Teori (Sebagaimana disebutkan sang bintang)

Untuk para penghuni khayangan yang telinganya tak lagi bisa mendengar.

Aku memandang lekat-lekat dua bintang yang duduk di hadapanku. Satunya berwarna merah muda, sedangkan satunya lagi berwarna biru tua. Terang sekali keduanya bersinar bak petinggi negeri khayangan. Aku terduduk tegap, menatap langsung mata mereka secara bergantian. Menunggu diserbu kalimat bertanda-tanya yang mempertanyakan kepantasan.

Sang bintang biru tua yang pertama melontarkan pertanyaan. "Bagaimana Anda bisa yakin bisa melakukan ini semua?"

Aku menjawab cepat. Jawaban yang aku serukan bukanlah sekadar jawaban, melainkan juga kompas yang membantuku yakin atas segala yang aku perjuangkan. "Saya punya 24 jam sehari. Waktu sebanyak itu tentu cukup untuk melakukan banyak hal. Ini dan itu.. banyak sekali. Jadi saya.."

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, sang bintang biru tua itu menyelaku, lalu menghamburku dengan pernyataan mengejek.

"Tidak, tidak benar itu. Manusia tidak bisa melakukan hal sebanyak itu dalam sehari. Kita tetap perlu makan, tidur, rekreasi, dan masih banyak lagi. Tidak benar. Benar-benar tidak benar teori kamu itu." Ucapnya dengan tangan yang melambai ke arah wajahku, menandakan tidak setuju.

Aku hanya terdiam, tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan. Menjawab ketidaksetujuan hanya akan memulai perdebatan. Aku tidak suka perdebatan, terlebih dengan bintang penghuni negeri khayangan, jadi aku memilih diam.

Sang bintang merah muda hanya tertawa. Entah menertawaiku atau menertawai kelakuan rekannya yang suka menjatuhkan.

Selanjutnya kedua bintang negeri khayangan itu menghamburku dengan pertanyaan secara bergantian. Namun aku tak lagi ingin menjawab dengan kesungguhan. Karena lebih sering ketika aku menjawab, pernyataanku disela dan dijatuhkan. Aku pun menjawab sesederhana mungkin. Cari aman.

Setelah sesi tanya dan jawab itu selesai, aku segera keluar dari ruangan, lalu mulai bertanya-tanya.

Kenapa beberapa orang senang sekali saling menjatuhkan. Kepercayaan setiap orang terhadap teori tentang bagaimana menjalani hidup tentu berbeda-beda, dan kepercayaan itu mungkinlah tidak selalu benar bagi setiap orang -- terutama bagi orang-orang pintar, namun ia penopang langkah kaki pemercayanya. Kepercayaan itu pun tidak menyakiti siapapun, jadi mengapa dipermasalahkan.

Sungguh sangat tidak bijaksana apabila seseorang menjatuhkan orang lain untuk membuat dirinya tampak besar. Mematahkan pernyataan orang lain untuk membuat suaranya terdengar hingga ke sudut ruangan.

Mengecilkan orang lain tidaklah membuatmu menjadi paduka penghuni negeri khayangan, melainkan hanya pematah mimpi dan kepercayaan.

Teruntukmu yang masih bisa mendengar, semoga kau sadar.

Teruntukmu yang tak lagi bisa mendengar, semoga kedamaian menyertai setiap langkah kakimu.