Penekanan

Pernah nonton film 5 CM besutan Rizal Mantovani yang diadaptasi dari buku karya Donny Dhirgantoro? Saya sudah baca bukunya, sudah nonton filmnya berkali-kali, dan belum bosan dengan jalan ceritanya. Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya di dalam jalan cerita 5 CM adalah saat Ian pingsan (dan dikira meninggal) saat tertimpa reruntuhan batu di puncak Mahameru. Normal memang, klise iya, tidak janggal dalam sebuah jalan cerita terdapat sebuah kecelakaan seperti ini. Tapi fokus saya bukan pada saat Ian pingsan tersebut, melainkan pada apa yang Ian lakukan sebelum pingsan. Secara tidak sadar, penulis cerita memberikan penekanan bahwa Ian akan mendapatkan happy-ending.

Pertama, dia berhasil menyelesaikan skripsinya dan dipanggil sidang. Kedua, setelah lulus, dia akan melanjutkan sekolah di Inggris sesuai keinginannya. Ketiga, dia mendapat dukungan hebat dari sahabat-sahabatnya yang selalu menerima fisik, kekurangan, dan sifat-sifat buruknya. Sadar atau tidak, penekanan-penekanan kebahagiaan ini lebih ditonjolkan dibandingkan dengan kebahagiaan yang dimiliki karakter lainnya. Kita diseret pada persepsi bahwa nantinya Ian akan bahagia dengan kehidupannya. Bahkan mungkin lebih bahagia dari karakter lainnya. Ketika kita diseret pada persepsi ini, tiba-tiba dihadapkan pada jalan cerita yang menunjukkan Ian meninggal. Padahal ia baru saja akan meraih kebahagiannya -- walaupun pada akhirnya ternyata Ian hanya pingsan. Saya sendiri terkaget saat melihat scene Ian seakan-akan meninggal tersebut. Rasanya di dalam hati "Loh jangan meninggal dulu. Padahal mau ujian skripsi, mau kuliah di Inggris. Mau seneng-seneng habis ini. Kalo meninggal, hasil perjuangan nulis skripsinya ngga bisa dinikmati."

Nah disinilah salah satu bagian yang menarik dari 5 CM. Penekanan kebahagian yang disematkan pada Ian merupakan tanda akan terjadi sesuatu yang berlawanan dengan kebahagian yang disiratkan. Donny Dhirgantoro, sebagai penulis cerita, entah sadar atau tidak ia memberikan penekanan ini. Apabila disengaja, itu berarti Donny sangat jeli dengan alur cerita dan koneksi perasaan pembaca dan tokoh cerita. Apabila tidak disengaja, itu berarti Donny mengikuti nalurinya sebagai manusia. Penekanan ini sering terjadi di dalam kehidupan semua orang, termasuk saya dan anda. Penekanan yang kita alami adalah tanda atas sesuatu yang berlawanan. Semisalnya, di pagi hari anda bangun dengan perasaan yang sangat bahagia. Memulai aktifitas pagi dengan lancar dan menyenangkan. Hal-hal baik terjadi pada anda. Penekanan kebahagiaan ini anda rasakan hingga sore hari. Lalu malam hari saat anda pulang dari beraktifitas, tiba-tiba mobil anda ditabrak dari belakang oleh pengendara lain. Sepulangnya anda ke rumah pun, anda bertengkar dengan orang rumah karena satu dua alasan. Kemarahan, kesedihan, kekecewaan membuat anda lupa akan kebahagiaan yang anda rasakan tadi pagi hingga sore. 

Tentu hal ini memang sudah seharusnya karena timbangan positif dan negatif itu sama besar. Semisal dalam dua puluh empat jam sehari, anda merasakan dua belas jam dengan positif, maka dua belas jam sisanya akan diisi dengan negatif. Bobot antara positif dan negatif pun harus seimbang. Semisal positif mendapat 500, negatif juga harus mendapat 500. Disinilah kita harus ingat bahwa semakin besar positif yang kita dapatkan, semakin besar pula negatifnya. Semakin besar penekanan positif, semakin besar pula negatif yang akan terjadi. Dan berlaku pula sebaliknya. Timbangan kehidupan selalu adil dan penekanan adalah takarannya.