Suatu sore, namanya Madlyn

Seperti biasa, aku menghabiskan waktu sore hari ini di sebuah kafe di pusat kota. Kafe yang terletak di lantai paling atas sebuah plasa ini mempunyai dinding kaca di setiap sisinya, sehingga pemandangan kota bisa terlihat dari segala sisi ruangan. Aku sengaja mengambil tempat duduk di samping dinding kaca agar lebih mudah melihat keluar. Melihat pemandangan kota yang penuh kesibukan entah mengapa membuatku lega. Setidaknya aku tahu bukan hanya aku saja kerepotan oleh banyak pekerjaan, tetapi juga kebanyakan orang di luar sana.

Aku menyeruput kopi panasku yang kedua sambil membenarkan posisi duduk. Lagu Bryan Adams mengalun pelan di kafe yang sudah sangat sering aku kunjungi ini. Kapanpun aku merasa butuh menjernihkan pikiran selepas melewati hari yang melelahkan, aku akan datang kemari untuk menikmati kopi panas dan waffle kacang kesukaanku. Aku datang kemari untuk memikirkan banyak hal, dan memang hanya di tempat ini aku dapat berpikir tentang banyak hal.

“Boleh aku duduk disini?” Suara seorang wanita membuyarkan lamunanku. Aku terperangah untuk beberapa detik karena aku sama sekali tidak mengenalnya.

“Tentu.” Balasku sopan.

“Kau pasti bertanya-tanya siapa aku.”

“Kurasa kita belum pernah bertemu sebelumnya.” Aku memperhatikan wanita yang sekarang duduk di depanku. Umurnya sekitar dua puluh lima tahun –beberapa tahun lebih muda dariku. Ia muda, cantik, dan terlihat enerjik. Pakaian formalnya menunjukkan ia orang yang berpunya. Rambut panjangnya diwarnai merah, tapi dandanannya tidak berlebihan.

“Apa kau sedang menghakimiku?” Ia menyela pikiranku.

“Maaf?” Aku ingin ia memperjelas pertanyaannya.

“Menghakimiku dari penampilanku. Itulah yang orang-orang selalu lakukan, bukan?” Ia menjawab, lalu tersenyum simpul. “Namaku Madlyn. Kau?”

“Landon. Landon Stuart.” Aku mengulurkan tangan untuk menjabat tangan wanita di depanku ini. “Apakah kau sedang menunggu seseorang dan butuh orang untuk menemanimu, Madlyn?”

Ia memberi jeda sebentar, lalu berkata tanpa menjawab pertanyaanku. “Lihatlah apartemen yang disana. Ruangan yang jendelanya bertirai merah itu kamarku.” Ia menunjuk bangunan yang tepat berada di seberang plasa tempat kafe ini berada. Telunjuknya mengarah ke sebuah kamar sekitar satu lantai di bawah lantai teratas plasa.

Aku hanya terdiam dan menunggu Madlyn meneruskan ucapannya.

“Setiap sore aku ada di belakang jendela itu. Sepulang kerja, aku mandi, berpakaian dan sedikit berdandan, membuat segelas susu lalu duduk di sofa yang menghadap keluar jendela untuk bersantai. Selama hampir setahun belakangan, semenjak aku pindah ke apartemen itu, aku selalu melihatmu. Aku melihatmu dari bangunan seberang. Tiga sampai empat kali seminggu.”


“Benarkah? Selama ini kau menguntitku?” Aku cukup kaget mendengar apa yang Madlyn baru saja katakan. Ternyata selama ini ia memeperhatikanku.

Ia tertawa. Kedua alisnya terangkat dan tulang pipinya terlihat semakin menonjol saat tertawa. “Aku tidak menguntitmu. Tentu saja tidak. Kau memang biasa datang ke kafe ini, kan?”

“Hmm… Semenjak tiga tahun yang lalu, aku sering datang kesini. Sama sepertimu, aku ingin bersantai di waktu sore. Bedanya, aku minum kopi dan kau minum susu.” Aku menjawab pertanyaannya sambil menenggak kopiku yang sudah tidak panas. “Kau ingin memesan minum?”

“Tidak, terimakasih.” Ia menolak dengan santun.

“Baiklah.” Aku menatapnya lekat-lekat. “Kenapa kau mendatangiku?”

“Aku tidak melihatmu beberapa minggu terakhir. Dan sepulang kerja tadi, aku melihatmu lagi dan memutuskan untuk menyapamu. Bahkan aku belum sempat berganti pakaian.”

“Kenapa kau ingin sekali menyapaku?” Aku penasaran.

“Entahlah. Selama ini kau menjalankan kebiasaanmu dan aku menjalankan kebiasaanku. Karena aku melakukan kebiasaanku, aku jadi melihatmu. Mungkin ini adalah takdir.”

Gantian aku yang tertawa kali ini sambil menggelengkan kepalaku, tanda aku tidak terlalu setuju dengan apa yang baru saja Madlyn katakan.

“Ada yang salah dengan apa yang aku katakan, Landon?”

“Tidak. Tidak ada yang salah.” Aku menggelengkan kepalaku lagi.

“Apakah bagian yang ‘mungkin ini semua adalah takdir’ lucu bagimu?”

“Aku tidak terlalu percaya takdir.”

“Benarkah? Kenapa?”

“Ketika kau mengatakan sesuatu adalah takdir, bagiku sebenarnya itu adalah sebuah kebetulan. Takdir adalah sesuatu yang memang seharusnya terjadi dan tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan karena hal sepele sekalipun.”

“Bedanya dengan kebetulan?” Madlyn terlihat tertarik dengan arah pembicaraan kami.

“Kebetulan adalah sesuatu yang terjadi karena kau melakukan sesuatu yang lain. Kau sering melihatku duduk disini karena kau pindah ke apartemen itu. Hal berbeda akan terjadi jika kau tidak memilih apartemen itu sebagai tempat tinggalmu. Mungkin kau akan melihat orang lain. Jadi semua ini adalah kebetulan. Kau, aku. Beda halnya lagi, kau lahir ke dunia dan berparas cantik, itulah yang dinamakan takdir. Tidak ada yang bisa mengubahnya.”

Madlyn tersenyum sambil memiringkan kepalanya. “Kau baru saja menyebutku cantik.”

“Itu tadi hanya pemberian contoh.” Aku mengelak dengan cepat.

“Bagaimana dengan cinta? Menurutmu, apakah cinta itu takdir atau kebetulan?”

“Aku tidak terlalu percaya cinta.” Sanggahku sembari menyendok waffle yang sedari tadi belum kumakan.

Wanita di depanku itu mengerutkan alisnya karena merasa aneh pada kepribadianku. “Sepertinya kau orang yang tidak percaya pada banyak hal.”

“Aku hanya berusaha untuk realistis. Terkadang kau perlu untuk tidak mempercayai sesuatu, semacam membangun pertahanan diri. Suatu saat seseorang atau sesuatu yang tepat akan datang untuk menghancurkan tembok pertahanan itu.”

“Termasuk cinta?”

“Ya, termasuk cinta.”

“Kukira kau sudah menikah.”

“Nyatanya belum.”

“Padahal setelan jas yang kau pakai itu cukup menarik perhatian wanita metropolitan.”

“Bagaimana bisa?” Aku menyernyitkan dahiku.

“Menandakan bahwa kau seorang yang mapan dan cukup berhasil.”

“Menjadi orang yang berhasil tidak semenyenangkan keliatannya.”

“Memangnya apa pekerjaanmu?”

“Presiden sebuah perusahaan periklanan.”

Madlyn tertegun sejenak. “Dan itu tidak menyenangkan?”

“Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah seorang pemuda yang sangat ambisius. Aku meraih gelar sarjana lebih cepat dari teman-temanku yang lainnya. Aku mendapatkan posisi awal yang menggairahkan di perusahaan periklanan tempat aku bekerja saat ini, dan membuat mereka semua iri. Hanya dalam lima tahun aku mendapat kepercayaan dari pemilik perusahaan untuk memimpin di usia mudaku. Lalu sampailah aku pada posisi yang aku tempati sekarang.”

“Bukankah kau seharusnya bangga?”

“Tentu aku bangga, tapi aku juga bosan. Dulu, yang selalu kupikirkan tentang posisi tertinggi adalah kebahagiaan. Sehingga aku bekerja sangat keras untuk meraih kebahagiaan itu. Mengorbankan kesenanganku yang sesaat dan terus berusaha.”

“Lalu kau bosan?”

“Hal yang kupikir kebahagiaan itu ternyata menjenuhkan. Rutinitas yang sama, keringat yang sama, atmosfir yang sama. Aku mengeluarkan banyak dan mendapat lebih banyak, dan itu membuatku semakin bosan. Sekarang aku terjebak dalam kebahagiaan yang dulunya aku inginkan. Aku tidak bisa mundur, jadi aku semakin maju dan justru mendapatkan lebih banyak posisi penting.”

“Kurasa itulah kenapa kau senang sekali duduk disini, sendirian.”

“Aku lebih suka sendirian saat berpikir. Tiga tahun lalu, aku mulai suka datang ke tempat ini untuk memikirkan banyak hal. Hidup selalu tentang banyak hal yang harus dipikirkan.”

Madlyn bertumpu pada tangan kanannya dan menggigiti jari telunjuknya sambil menatapku. “Kau yakin kau tidak percaya cinta?” Ia kembali pada topik yang belum selesai kami bahas.

Aku menanggapinya dengan senyum kecut. “Rasanya seperti saat kau tidak percaya Santa Klaus.”

“Sewaktu kecil aku percaya Santa. Saat natal, ayahku menaruh beberapa kado di bawah pohon natal dan berkata bahwa kado-kado tersebut dari pria tua berjenggot itu. Tapi suatu ketika, aku memergoki ayahku menata tumpukan kado di tengah malam natal. Semenjak itu kepercayaanku pada Santa hilang.” Madlyn bercerita dengan matanya memandang ke luar jendela.

“Bagiku seperti itulah cinta.” Aku bersandar pada kursi. Lagu Amy Winehouse yang sedang diputar di kafe ini membawaku pada kenangan yang sempat menghilang dari pikiranku. Aku memejamkan mata, mencoba merangkai potongan-potongan kenangan yang dulu sempat aku buat berpencar.

“Langit sore hari ini berwarna lebih merah dari biasanya.” Madlyn masih memandang ke luar jendela.

“Rasanya seperti saat kau tidak percaya Santa Klaus.” Aku tidak menanggapi komentar Madlyn tentang langit sore hari ini. “Kau mempercayai Santa saat kau masih kecil, lalu semakin kau bertambah besar, kepercayaanmu semakin hilang. Hingga akhirnya kau tidak mempercayainya lagi. Tapi kau masih bisa melihatnya di film dan televisi, mendengar kisah-kisah tentangnya, melihat orang-orang berpakaian sepertinya, tapi ia sebenarnya tidak pernah ada. Orang-orang menciptakan Santa agar anak-anak kecil senang. Menciptakan harapan karena anak kecil suka akan harapan. Seperti itulah rasanya bagiku mengenai cinta.”

Madlyn kembali mengarahkan pandangannya padaku. “Selamanya kau tidak akan mencintai seseorang?”

“Aku hanya sedang menunggu seseorang untuk membuatku merubah persepsi ini.” Aku merenggangkan tanganku. Duduk di kursi sekian lama cukup membuatku pegal.

Kulihat Madlyn memutar bola matanya, mencoba memahami logikaku.

“Kau mungkin tidak akan mengerti, karena kau harus melewati apa yang aku alami supaya mengerti.” Jelasku sedikit menenangkan, agar ia tidak perlu repot berpikir.

“Aku suka analogimu. Kau mengesankan.” Jawabnya.

“Itu karena aku yang terlalu banyak bercerita. Kau belum bercerita sebanyak itu sehingga ka belum memberikan kesan yang kuat.”

“Mungkin lain kali.”

“Ya, lain kali saja. Aku mau memesan kopi lagi. Kau benar tidak ingin minum?”

Madlyn menggeleng. Setelah aku melambaikan tangan, seorang pelayan datang ke meja kami. Aku menyebutkan pesananku, kemudian pelayan yang sudah mengenalku itu menyuruhku menunggu lalu menghilang memasuki dapur kafe. Aku kembali mengarahkan perhatianku pada Madlyn yang lagi-lagi memandang ke luar jendela.

“Kau belum mengatakan apa pekerjaanmu.” Aku membuyarkan lamunannya.

“Apa? Oh, pekerjaanku. Aku punya beberapa toko pakaian dan sepatu.”

“Pengusaha, ya? Jangan terlalu berambisi atau kau akan cepat bosan.”

Sebuah senyum mengembang di wajah wanita bermata coklat itu. “Tentu. Terima kasih atas saranmu.”

Kopi pesananku yang ketiga datang. Aku menyeruputnya sambil merasakan aromanya yang kuat. Tanpa kusadari Madlyn memperhatikanku. “Kau tadi bertanya kenapa aku memutuskan untuk menyapamu.” Wanita itu menggigit bibirnya. “Karena aku penasaran denganmu.”

“Penasaran?” Kupikir seharusnya aku yang penasaran dengannya, batinku.

“Selama setahun belakangan, aku melihatmu disini duduk sendirian selama berjam-jam, selalu di meja ini. Bagaimana bisa seseorang tahan duduk tanpa ada yang menemani sebegitu lama? Kau juga sering memasang raut muka seakan kau butuh pertolongan, dan entah kenapa aku ingin menolongmu.”

“Aku tidak butuh pertolonganmu.” Aku mengelak.

“Kau baru saja menegaskan bahwa sebenarnya kau butuh pertolongan. Kisah apa sebenarnya yang kau miliki dibalik tembok pertahananmu itu, Landon?”

Well, terkadang ada hal yang tidak seharusnya diceritakan. Dan orang yang memilikinya hanya akan menunjukkan kisah itu di raut wajahnya saat ia merasa tidak ada yang melihat. Sama seperti yang tadi kau lakukan.”

“Memangnya apa yang kulakukan?” Madlyn melebarkan matanya yang agak sipit.

Aku memainkan cangkir kopi di tanganku. “Tadi, saat aku sedang memesan minuman pada pelayan. Kau memandang kosong ke luar jendela. Aku yakin kau juga punya kisah yang tidak ingin kau ceritakan, yang mungkin cerita yang cukup menyedihkan.”

“Bagaimana kau tahu? Apa karena kau bisa mengenali kesedihan?”

“Bukan, tapi karena aku melihat raut wajahmu saat kau pikir aku tidak melihatmu.” Perkataanku membuat Madlyn sedikit tersentak, lalu ia mengangguk setuju.

“Kurasa aku harus segera pulang. Aku baru ingat aku lupa mengunci pintu apartemen.”

“Tentu. Senang menghabiskan waktu sore hari ini mengobrol denganmu.” Aku mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya. Ia menyambut tanganku, dan kembali menganggukkan kepalanya.

“Kau belum mau pulang?” Tanyanya sambil meraih tasnya dibawah kursi.

“Belum, aku ingin mengerjakan pekerjaanku disini dulu.” Jawabku.

“Baiklah. See you later from the next building, Landon.”

Aku tersenyum sopan. “Tentu. See you, stranger.”

Madlyn bangkit dari duduknya dan berjalan pergi keluar kafe. Aku melihat sosoknya semakin menghilang. Sesaat kemudian, aku mengambil komputer jinjing dari dalam tas, lalu kembali tenggelam dalam kesibukan di kesendirianku. Tanganku mengaduk-aduk gelas kopi yang mulai dingin. Aku bosan. Tidak biasanya aku bosan duduk sendirian seperti ini, tapi kali ini aku merasa sangat bosan.

Aku melempar pandanganku ke luar dan melihat jendela bertirai merah di gedung seberang. Lampu kamar itu dihidupkan dan sebuah siluet terlihat mondar-mandir. Aku terus memandangi jendela itu. Entah kenapa, kali ini aku yang merasa sedang menguntit seseorang. Aku tersenyum simpul. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ia menduduki bangku di depanku dan menemaniku mengobrol. Wanita yang juga memiliki kisah dibalik pertahanannya, sepertiku. Sore hari ini, hari Senin, ia mendatangiku, namanya Madlyn.

Next Part

#2nd : Soreku bersama Madlyn