Penaluna Bahagia

Namanya Penaluna. Ia senang sekali melukis.
Ia melukis apapun yang ia senangi.
Langit, lautan, bulan dan bintang, serta matahari.
Yang tersirat di kepalanya ia tumpahkan diatas kanvas,
dihidupkan dengan cat minyak berwarna-warni.
Yang terasa di hatinya ia seratkan di ujung kuas,
dinafaskan dengan guratan seni.
Seleranya pun berbeda dibanding kebanyakan lainnya.
Ia lebih senang dengan yang serba grunge dan oldschool calm.
Ia lebih tertarik dengan mayoritas warna putih dan hitam.
Terkadang bentuk lukisannya tak simetris.
Kutipan untuk gambar yang ia sematkan pun kadang tak etis.

Penaluna tetap bahagia,
walaupun seringkali orang yang tidak suka,
bertanya "Itu lukisan macam apa?"
Mungkin bagi beberapa orang lukisannya tak cukup indah,
tak cukup berharga,
tak cukup berarti,
tak cukup merepresentasikan karya seni.
Ah, pun ia tak mengijinkan telinganya untuk mendengar,
dan mulutnya untuk menanggapi.

Penaluna tetap bahagia,
walaupun seringkali orang yang suka,
berkata "Baiknya kamu buat pameran daripada disimpan."
Mungkin bagi beberapa orang lukisannya sangat indah,
hingga perlu dunia tuk melihat,
hingga perlu semua orang tuk menatap.
Duh, ia tak pernah butuh itu semua.
Ia hanya ingin melampiaskan rasa,
hingga tak perlu untuk tahu yang selain dia.

Penaluna hanya suka berkarya.
Terlepas mungkin lukisannya tak indah,
atau pun terlalu indah.
Yang ia tahu hanya melakukannya.