Wishbone

Tanganku pada salah satu dari dua ujung tulang Wishbone dan tanganmu pada ujung kedua. Lalu, kita mengucap rasa dalam kata -- banyak sekali hingga tak terhingga jumlahnya. Tentang impianku pada kita, tentang bergantungnya aku pada cahaya, tentang kau yang kutaruh pada prioritas pertama. Kau juga sama, berbicara tentang ambisimu yang telah kau kejar sejak lama, tentang jarak dan waktu yang memisahkan kita. Hingga pada akhir kata, kau mengungkapkan betapa kau tidak bisa, sungguh tak akan pernah bisa. Aku pun mengerti pada akhirnya. Aku mengerti kita harus berhenti sekarang juga, berhenti berlarian pada tempat yang sama. Kita adalah dua garis lurus dengan ambisi berdampingan namun tak akan bisa bersinggungan sepenuhnya. Kita pun menarik tulang Wishbone di tangan -- yang satu ujungnya di tanganku dan yg satunya lagi di tanganmu, hingga tulang perlambangan harapan itu patah sepatah-patahnya.