Unpretty Stefanie

Suara sirine sederetan mobil di belakangnya membuyarkan lamunan Stef. Pekerja kantoran dengan mobil-mobil mewah itu kesal, mereka yang sudah bekerja seharian dan ingin buru-buru pulang untuk menghindari kemacetan justru diperlambat di lampu merah oleh seorang remaja yang tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang sibuk. Stef langsung mengegas dan mempercepat laju motornya sambil nyengir menengok ke belakang. Dia masih asik mengendarai motornya, bernanyi-nyanyi kecil, hingga akhirnya dia baru menyadari seorang pengendara motor di sebelahnya yang daritadi memerhatikannya sambil senyam-senyum. Dia menengok, dan BRAK! Motornya menabrak pohon.

                “Stef! Loe ngga apa-apa?” Seorang cowo dengan kemeja hijau turun dari motor matik yang ditumpanginya dan langsung menolong Stef.

                “Aww, kaki gueee! Linggar loe gila gara-gara loe nih!” Gadis mungil itu nyengir kesakitan.

                “Apaan kok bisa gue? Sini berdiri. Ngga parah nih, lecet doang.”

           “Ngapain loe nyeblahin motor gue gitu bikin kaget. Gimana kalo tadi gue langsung mati gara-gara nabrak pohon. Mau ganti nyawa gue ga loe? Ihhh!”

“Ya maaf. Mau nggodain loe doang gue tadi. Lagian ada pohon di depan kok ditabrak. Makanya jadi orang itu jangan ceroboh, kebiasaan bener. Jangan asal nengok gitu di tengah jalan. Bisa berdiri kagak?” Linggar memindahkan motor Stef ke pinggir trotoar. Insiden tabrak pohon ini menarik perhatian para pengguna jalan. Seorang tukang tambal ban menghampiri mereka. “Neng, luka ngga neng? Motornya juga ngga peyok ‘kan? Mau ke rumah sakit atau...”

“Ngga usah bang. Luka kecil kok. Biar saya yang obatin aja.” Linggar menyela.

“Oh, yaudah, mas. Lain kali ati-ati ya neng kalo naik motor.” Bapak setengah baya itu berjalan meninggalkan mereka sambil menggumam dengan aksen Jawanya. “Dasar bocah-bocah jaman saiki pencilakan numpak motor.”

Stef langsung berdiri dan menggaet motornya. “Gue mau ke kampus, udah ada janji nih.”

“Lah loe ‘kan masih luka gitu, liat tuh darahnya. Gaya bener janjian. Pulang aja gue anterin. Ada yang mau gue omongin juga nih, penting mamen.”

“Iya dong janji, gue kan orang penting.” Stef nyengir tidak karuan. "Bye bye, Linggar jelek. Jangan bikin anak orang celaka lagi!"  Dia menyalakan mesin motornya dan melaju pergi meninggalkan Linggar sendirian di pinggir jalan. Linggar adalah teman dekatnya sejak lama. Mereka sudah seperti kakak-adik selama ini. Dari SMP, SMA, mereka satu sekolah dan saat kuliah mereka juga satu kampus hanya beda fakultas, Stefanie fakultas Design dan Linggar fakultas Hukum. Hingga sekarang pun mereka dijuluki 'Pasangan tak Terpisahkan.' Dulu, Stef memang sempat naksir cowo cakep dengan rambut agak gondrong itu, tapi lama-kelamaan rasa suka itu mulai hilang entah kenapa. Mulai sekarang Stef percaya, dia pasti sedang mabuk saat suka sama Linggar. Lagipula, dengan tampang pas-pasan Stef, dia ngga yakin Linggar akan suka padanya. Mengingat selera Linggar yang cuku[p tinggi. Linggar sebenarnya orang yang baik dan sangat perhatian. Orangtua Stef pun sudah sangat percaya padanya. Dengan sifat Stef yang kesannya bodoh, kikuk, dan sangat ceroboh, hanya Linggar yang bisa mengatasinya saking lamanya dia mengenalnya.

Stef sampai di kampus kebanggannya, terang saja, Universitas ini salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Ia memarkir motor merah muda-nya di samping pagar pembatas antara parkiran motor dan mobil. Dengan berjalan pincang karena kakinya yang terluka, ia menghampiri seorang cewe dengan kaos putih yang duduk di depan gedung fakultas. Ia berteriak sekencang-kencangnya memanggil temannya itu, mungkin satu fakultas bisa mendengar suaranya tadi. Memalukan, sekali.

"Dhea! Dhe, Dhe, Dhe. Dheaaa!"

"Apaan sih, Stef? Gue ngga budeg. Jangan teriak-teriak" Dhea menarik tangan Stef, tanda agar dia berhenti karena semua orang sudah memandangi mereka.

"Ya, kalik aja loe ga denger. He-he."

"Darimana aja loe? Gue lumutan nungguin daritadi."

"Biasa lah. Call of Duty sebelum berangkat tadi, panggilan alam." Stef mengeluarkan sebendel kertas dari dalam tas bergambar Panda-nya. Dia mengecek satu-persatu dari semua kertas itu. "Nih, ngga ada yang kurang. Lengkap. Kalo ada yang kurang, bilang gue aja."

"Oke. Harus ada artikel menarik di website kita. Kalo ngga, hasil karya kita bakal lumutan di internet tanpa ada yang baca."

"Sip, cek aja tuh tulisan gue."

"Eh, kaki loe kenapa kok berdarah gitu?"

"Nabrak pohon tadi gara-gara si Linggar. Kurang ajar bener, di jalan dikagetin. Senyam-senyum ke gue, kirain perampok motor." Gadis berambut ikal itu menyeringai perih karena lukanya.

"Yaelah si Pasangan tak Terpisahkan. Ayo, diobatin. Gue anter ke klinik kampus."

"Iyadeh. Bopong gueee dooong, Dhe." Stef dengan suara manjanya.

“Ih, najis. Jalan sendiri." Mereka berjalan menuju klinik kampus dengan Stef jalan tertatih dan Dhea membawakan tasnya. Di sepanjang perjalanan, Stef terus mengomel tentang toko es krim yang baru dibuka di dekat rumahnya.

Hujan deras seperti tidak mau berhenti malam ini. Udara dingin merambat di seisi kamar. Stef meringkuk kedinginan dengan selimut tebal menutupi sekujur tubuhnya. Hari ini malam minggu, dan sama sekali tidak ada yang spesial. Kalau ngomong masalah pacar, Stefanie selalu merasa tidak nyaman. Terakhir kali dia pacaran sekitar dua bulan yang lalu, namanya Juno dan si Juno itu selingkuh, merusak keceriaan dan kepercayaan Stef. Namun, Stef selalu bisa bangkit. Dia berpikir hidup udah susah, jangan dibikin susah gara-gara cowo. Saat sedang asik dengan pikirannya sendiri tentang pacar-pacaran, tiba-tiba dia terlonjak setelah mengingat salah satu baris dari status facebook Mario Teguh:
"Bila kita ingin mendapatkan pasangan yang baik, kita harus memantaskan diri kita dahulu untuk menjadi pasangan orang baik."

Dia langsung bangkit dan meraih ponsel di sampingnya. Linggar adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti hal yang baru dia sadari sekarang ini. Mungkin dulu Juno selingkuh karena sifatnya yang kekanak-kanakan. Mungkin hubungannya dengan cowo selama ini selalu gagal dan dia yang dikecewakan karena dirinya belum memantaskan diri untuk menjadi pasangan yang pantas dipuja dan disetiakan. Dia harus merombak diri, HARUS YEAH HARUS. Setelah menjelaskan panjang lebar lewat telpon pada Linggar dengan cara bicaranya yang khas, Linggar justru tertawa.

"Aduuuuh, Stefofo. Kenapa jalan pikiran loe jadi gitu sih? Ha-ha-ha geli gue."

Stef justru kesal Linggar malah tertawa bukan mendukungnya. "Loe harusnya dukung gue dong, Nggar. Malah ketawa! 'Kan juga udah gue bilang berhenti maggil gue Stefofo. Jelek banget namanya."

"Biarin. Stefofo lucu tau kayak badut. Lagian, ngapain loe mau berubah kalo loe udah istimewa dengan sifat loe sekarang? Emang sih ye harus beberapa sifat loe yang diilangin tapi ya ga merubah keseluruhan sifat loe juga kalik. Loe harus apa adanya, mamen. Be yourself kalo kata anak gaul."

"No! I have to change every single part of me. Biar gue dapet pacar yang bener."

"Yah terserah loe, deh. Emang udah ada calon loe buat jadi pacar?"

"Belom sih he-he." Stef nyengir. "Tapi gue bakal nyari, yeah! Udah ya, pulsa gue tekor. Bye bye!" Dia menutup telponnya, berpikir beberapa detik, dan langsung menyalakan laptop. Semalaman dia mencari model fashion dan 'cowo cakep' di internet. Hingga akhirnya dia menyerah soal 'cowo cakep' tapi soal model fashion, dia sudah mendapatkan bejibun tutorial. Karena kelelahan semalaman tidak tidur, esoknya dia bangun kesiangan. Pintu kamar sudah digedo-gedor oleh orangtua Stef berkali-kali tapi dia tetap tertidur pulas. Hingga akhirnya Linggar datang dengan niat meminjam sepatu futsal. Mendengar suara Linggar di depan pintu membuat Stef terbangun. Dia berantakan banget, tapi tetap cuek kalau di depan sahabatnya itu. Dengan jalan terhuyung-huyung, dia membuka pintu kamar dan membiarkan Linggar masuk. Mengomel tentang kenapa Linggar datang tiba-tiba dan langsung masuk kamar mandi di kamarnya dengan wajah yang masih mengantuk Setelah selesai mandi dan kesadarannya sudah pulih seratus persen, Linggar baru mengajak ngobrol.

"Udah? Otak loe udah jernih, 'kan? Tadi gue telpon loe seratus kali tapi ga diangkat.Pinjem sepatu futsal, dong." Linggar sambil mengamati boneka dan pernak-pernik bergambar binatang dan eskrim di setiap sudut kamar Stef yang warna-warni. "Btw, ini kamar anak kuliahan apa anak TK sih?"

"Nih sepatu futsalnya dan jangan cerewet soal kamar gue. Lucu-lucu semua iniii." Stef menyodorkan sepatu futsalnya. Dia sering ikut latihan futsal khusus cewe, justru dia yang lebih punya koleksi sepatu futsal daripada Linggar. Ukuran kaki mereka beda jauh, tapi Stef selalu membeli sepatu futsal kegedean seukuran kaki Linggar ; kebiasaan aneh lainnya yang dia miliki. "Balikinnya jangan lama-lama. Jangan kotor, jangan robek, jangan sampe jebol! Sebagai balas jasa udah gue pinjemin sepatu dan hutang nyawa karena kemaren udah bikin gue celaka, ntar sore temenin gue belanja baju. Oke? Oke sip!"

"Yaelah loe yang tanya, loe yang jawab sendiri. Mau ngapain belanja lagi? Kurang baju loe?"

"Mau belanja baju wanita dewasa nih, mamen, ‘kan gue udah bilang mau merubah diri guee."

"Ogah ah. Ada kencan ntar sore."

"What? Kencan sama siapa? Kok loe nggga cerita ke gue sih? Cukup tau ya. Gue ngga berani belanja sendiri kalo ngga ditemenin, Nggar. Jahat banget sih"

"Rahasia dong. Sana lanjutin tidur jorok loe aja, ngga usah belanja. Gue mau futsal dan ini futsal penting karena gue orang penting." Linggar nyelonong pergi dengan menenteng sepatu futsal, meninggalkan perasaan penasaran berat pada Stef tentang siapa cewe yang sekarang lagi dekat dengannya.

Dua minggu kemudian..

Stef berlari melewati koridor gedung kampus dengan tergesa-gesa. "Gue telat, gue telat, mampus!" Dia berteriak-teriak sendiri, membuat orang-orang yang dilewatinya memandangnya aneh. Setelah perjuangan menuju kampus yang tergesa-gesa karena mampir ke toko buah dulu tadi, dia sampai juga di ruang kelas. Berutunglah dosennya hari ini sedang baik, dia diperbolehkan masuk dengan satu syarat : dia harus melepas bandana kuping Minnie Mouse super besar di kepalanya...Seisi ruang kelas tertawa, tidak terkecuali Dhea yang duduk di samping Stef. Tapi Stef tetap cuek sambil senyam-senyum.

Setelah jam kuliah berakhir, Stef menemui Linggar di parkiran.

"Loe telat tadi, Stefofo?" Linggar dengan santainya duduk di atas motor kesayangannya.

"Iyaaaaa, tadi gue ke toko buah dulu. Mau bikin rujak ntar."

"Tumben loe jadi suka rujak?"

"Iya dong, mengikuti kebiasaan pangeran gue hi-hi."

"Loe udah punya gebetan? Cepet amat. Siapa? Cerita!

"Rahasia dong. Loe punya gebetan aja ngga bilang-bilang gue weeek. Gue mau nemuin dia nih uhh senengnyaaa." Stef langsung menaiki motornya dan melesat pergi setelah menjulurkan lidah pada Linggar, tanda bahwa Stef merasa mereka satu-sama.

"Mau kemana loe? Katanya mau nemenin gue ke rumah tante gue."

"Gue berubah pikiran. Mau kencan aja enak. Lalalala." Teriak Stef dari kejauhan.

Seorang cowo dengan jaket kulit hitam duduk di bagian pojok Threecity Cafe. Kopi moka pesanannya baru saja diantar dan dia menyeruputnya sedikit demi sedikit sambil menunggu seseorang. Sudah hampir limabelas menit dia berada disana dan nampaknya dia semakin tidak sabar. Hingga akhirnya...

"Hai, Alex. Udah nunggu lama?" Stef memanggil dari balik punggung cowo itu dengan suara halus yang dibuat-buat.

"Ngga juga kok. Habis darimana aja?"

"Tadi diajak Linggar ngobrol dulu, jadi lama deh."

"Oh, deket banget ya loe sama dia?"

"Eh, engga. Sahabatan doang kok."

"Masa? Yaudah pesen dulu aja sana. Mau minum apa?"

"Es krim ada ngga?"

"Stefanie, ini kafe kopi bukan toko es krim."

"Cappuccino  aja, iya  cappuccino . Cewe dewasa 'kan minumnya cappuccino, ya 'kan?" Sepanjang obrolan, Stef berusaha sekeras mungkin untuk menjadi seorang yang 'dewasa'. Akhir-akhir ini dia sudah sedikit bisa merubah dan menyingkirkan sifat kekanak-kanakannya, tapi tetap saja itu hal yang sangat sulit. Awal pertemuan Alex dan dirinya cukup konyol sebenarnya. Emm..

Here we go. Seminggu yang lalu, saat Stef sedang menghampiri teman satu Job yang juga aktif menulis artikel di fashion website miliknya, Ariana, yang berada di ruang kesenian. Saat sedang asik mengeluarkan 'jurus memanggil' dengan teriak-teriak, tanpa dia sadari ada tangga menurun di depannya saat itu. Dia mengguling di tengah keramaian. Kecerobohannya sekali lagi membuatnya celaka, dia mengerang kesakitan saat orang-orang di sekitar menolongnya bangun. "Stef, loe ga liat ada tangga?" "Ati-ati dong, Stef." "Eh loe ngga apa-apa 'kan?" "Eh luka ngga?" Begitulah riuh suara di ruangan, dan "BANGUN LOE DASAR LEMOT UDAH GUE TERIAKIN TADI ADA TANGGA DISITU TAPI LOE NYA NGGA DENGER, CEROBOH, BANGUN JANGAN MANJA?!" Kalau kalimat ini kalimat yang langsung dilontarkan Linggar yang ternyata juga ada di ruangan itu. Stef langsung merengek sekencang-kencangnya. "Aaaaa, Mama. Sakit banget badanku, Ma. Mama dimanaa, Ma sakit Ma." Erangnya.

Linggar pun membopongnya ke atas kursi dibantu teman-temannya.

"Udah, jangan kayak anak kecil manggil Mama loe. Mana yang sakit?"

"Semuanyaaa, Nggar, semua badan guee sakit." Jawab Stef sambil menangis.

Tiba-tiba sosok Alex muncul dari kerumunan yang bersimpati atas musibah menggelundungnya Stef dari tangga. Dia langsung memegang Stef dan membopongnya. "Udah gue aja yang bawa ke rumah sakit. Daripada ntar malah keburu mati nih bocah."

"Eh, biar gue aja! Gue!" Teriak Linggar menghalangi Alex.

"Apaan sih, Nggar? Gue aja mumpung lagi mood nolongin orang nih. Lagian loe 'kan pake motor apa bisa bawa dia."

Dengan sedikit kesal, Linggar membiarkan sahabatnya itu dibawa Alex. Sebagai sahabat yang baik, dia merasa gagal melindungi Stef, yah seperti itulah.

Di perjalanan, awalnya Alex hanya diam saja di dalam mobilnya, tanpa berbicara sepatah kata pun. Hingga Stef pun yang dasarnya tidak bisa diam, memulai obrolan dengan rasa terima kasihnya karena Alex mau menolongnya.

"Thanks ya udah mau nolong gue. Btw, nama loe siapa?"

"Iya, ngga masalah. Gue Alex, loe Stefanie 'kan?" Jawab Alex sambil memilih playlist tape mobil.

"Kok tau?"

"Tau lah., di kampus siapa yang ngga tau Stefanie Hutabarang."

Stef langsung tersipu malu, merasa tersanjung tanpa sadar kalau dia terkenal karena sifatnya yang minta ampun. "Oh, masa sih? He-he. Rumah sakit masih jauh?"

"Kita sampe sekitar dua menit lagi."

"Aaa, lama banget. Badan gue udah remuk."

"Iya sebentar lagi. Loe manis banget sih kalo ngrengek."

"Eh?"

"Nomer hape lu berapa? Ketik sini dong." Cetus Alex sambil menyodorkan ponselnya. Daaaan, sejak itulah mereka dekat. Tebak seberapa senangnya Stef, meletup-letup di hatinya, ini semakin memberinya semangat untuk merubah diri. Alex memang kelihatannya tertarik padanya dan ini tulus. Dia mungkin kekanak-kanakan, tapi dia selalu bisa menilai mana yang tulus dan mana yang tidak. Jatuh cinta, itulah yang sedang dia rasakan pada cowo berperawakan tinggi itu. Walaupun, baru beberapa hari mereka berkenalan, dia tetap menyebutnya jatuh cinta. Back to present, mereka berdua yang sedang asik mengobrol di kafe tanpa sadar sudah melewatkan dua jam bersama. Topik yang mereka bahas berpindah-pindah dari masalah kampus, sejarah keluarga Stef, band yang didirikan Alex, dan macam-macam lagi. Hingga akhirnya,

"Um, Stef loe mau jadi pacar gue?" Cetus Alex saat akhirnya mereka berhenti membicarakan sejarah segitiga bermuda. Stef terlonjak dari duduknya, kaget demi langit bumi dan seribu bintang di langit.

"L.. Loe.. Loe serius, Lex? Ki.. kita baru kenal seminggu.. iya seminggu."

"So? Cinta kan memandang waktu perkenalan, Stef Stefanie. Gue tau kita baru ngobrol akhir-akhir ini, tapi gue udah sering merhatiin loe bahkan sebelum gue tau nama loe. Jadi gimana?"

"IYA, IYA GUE MAU BANGET." Nada tinggi Stef seperti menggema di seluruh kafe.

"Serius? Jadi kita pacaran nih?"

"Iyaaaaaaa, Alex hi-hi-hi."

"Ah akhirnya lega gue. Gue pingin loe pertahanin sifat dewasa yang sekarang loe punya ini ya."

"Okay gue bakal merubah diri gue buat elo, yup yup." Stef mencondongkan badannya untuk mencubit pipi Alex. Dia sangat senang hari ini, rasanya seperti hari terbaik dalam hidupnya. Sepulang dari kafe, dia langsung memperkenalkan Alex yang baru satu jam dipacarinya itu pada keluarganya. Too early? I think so.

Beberapa hari setelah itu, di hari ulang tahun kakak tertua Stef, perayaan kecil-kecilan diadakan di rumah mereka dengan mengundang sahabat-sahabat dan teman dekat, tidak terkecuali Linggar yang sudah dianggap bagian dari keluarga. Suasana kekeluargaan sangat terasa di acara malam itu. Hidangan-hidangan spesial ala keluarga Hutabarang disajikan dengan apik. Dekorasinya pun dihias sederhana, namun, terlihat meriah. Stef lah orang yang mendesain ruangan dengan cantik itu. Saat Linggar baru datang, dia dikejutkan oleh Stef yang memakai gaun merah muda di atas lutut dan high heels. Saaaaangat terlihat feminim dan cantik. Linggar seperti tidak suka melihatnya, dia hanya tersenyum dan menyapa sekadar untuk formalitas, lalu segera mengambil tempat duduk di meja super besar di ruang makan.

"Hai, Linggar! Apa kabar?" Sapa kakak tertua Stef, Natalie.

"Natalie. Natalie. Natalie. I'm doing good. What's up with your Australia company?"

"Everything's just awesome.Kantor gue disana nyante banget tapi asik ha-ha."

"Tapi enak di Indonesia kalik. Ngga ribet bahasanya, Nat."

"Yah tergantung persepsi juga sih, pilihan masing-masing, ya 'kan?"

Mereka mulai menikmati hidangan dan mengobrol ringan satu sama lain. Linggar dan Stef sama sekali belum saling berbicara, dan ini mulai membuat Stef rindu pertengkaran dan candaan mereka yang biasanya langsung pecah kapanpun mereka bertemu. Ia memberanikan diri mengajak ngobrol dulu saat acara makan malam sudah selesai dan semua orang di kebun belakang untuk menikmati desert dan acara penutup.

"Nggar, loe marah ya sama gue?"

"Iya." Jawab Linggar sangat ketus.

"Kenapaa? Gue salah apa?"

"Loe jadian sama si Alex Alex itu dan ngga ngomong ke gue sama sekali! Sahabat macam apa! Gue bete, gue tau aja justru dari anak-anak design tadi siang." Kali ini Linggar benar-benar serius dengan perkataannya, Stef tidak pernah melihatnya seperti ini setelah sekian lama. Dia mencoba mengelak.

"Gue pikir nanti nanti aja gue ngasih taunya. Lagian loe aja ngga ngasih tau gebetan loe."

"Oh, jadi ceritanya bales dendam? Ngga lucu."

"Maaf, maaf banget, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf."

"Nggak."

"Please.. Apa yang bisa gue lakuin tanpa elo." Stef mulai menangis. Linggar terkejut dan segera menarik Stef masuk ke dalam rumah dan membawanya ke ruang tengah, menghindari persepsi macam-macam dari seluruh keluarga saat mengetahui Linggar membuat Stef menangis. Dia mendudukkan Stef yang sesenggukan di sofa.

"Masih kayak anak kecil, ya. Katanya udah berubah. Masih aja cengeng."

Stef justru semakin kencang menangis, dia takut kehilangan sahabat terbaiknya itu. Linggar kewalahan menanganinya, walaupun sudah cukup sering menenangkan Stef saat menangis, kali ini berbeda karena dia lah yang membuatnya menangis. Dia mencoba menghalau perhatian orang-orang yang datang malam itu saat mau memasuki rumah agar tidak melihat mereka berdua. Pintu penghubung rumah dan halaman belakang dia kunci dari dalam dan sepertinya itu berhasil. Tidak ada satu orang pun yang masuk ke dalam rumah. Rasa marahnya tiba-tiba luluh saat melihat Stef menangis. "Gue mau tanya sesuatu sama elo. Loe beneran cinta sama Alex?"

"Iya lah. Dia cowo impian gue, cakep, badannya kekar, anak band, dia juga baik sama gue."

"Bukannya kalian baru kenal, ya?"

"Emang, tapi gue udah jatuh cinta banget."

"Dan loe berubah sedrastis ini buat dia?"

"Ngga buat dia juga sih, 99% nya emang buat dia, sisanya karena keinginan gue sendiri."

"Itu sama aja, please."

Stef mulai menangis lagi. "Aaa ngga enak jadi cewe dewasa, ngga enak banget. Gue ngga bisa mampir ke toko es krim di depan gang sono tiap pulang kuliah, gue ngga bisa makan permen lagi, gue ngga bisa beli baju-baju lucu, gue ngga bisa nonton kartun, gue ngga bisa nulis artikel website dengan gaya konyol lagi, gue harus selalu jaim, gue ngga boleh teriak-teriak lagi, gue harus nyingkirin barang-barang kesayangan gue di kamar. Ngga enak bangeeet!"

"Terus kenapa loe merubah diri loe kalo loe sendiri ngga suka? Loe harus jadi diri loe sendiri apapun yang terjadi, ngerti?" Linggar menghapus air mata Stef dengan tisu. Dia malah ikut sedih sendiri.

"Karena gue cinta sama Alex, gue mau berubah untuk orang yang gue cinta. Gue mau nglakuin apa aja karena gue tau dia juga nglakuin hal yang sama ke gue. Gue bilang apapun, si Alex nurut-nurut aja. Ini karena cinta."

"Oh gitu? Loe beneran cinta sama dia?"

"IYA, LINGGAR, IYA."

"Santeee mamen. Gue mau ngomong sesuatu nih yang selama ini udah gue pendam, gue selalu ngga punya keberanian buat ngomongin ini. Jadi mumpung gue lagi pingin ngomong, jadi dengerin!" Linggar bersandar di sofa untuk membuat dirinya nyaman dan mulai memberanikan diri berbicara. Awalnya, kalimatnya tersendat-sendat tapi lama-lama dia menikmati rentetan kalimat yang dia lontarkan. “Stefofo, loe tau ngga sih sebenarnya gue ngga lagi deket sama siapapun. Gue selalu cerita sama loe tentang semuanya, apa yang loe tahu tentang gue itu apa adanya gue. Gue bikin alasan kencan karena gue ngga mau nganterin loe belanja. Bukan karena males, bukan, kali ini bukan karen itu, tapi gue cuman ngga mau loe ngerubah diri loe. Jadi gue sengaja kalo loe ajakin apalah tentang ‘berubah’ itu gue selalu ngeles. Emmm.. gue suka sama loe, Stef. Gue suka gaya lucu loe, semuanya tentang loe, gue pingin loe tetep seperti itu. Konyol banget loe kepikiran buat berubah gara-gara satu kalimat dari status Mario Teguh, sumpah itu konyol banget suer demi apapun. Ditambah loe kenal Alex, loe semakin menggebu-gebu buat berubah. Loe cantik apa adanya. Tapi kalo loe merasa mulai nyaman dengan diri loe sekarang, yaudah tetep kayak gini aja, lagian sifat kekanak-kanakan loe justru lebih sering bikin loe celaka. Gue tau Alex orang baik. Dia temen satu Green Army Project dulu pas semester satu, jadi gue sedikit banyak ya tau dia kayak gimana. Dia jarang punya pacar, tapi sekali punya, bisa bertahan bertahun-tahun. Well, itu melemahkan kesempatan gue, makanya gue marah. ‘Bertahun-tahun’-nya itu loh keburu gue lanjut usia. Tapi kalo loe bener-bener cinta sama dia, fine, sebagai sahabat gue tetep dukung loe. Gue bakalan cari cewe yang lebih cantik dari loe, ngerti?! Yup, lagian diri loe yang lucu itu udah ilang, apa lagi yang gue harapin. Jadi, please, kita tetep sahabatan ya setelah gue ngungkapin ini. Please, otak loe jangan lemot, jangan ambil persepsi berbeda dari omongan gue. Loe kok diem aja sih?”

Linggar menengok untuk memandang Stef yang di sampingnya, berharap ada air mata drama disana tentang bagaimana Stef kagum terhadapnya karena sudah mengambil resiko untuk mengatakan ini, dan ternyata… Stef tertidur. Perasaan gondok bukan kepalang yang dirasakan Linggar. “TUYUL, LOE DARITADI TIDUR? GUE UDAH NGOMONG PANJANG LEBAR MALAH LOE TIDUR? KURANG AJAR BENER. BANGUN!” Di saat itu juga dia kepikiran ke dapur mengambil minyak tanah dan menyiramkan ke badan Stef untuk dibakar hidup-hidup, tapi wait, Linggar bukan pembunuh. Ada kelegaan yang sangat lega dalam diri Linggar, paling tidak, mungkin Stef tidak mendengar apa yang tadi dia katakan dan itu mengurangi potensi membuat dirinya sendiri malu.

Hingga Stef terbangun karena teriakan Linggar. “Gue denger kata-kata loe yang awal-awal, tapi loe nrocos mulu bikin gue ngantuk. Tidur lagi ah, diem, jangan ribut.”

“Loe denger bagian yang...”

“Bagian yang? Tauk deh gue ngantuk.”

“Yaudah lanjutin tidur aja, dasar kebo! Alhamdulillah kalo ga denger ha-ha.”

“Loe suka sama gue. Uggghh, Nggar, pura-pura aja loe ngga ngomong gitu malam ini. Dulu gue juga sempat suka sama loe, tapi ternyata itu perasaan angin lalu aja, yang loe rasain kali ini juga pasti hal yang sama.”

Linggar sendiri kelabakan. “Emang gue ngga ngomong itu, sante kalik,anggep aja  malam ini gue ngga ngomong apa-apa.  Bener, ini pasti kayak perasaan loe dulu ke gue.”

“IYEEE, diem, gue mau lanjut tidur.”

Ada perasaan saling tidak enak antara mereka awalnya, namun, lama-lama seiring Stef yang tidur semakin pulas dan Linggar yang hanya duduk diam disana, suasana kembali larut seperti biasanya. Mereka berdua akan tetap menjadi sahabat dan menjalani kehidupan cinta masing-masing, walaupun sesekali saling mengagumi, tapi persahabatan diatas segalanya. Linggar ikutan mulai ngantuk dan hampir tertidur di sebelah Stef, saat dia mendengar teriakan ayah Stef dari halaman belakang: “INI SIAPA YANG KUNCI PINTU. DI LUAR HUJAN DAN KITA SEMUA BASAH KUYUP!”