Posts

Showing posts from November, 2014

Kaktus dan bunga mawar

Dua orang pemuda sedang berbelanja buah tangan di komplek perbelanjaan sebuah tempat wisata dataran tinggi. Setelah lama berputar-putar, kedua pemuda tersebut sudah cukup banyak berbelanja dan memutuskan untuk segera pulang. Mereka sedang berjalan menuju pintu keluar saat berpapasan dengan seorang nenek tua yang menawarkan dua buah tanaman: tanaman kaktus dan tanaman bunga mawar. Entah kenapa mereka  tertarik untuk membeli tanaman tersebut -- bukan untuk dijadikan oleh-oleh melainkan untuk dirawat sendiri. Pemuda pertama dengan cepat meraih tanaman mawar, sedangkan pemuda kedua mendapatkan tanaman yang tersisa  -- sebuah tanaman kaktus kecil penuh duri. Pemuda pertama dengan senang membawa pulang tanaman bunga mawar sembari mengangung-agungkan kecantikan kelopak bunganya yang berwarna merah merona. Sedangkan pemuda kedua tidak mengatakan apapun. Ia tidak mengeluh karena mendapatkan tanaman kaktus tak berkelopak dan bahkan tidak meminta pemuda pertama untuk bertukar tanam…

Pengagum Lautan

Aku memiliki sebuah keinginan. Keinginan yang entah bagaimana caranya suatu saat harus dipenuhi. Entah bagaimana caranya. Harus. Terpenuhi. Terlaksanakan. Entah bagaimana caranya.

Suatu hari aku ingin berenang di tengah lautan luas sendirian, tanpa pelampung atau alat bantu berenang lainnya. Tanpa ada satu orang pun yang menemani. Hanya aku, lautan beserta isinya, langit, matahari, dan suara angin. Berenang bebas tanpa batasan. Batasan waktu, batasan berupa peraturan, serta batasan-batasan lainnya. Merasakan kebebasan dan ketidakterbatasan di tengah lautan. Mendengar percikan air yang ditimbulkan oleh gerakan tubuh saat mencoba tetap mengapung diatas air. Menikmati cahaya matahari yang menyentuh kulit. Menggenggam air dan merasakannya di telapak tangan. Berenang kesana kemari. Menyapa burung-burung yang terbang diatas kepala dan ikan-ikan yang berenang di bawah kaki. Tanpa batasan serta peraturan apapun. Tanpa siapapun yang perlu repot-repot diajak mengobrol. Menikmati ke…

Cahaya di ujung lorong gelap, matahari terbit, dan langit malam

Teruntuk Cahaya di Ujung Lorong Gelap, Matahari Terbit, dan Langit Malam.
Untuk menghibur diri, orang-orang yang melalui situasi berat seringkali berkata "Selalu ada cahaya di ujung lorong gelap". Bahkan beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang duduk sendirian dan memandang kosong ke arah jalan raya, salah satu teman saya juga mengatakan hal yang sama kepada saya. Teman saya tersebut mengira saya mengalami sesuatu yang berat hanya karena melihat saya melamun. Padahal kenyataannya saya hanya sedang berpikir tentang sesuatu -- ditambah melamun adalah salah satu kebiasaan saya. Bukannya menghibur, peribahasa tersebut justru membuat saya berpikir. 
Lorong gelap apa yang sebenarnya dimaksud peribahasa tersebut? Lorong gelap sebagai perumpaan masalah? Atau lorong gelap sebagai perumpamaan kehidupan? Kalaupun yang dimaksud adalah lorong gelap sebagai perumpamaan masalah, apabila kita bertemu cahaya di ujung lorong, bukankah lebih menakutkan lagi bertemu apa yang ada…