Asteroid

#1st : Daffodil

"Aku tidak mengerti kenapa beberapa orang senang sekali dengan asteroid. Mereka bahkan tidak ingin melewatkan melihat asteroid melewati bumi. Padahal munculnya beberapa tahun sekali, bahkan puluhan hingga ratusan tahun sekali. Mereka mempelajari, meneliti, dan menunggu asteroid muncul dalam kurun waktu yang tidak sebentar." Kataku menatap langit malam melalui jendela dapurku.

"Kau mulai lagi. Mempermasalahkan sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan."

"Ini masalah bagiku. Maksudku, aku hanya ingin mengerti kenapa beberapa orang senang dengan asteroid dan menganggapnya mengagumkan. Kurasa mereka tidak pernah membayangkan apabila asteroid menabrak bumi. Cahayanya memang indah dari jauh seperti cahaya di ujung lorong gelap. Lalu cahaya itu semakin mendekat, mendekat, mendekat, menabrak dan menghancurkan bumi. Memporak-porandakannya. Mengubahnya menjadi debu dan serpihan. Bukankah itu menakutkan? Kenapa mengagumi dan menunggu sesuatu yang bisa membahayakan kehidupan kita?"

"Bukankah kau juga senang mengagumi dan menunggu? Mengagumi langit malam. Menunggu bintang bersinar terang."

Aku menyesap kopi yang mulai mendingin di tanganku. Tidak ada suara lain yang terdengar. Hanya suara angin yang menerpa wajahku. "Itu berbeda. Langit akan selalu berada disana.Tidak akan jatuh menindih dan menabrak bumi. Tidak bergerak. Tercipta memang untuk dipandang dari kejauhan. Sedangkan bintang memang bergerak di angkasa dan memiliki kemungkinan menabrak bumi. Tapi aku mengagumi cahayanya bukan bintangnya. Itulah kenapa aku 'menunggu bintang bersinar terang'. Aku hanya mengaguminya ketika bersinar."

"Kau hanya mempermasalahkan orang-orang yang mengagumi asteroid. Lalu bagaimana dengan matahari? Tidakkah terpikirkan bagimu betapa berbahanya matahari bagi kehidupan kita? Energi yang ia berikan memang menghidupi kita. Tapi energi itu membunuh kita bila diberikan berlebihan. Bisa membakar hingga tulang dan sendi. Menyebabkan kanker kulit. Mengeringkan laut."

"Kalau begitu, asteroid adalah permasalahanku dan matahari adalah permasalahanmu. Kita tidak perlu mempermasalahkan hal yang sama."

"Tapi apakah kau juga berpikir matahari membahayakan?"

Kedua ujung bibirku membentuk sebuah senyum simpul. "Kenapa kau repot-repot bertanya? Kau pasti juga tahu. Kau kan berada di dalam kepalaku."

Next part

#3rd : Supermoon
#4th : Infinitation