OXELEE; chapter two


by: Annisa Widyawati

Bibi Becky menyambut mereka dengan senyuman ramah.
            “Hey, kalian. Aku sangat merindukan kalian bertiga. Terutama kau, Carson.” Bibi Becky menepuk pundak Carson. Ia mempersilahkan Carson, Oxel, dan Quinn untuk masuk ke ruang makan bergaya minimalis yang dindingnya ditempeli wallpaper bergambar rusa. Aroma daging panggang menyebar ke seluruh ruangan. Di atas meja dihidangkan ayam kecap, daging panggang, pasta, salad, dan beberapa masakan Bibi Becky lainnya. Paman Lawrence terlihat menyelinap ke dapur untuk mengambil secangkir kopi dan menambahkan marshmallow ke dalamnya, lalu meminumnya sebelum makan malam dimulai. Carol menata piring di meja, kemudian menambahkan beberapa sendok gula tanpa lemak ke dalam teko teh bergambar bunga lily. Ia tersenyum melihat kedatangan Johnston bersaudara.
            “Oxel, Quinn. Aku tahu kalian pasti datang.”
            “Hey, Carol.” Sapa Carson yang merasa kedatangannya tidak disadari Carol.
            Carol terkejut melihat Carson. “Carson, kau disini?”
            “Kau seperti melihat hantu.” Carson tersenyum tipis. Oxel merasa muak melihat Carson. Kau benar-benar memuakkan. Kau pikir kau bisa menggoda siapa saja dengan wajah tampanmu itu? Kau pikir kau bisa menggoda Carol?
            “Duduklah. Ayo kita mulai makan. Aroma makanannya benar-benar menggoda.” Paman Lawrence memimpin doa. Selesai berdoa, Bibi Becky menyendokkan daging panggang di atas masing-masing piring, kecuali Oxel yang tidak menyukai daging. Ia lebih memilih ayam kecap dan salad. Carol terus berceloteh tentang masakan-masakan ibunya, juga tentang kompetisi selancar yang diikutinya di Australia musim panas lalu. Tentang berselancar di ombak besar, bertemu dengan peselancar dunia, dan tangan kirinya yang patah karena terkena karang. Walaupun Carol seorang gadis, ia sangat menyukai selancar sejak kecil.
            “Paman, kudengar kau sedang menjalankan proyek baru di Pennsylvania?” Celetuk Quinn memulai obrolan baru.
            “Ya. Proyek itu terletak dua blok dari Penn Station. Aku hanya merancang desain gedungnya, jadi tidak harus terlalu sering kesana.”
            “Itu keren, Paman.” Puji Quinn. Lalu pembicaraan melompat-lompat dari proyek Paman Lawrence hingga Penn Station. Carson mengatakan bangunan Penn Station sekarang benar-benar mengubur nilai sejarah. Ia juga bercerita tentang pekerjaan barunya sebagai seorang konsultan di Jeffson Company, dan tentang seseorang bernama Emily yang ditemuinya di perusahaan itu.
            Oxel sejak tadi hanya diam, tidak mengatakan sepatah katapun. Apa yang kalian bicarakan? Tidakkah banyak bicara itu melelahkan? Kalian semua memang konyol. Oxel memainkan makanan di piringnya. Tenggelam dalam pikirannya sendiri.
            “Honey, apa Jill tidak diundang?” Tanya Paman Lawrence pada Bibi Becky. Oxel langsung menghentikan makannya. Suasan menjadi sunyi. Carol memelototi aayahnya itu, matanya seakan-akan berkata ‘Apa yang Ayah baru saja katakan? Ayah sinting. Ayah merusak suasan malam ini.’ Paman Lawrence terlihat menyesal telah bertanya.
            “Cobalah pasta ini. Aku mendapatkan resepnya langsung dari temanku di Italia. Ini enak sekali.” Bibi Becky mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menyendokkan sesendok pasta ke piringnya. Oxel tidak lagi selera makan. Aku ingin pergi dari sini. Ia berdiri dan meninggalkan meja makan.
            “Oxel, sopanlah. Jangan pergi begitu saja.” Carson memperingatkan Oxel. Namun, Oxel tidak memerdulikannya. Ia berjalan ke luar rumah. Suasana di meja makan menjadi tidak enak.
            “Dia sedang kumat. Jill selalu membuat dia teringat tentang Chad. Biarkan dia sendiri dulu. Kita nikmati saja makan malamnya.” Quinn berbicara tenang sambil menusuk tomat dengan garpu. Sepertinya, hanya ia yang mengerti jalan pikiran Oxel.
            Oxel berjalan ke pintu depan. Ia memandang higheels-nya yang sudah terlihat kusam. Higheels bodoh. Kau usang dan jelek. Tapi, aku masih saja suka memakaimu.
            Ia membuka pintu tanpa melihat ke depan dan tidak sengaja menabrak Marc yang akan mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Oxel mengerang kesakitan karena kepalanya terantuk kepalan tangan Marc.
            “Maaf, Oxel. Aku sebenarnya mau masuk. Tapi, karena kupikir aku terlambat jadi aku mau pulang saja. Apa kau baik-baik saja?” Tangan Marc mengulur ingin membelai kepala Oxel, namun ia ragu dan mengurungkannya. Oxel tidak memerdulikan Marc. Ia berjalan menuju garasi mobil. Marc mengikutinya. Kenapa kau mengikutiku, Marc?! Oxel duduk di samping mobil tua tahun 80-an milik Paman Lawrence dan Marc juga mengikutinya duduk. Mereka tidak saling bicara, tenggelam dalam kesunyian malam. Sementara, dari dalam rumah terdengar candaan Carol dan Quinn, juga perdebatan Bibi Becky dan Paman Lawrence tentang bagaimana meletakkan sendok yang benar. Angin berhembus kencang. Angin musim gugur. Kebun Bibi Becky di samping rumah ditumbuhi peterseli dan jeruk marigold, juga ada bunga lily tumbuh disana. Angin membuat pintu mobil yang sudah tua berderap.
            Oxel menutup matanya. Ia membayangkan sedang ada di Skotlandia. Menikmati teh aroma melati sambil memandang perkebunan dan ladang yang terhampar hijau.
            Marc mulai bosan dengan kesunyian ini. Ia memutar otak untuk mencari bahan pembicaraan yang tepat, hingga akhirnya ia teringat akan kemenangan Brooklyn College Athletic di kejuaraan regional.
            “Athletic kemarin menang di kejuaraan regional, ‘kan? Kau menontonnya?” Carson menoleh ke arah Oxel yang terlihat melamun. “Hey, kau mendengarku?”
            “Aku tidak peduli.”
            “Tapi kemarin benar-benar pertandingan yang seru.”
            “Kenapa kau membicarakan itu padaku? Kau tolol.”
            Marc sedikit terkejut. “A.. Aku hanya tidak tau lagi apa yang harus kubahas denganmu.”
            “Kalau begitu kau tidak perlu berbicara denganku. Mudah, ‘kan?” Oxel mendengus marah dan memalingkan wajahnya, memandang lampu jalan yang cahayanya terlihat mulai redup.
            Terdengar samar-samar suara Carol memanggil nama Oxel. Carol keluar ke beranda depan dan mencarinya. Quinn dan Carson juga ikut mencarinya. Oxel bangkit dan berjalan menghampiri mereka. Carol menangkap sosok Oxel dan berlari ke arahnya.
            “Oxel, kau pintar sekali bersembunyi.” Lalu Carol melihat Marc berdiri di belakang Oxel. Marc menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Marc. Kau? Kukira kau tidak datang. Kenapa kau tidak masuk dan apa yang kau lakukan dengan Oxel?’
            Quinn dan Carson keluar rumah, begitu pula dengan Bibi Becky dan Paman Lawrence.
            “Sepertinya semuanya sedang berkumpul. Kalian semua ada disini. Ya, hari ini aku benar-benar beruntung.” Oxel berkata sinis. “Quinn, ayo kita pulang.”
            Carson, Oxel, dan Quinn pamit pada Keluarga Roms dan Marc. Carol berterima kasih karena mereka, terutama Oxel, bersedia datang malam ini.
            “Sering-seringlah mampir kemari. Aku akan membuatkan masakan terlezat untuk kalian.” Bibi Becky tersenyum. Johnston bersaudara melambaikan tangan tanda selamat tinggal untuk malam ini.
            Di dalam mobil, Oxel duduk di kursi belakang. Ia mengeluarkan MP3 dari dalam saku dan memakai earphone-nya. Lagu Linkin Park mengalun pelan di telinganya.

 My insides all turned to ash, so slow
And blow away as I collapsed, so cold
A black wind took them away
From sight
And now the darkness over day, that night

Ia memandang ke luar jendela. Melihat rumah-rumah yang kebanyakan lampunya sudah mati dan pohon-pohon pinggir jalan.

So now you’re gone, and I was wrong
I never knew what it was like
To be alone



???

Just in case you missed reading the previous chapter, click THIS \(ˇ▼ˇ)/