Pesawat Kertas

Kau ingin terbang setinggi-tingginya. Menembus awan, menggenggam bintang, memeluk bulan, mengitari matahari. Namun tidak seperti yang lainnya, kau hanya memiliki sebuah pesawat kertas. Saat hujan -- bahkan hanya rintik-rintik sekalipun, pesawatmu akan basah dan layu. Saat angin berhembus -- bahkan angin sepoi-sepoi sekalipun, pesawatmu akan terseret jauh. Saat melewati awan -- bahkan awan tipis sekalipun, pesawatmu akan bertubulensi tinggi. Tidak seperti pesawat yang dimiliki kebanyakan orang, pesawatmu hanya terbuat dari kertas. Rapuh dan tipis. Sungguh sederhana. Namun hanya itu yang kau punya untuk menerjang galaksi. Pesawatmu tidak terbuat dari besi baja atau serat karbon berkualitas tinggi -- yang sehingga mampu menembus langit serta angkasa begitu mudah. Pesawatmu juga tidak dapat berfungsi sebagai roket pelawan gravitasi. Yang kau miliki bukan pesawat semacam itu melainkan hanya sebuah pesawat kertas. Lalu pertanyaannya adalah, apa yang kau lakukan dengan hal ini? Secara tak berujung meratap dan berharap memiliki pesawat yang lebih baik? Tentu sebaiknya tidak, karena hal itu akan menghabiskan waktumu. Terus saja terbang. Terbang tinggi melawan segala ketidakberuntungan. Berbesar hati saat pesawat lain mendahuli atau menghelamu. Karena hanya itu yang bisa kau lakukan. Apabila kau menyerah dan menghentikan mesin pesawatmu yang juga terbuat dari kertas, kau akan jatuh. Bukan jatuh dengan cepat dan mudah seperti benda-benda pada umumnya. Namun jatuh terombang-ambing terbawa angin -- karena sungguh kertas rangka pesawatmu sangat ringan. Tidak ada pilihan lain selain tetap terbang pelan-pelan sembari menikmati gemuruh suara di lapisan atmosfer terluar bumi. Hingga pada suatu waktu kau pun tersadar betapa cepat waktu berlalu dan mendapati dirimu menginjak permukaan bulan.