biasa, lalu  menggandeng Oxel. “Kau cantik, Oxel.”