Supermoon

#1st : Daffodil
#2nd : Asteroid
"Kau akan mempermasalahkannya?"

"Apa maksudmu?" Aku menyeka rambut yang terurai di wajahku karena tertiup angin. "Mempermasalahkan apa?"

"Malam ini sedang ada Supermoon. Lihatlah di langit sana. Bulan terlihat lebih besar dan berwarna lebih merah dari biasanya. Orang-orang pasti sedang membicarakan fenomena ini. Mereka pasti sedang memuja bulan, menyebutnya cantik, mengaguminya."

"Memang cantik. Bulan malam ini memang cantik."

"Kupikir kau akan mempermasalahkan orang-orang yang mengagumi Supermoon, seperti saat kau mempermasalahkan Asteroid."

Aku berpangku pada tangan kananku. Memandang bulan dengan lebih seksama melalui jendela dapurku. "Bulan selalu terlihat cantik setiap hari. Hanya saja hari ini terlihat lebih besar. Aku tidak akan mempermasalahkannya karena aku mengaguminya."

"Ah, jadi kau hanya mempermasalahkan hal yang tidak kau kagumi."

Aku menggelengkan kepalaku. "Bukan begitu. Hentikanlah. Kepalaku terasa penuh karenamu. Kau tidak..." Suara seseorang di belakangku menyelaku. Kulihat Adam memasuki dapur dengan beberapa kantong plastik di kedua tangannya. Ia memberiku pandangan kewalahan.

"Hey, kau tidak mau membantuku? Ini berat sekali." Keluhnya.

Aku tidak menurutinya dan hanya berdiri di samping jendela sambil tertawa kecil. "Kau kan pria. Tentu kuat mengangkat semua itu sendiri."

"Lain kali kau ke supermarket sendiri saja. Aku tidak mau berbelanja untukmu lagi." Celetuk Adam sembari meletakkan kantong-kantong plastik diatas meja makan. "Barusan kau berbicara dengan siapa?"

"Tidak dengan siapa-siapa." Aku berbalik dan kembali memandang ke luar jendela. "Terima kasih sudah berbelanja untukku."

"Aku yakin tadi mendengar kau berbicara. Kebiasaanmu berbicara sendiri muncul lagi?" Adam mengambil kopi instant dari dalam plastik belanjaan. Ia lalu mengisi sebuah panci dengan air dan memasaknya. "Kau mau kopi?"
"Ya, aku mau kopi." Aku tidak menjawab pertanyaan Adam yang pertama.

Mata Adam tertuju pada pot bunga Daffodil yang sudah mati di atas meja makan. "Kau belum membuangnya?" Ia mengangkat kedua alisnya, mengerutkan bibirnya, dan mengarahkan telunjuknya pada Daffodil itu. Ekspresinya selalu seperti itu saat merasa kesal.

Aku tidak menjawab pertanyaan Adam lagi. "Tadi pagi aku bertemu dengan Liam. Kau tahu kan aku tidak pernah benar-benar mengobrol dengannya selama ini? Tapi pagi ini aku mengobrol dengannya. Bukan obrolan panjang yang mengasyikkan atau semacamnya, hanya obrolan singkat."

"Apa yang kalian bicarakan?" Adam berdecak pinggang. Alisnya semakin terangkat, bibirnya semakin mengkerut.

"Aku menghadiri perayaan pembukaan gedung baru di kampus. Liam ternyata juga menghadiri acara itu. Entah dengan kuasa Tuhan yang seindah apa, kami berpapasan. Mata kami saling pandang. Aku berusaha mencari bahan pembicaraan agar suasana tidak canggung. Aku memutar otak untuk menemukan topik pembicaraan. Hingga akhirnya aku berbicara begitu saja tentang langit kemarin malam."

"Karena kau selalu suka langit malam, hanya hal itu pula yang ada di kepalamu. Hmm... Apa hatimu rasanya masih ingin lompat keluar saat memandang matanya?"

Aku tidak menanggapi pertanyaan Adam. "Aku berbicara panjang lebar mengenai langit kemarin malam. Aku juga bercerita mengenai betapa aku suka memandang keluar jendela. Ketika aku selesai bercerita, ia memberikanku senyuman yang membuat jantungku berhenti berdetak beberapa saat. Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat jantungku terasa ingin berhenti berdetak selamanya. Ia berkata bahwa seharusnya aku tahu langit sebenarnya tidak pernah ada. Bahwa langit hanya batas jarak pandang kita terhadap angkasa yang tidak terbatas. Bahwa langit hanya ilusi. Bahwa suka memandang langit itu menghabiskan waktu." Aku menggigit bibirku.

Adam hanya terdiam dan memandangku dengan seksama. "Aku tadi bertanya, apa hatimu rasanya masih ingin lompat keluar?"

"Bunga-bunga Daffodil itu sudah mati, Adam. Tidak akan bisa hidup dan berbunga lagi." Jawabku dengan mataku memandang Daffodil di atas meja makan. Batangnya lunglai dan berwana hitam, daun serta bunganya tidak lagi disana karena telah berguguran.

"Baguslah. Daffodil itu hanya pantas berbunga untuk orang yang menghargai kebiasaanmu memandangi langit malam." Adam berjalan menghampiriku. "Kau baik-baik saja, Anne?"

"Tentu saja. Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?" Aku tertawa dan menepuk bahu Adam yang kini berdiri di sampingku.

Adam memandangiku dengan seksama lagi. "Kau tidak baik-baik saja. Tertulis dengan jelas disana."

"Tertulis dimana?" Kedua bola mataku membesar. "Kau baru saja membacaku lagi? Sudah kubilang jangan pernah membaca perasaanku seperti itu. Jangan membacaku dari gerak alis dan bibirku, serta pandangan mataku. Nilailah aku secara apa adanya. Percayalah dengan apa yang aku katakan padamu. Atau setidaknya, berpura-puralah kau percaya. Berusahalah jangan sampai kau mengetahui apa sebenarnya dibalik perkataanku."

"Aku tidak bisa menahannya." Adam tertawa. Ia berbalik dan menghampiri kompor. Air yang ia masak sudah mendidih. "Aku akan berusaha menahannya lain kali." Katanya sembari menuang air ke dalam dua cangkir kopi.

"Aku benar-benar baik saja. Malam ini sedang ada Supermoon. Jadi aku baik-baik saja."

"Apa hubungannya dengan Supermoon?" Adam menyodorkan cangkir kopi padaku.

"Setidaknya aku tahu langit bukan sekadar ilusi. Dimana bulan akan berada selain di langit? Tidak akan ada bulan apabila tidak ada langit. Kalaupun ternyata langit itu ilusi dan angkasa ternyata tidak terbatas, setidaknya aku tahu tempat bulan berada itu batas pandanganku terhadap angkasa. Kalau bulan bukan batasnya, pasti aku bisa melihat sesuatu yang terletak di belakang bulan. Jadi kesimpulannya, bulan adalah batasnya. Kesimpulannya lagi, tempat bulan berada adalah langit." Aku menoleh ke arah Adam yang berdiri di sebelahku.

Adam menyipitkan matanya ke arahku dan mulutnya mengaga. "Kau barusan berbicara apa?"

Aku terkekeh. "Kadang aku memang sulit dimengerti. Aku pun tidak bisa mengerti diriku sendiri." Aku menyesap kopi di tanganku. "Kau tahu kenapa bulan terlihat lebih besar malam ini? Sepertinya ini memang takdir indah Tuhan yang lainnya."

"Bagaimana bisa?" Adam kembali mengangkat alis dan mengerutkan bibirnya. Sepertinya ia kesal karena tidak mengerti perkataanku.

"Bulan sedang memberikan penekanan bahwa langit memang ada. Bahwa langit berada di tempat bulan berada saat ini. Bulan memberikan penekanan padaku dengan membesarkan ukurannya."

"Kau terkadang sangat sulit dimengerti, Anne. Sangat sulit." Adam memiringkan kepalanya dan mengamati wajahku. Ia sedang berusaha membacaku tapi percuma saja. Yang baru saja aku katakan adalah jujur dan tidak memiliki makna apapun di baliknya. Ia pun menyerah lalu berjalan ke luar dapur. "Aku ingin nonton televisi. Emma Watson menjadi bintang tamu Late Night With Jimmy Fallon malam ini. Maaf tidak bisa menemanimu melihat Supermoon." Ucapnya sambil lalu.

Aku tersenyum kecil melihat tingkah Adam lalu kembali memandang keluar jendela. Membiarkan angin yang berhembus menerpa wajah dan mengurai rambutku.

"Jadi kau mengagumi Supermoon karena menganggapnya penekanan?" Suara asing itu kembali mendengung di dalam kepalaku.

Aku mendesah kesal. "Kau lagi. Kau di kepalaku lagi. Memang kenapa kalau aku menganggapnya penekanan?"

"Bagiku lebih terdengar seperti penyangkalan. Penyangkalan terhadap perkatan Liam tadi pagi. Penyangkalan terhadap ketiadaan langit."

"Mungkin benar. Dan aku menyangkal penyangkalan ini dengan menganggapnya penekanan."

Suara Adam yang berseru di belakangku mengagetkanku. "Kau barusan berbicara sendiri, Anne." Ia melongok dari balik pintu dapur. Yang terlihat hanya kepala dan setengah badannya.

"Aku barusan hanya bernyanyi. Bersenandung tentang indahnya bulan malam ini." Sangkalku. Sepertinya ia menyadari aku berbohong tapi tidak berkomentar apapun. Ia hanya mengangguk dan mulutnya membentuk huruf O.

"Kau tahu, Anne, sepertinya kau perlu membeli bibit bunga Daffodil yang baru. Menanamnya lagi. Merawatnya hingga berbunga."

"Lalu berbunga untuk siapa?"

"Untukku." Celetuk Adam. Sesaat kemudian ia tertawa jahil. "Hanya bercanda. Setidaknya tumbuhkanlah bunga itu untuk dijadikan teman berbicara. Agar kau tidak berbicara sendiri lagi seperti itu."

"Akan kupertimbangkan." Jawabku singkat.

Adam kembali ke ruang tengah untuk menonton televisi. Meninggalkanku sendirian dengan angin menerpa wajahku. Meninggalku sendirian bersama banyak hal yang berlarian di dalam kepalaku. Meninggalkanku sendirian dengan hanya ditemani bulan dan langit malam. Tiba-tiba suara asing itu muncul lagi di kepalaku. "Pertimbangkan saran Adam barusan. Menanam Daffodil lagi mungkin akan membantumu."

"Kupikirkan itu nanti." Kataku sembari menyesap kopi panas di tanganku. "Aku hanya ingin menikmati Supermoon malam ini dengan memikirkan hal-hal yang lalu. Esok pagi saat bulan tidak lagi terlihat, aku akan mulai memikirkan hal-hal yang harus kulakukan selanjutnya."

#4th : Infinitation