Posts

Showing posts from July, 2015

Andromeda

Separuhmu akan selalu berada di palung tata surya ingatanku yang terjauh melebihi Andromeda. Tersimpan di dalam kotak mahoni yang kuncinya kubuang di tempat yang tidak bisa aku ingat. Berjejal dengan partikel-partikel pengendali perasaan yang pernah kugunakan untuk menahan segala gejolak rasa padamu.

Aku tidak akan pernah mengembalikan separuhmu itu atau meminjamkannya pun sebentar. Aku telah menguncinya rapat-rapat di dalam kotak ujung palung. Menjadikannya benda museum saat aku ingin menjelajah masa lalu.

Kau boleh saja berlutut memohon agar aku memasangkan kembali separuhmu pada separuh lainnya, namun aku tidak akan bersedia. Anggap saja ini karma yang kau terima karena ceroboh memberikanku yang terpenting dari dirimu dan lalu pergi begitu saja.

Aku menganggap ini investasi. Agar sewaktu-waktu apabila kau membutuhkan separuh dari dirimu, atau saat kau kelelahan berlari mengejar ambisimu, kau akan datang dan meminta saluran energi dari pipa-pipa kecil di urat nadiku.

Namun…

Penaluna Bahagia

Namanya Penaluna. Ia senang sekali melukis. Ia melukis apapun yang ia senangi. Langit, lautan, bulan dan bintang, serta matahari. Yang tersirat di kepalanya ia tumpahkan diatas kanvas, dihidupkan dengan cat minyak berwarna-warni. Yang terasa di hatinya ia seratkan di ujung kuas, dinafaskan dengan guratan seni. Seleranya pun berbeda dibanding kebanyakan lainnya.
Ia lebih senang dengan yang serba grunge dan oldschool calm.
Ia lebih tertarik dengan mayoritas warna putih dan hitam.
Terkadang bentuk lukisannya tak simetris.
Kutipan untuk gambar yang ia sematkan pun kadang tak etis.

Penaluna tetap bahagia,
walaupun seringkali orang yang tidak suka,
bertanya "Itu lukisan macam apa?"
Mungkin bagi beberapa orang lukisannya tak cukup indah,
tak cukup berharga,
tak cukup berarti,
tak cukup merepresentasikan karya seni.
Ah, pun ia tak mengijinkan telinganya untuk mendengar,
dan mulutnya untuk menanggapi.

Penaluna tetap bahagia,
walaupun seringkali orang yang suka,
berkata "Baiknya kamu bu…

Manusia Melankolis

Teori (Sebagaimana disebutkan sang bintang)

Forgotten

Ada hal yang terlalu lama direncanakan, ditinggikan, diimpikan, dan diserukan menjadi terlalu hambar untuk direalisasi. Dipuja begitu lama. Dibungkus kertas kado paling indah. Diikat dengan pita rapih. Disimpan untuk paling akhir dirasakan -- karena konon manusia cenderung menyimpan yang terasa paling enak untuk belakangan. Dikunci dalam lemari kaca paling rapat dengan tempelan kata-kata motivasi pada sisinya. Lalu ditinggalkan untuk mengurus hal-hal kecil lain. Sibuk sekali mengurus hal-hal kecil itu. Sebulan, dua bulan, satu tahun. Belum cukup juga waktu untuk membuat apa yang ada di dalam lemari kaca menjadi nyata. Alasannya macam-macam: aku belum cukup menabung bakat, nanti dulu tunggu waktu, aku masih sibuk dengan ini itu, rasanya aku masih terlalu kecil untuk impian sebesar itu, ini kan juga lagi proses merealisasikan. Banyak sekali alasannya. Dua tahun, tiga tahun, lima tahun. Kini lemari kaca itu sudah tertutupi oleh tumpukan ambisi-ambisi baru. Terlupakan namun menjadi pijaka…