Posts

Showing posts from December, 2015

Neocortex

#1st : Daffodil #2nd : Asteroid #3rd : Supermoon #4th : Infinitation “Kita sudah disini dua jam. Mau berapa lama lagi?” Gerutu Adam yang sejak tadi duduk di sampingku tanpa beranjak. Menemani gadis berambut merah ini menyeratkan kuas kecilnya di selembar Canson 200 gram. Tidak kujawab dan tidak kuambil pusing. Sesebal apapun ia berlama-lama menunggu, tidak akan ia beranjak dan pergi. Karena masih butuh aku sebagai kartu-diskon-berbentuk-manusia guna mendapat potongan harga di Cupcake Shop. Kami akan mengunjungi resto cupcake itu sore ini. Berhubung aku kenal baik dengan Dolores, pemiliknya, tentu potongan harga menyapa di pintu masuk resto. “Seharusnya kau menggunakan underpaintingsaja. Agar cepat selesai.” Adam menggerutu yang entah sudah keberapa. Aku menertawakannya. “Tahu apa kau tentang teknik melukis? Underpainting? Maaf, aku bukan pemula.” Pandanganku bolak-balik dari bangunan Brooklyn Public Library ke kertas di pangkuan, dan sebaliknya. Konsentrasiku tidak dapat diganggu gugat.…

1214

Aku tidak benar-benar yakin kepada siapa aku menuliskan ini, karena begitu banyak bintang yang aku tunjuk untuk digenggam. Tapi sudahlah, kutujukan saja untuk semuanya toh siapa tahu yang paling terang membaca. Hey, yang paling terang diantara begitu banyak gugusan. Aku tidak yakin kau mengerti apa yang sebenarnya kumaksudkan, tapi tak mengapa. Suatu saat kau akan balik menunjukku untuk kau genggam. Suatu hari kau juga akan merasakan perasaan ini, jadi anggap saja kau sedang membaca refleksi perasaanmu di masa depan. Ketika nanti kau menunjukku, aku hanyalah benda angkasa biasa yang terombang-ambing di sebuah galaksi sarat cahaya. Namun dimatamu aku adalah satu-satunya matahari yang mahadaya. Kau silau oleh cahaya yang kupancarkan, dan kemudian memilihku untuk menerangi gelapmu. Kupastikan itu, kau akan tertarik gravitasiku. Walaupun matahari tak benar-benar punya gravitasi, itulah semu yang kau ciptakan di kepalamu tentangku. Kemudian kau akan membangun persinggahan berm…

Infinitation

#1st : Daffodil // #2nd : Asteroid // #3rd : Supermoon Aku memandang wajah pria dihadapanku dengan seksama. Memperhatikan ia mengerutkan dahi, mengangkat alis, memutar kedua bola mata, dan menarik kedua ujung bibirnya. Mengagumi lesung pipi yang terungkai di wajahnya saat tersenyum. Memuja caranya mengedipkan mata saat berbicara. Memandangnya seakan-akan seperti aku akan segera memakannya. Aku tidak peduli dengan hal lain yang ada di sekitarku saat ini. Yang kutahu adalah ia duduk di hadapanku. Kami berada pada ruang yang sama -- ruang kafetaria kampus yang penuh orang, namun kami duduk berdua bagaikan bumi tak lagi berpenghuni selain kami. Kami berbagi oksigen yang sama. Untuk pertama kalinya aku bisa menghabiskan waktu berdua dengannya walau hanya duduk berhadapan tanpa kata. “Apa kau percaya pada ketidakterbatasan?” Tanyaku memecah keheningan. Beruntung aku sudah mampu mengendalikan kegugupanku saat berbicara di depannya. Liam meletakkan botol air mineral yang ia mainkan di tangan la…

Peri Penaruh Harapan

"Banyak harapan hari ini?" Esperanza menyambut Vona dengan tatapan liar tak terkendali. Ia selalu bersemangat secara berlebihan saat menanyai para Peri Penaruh Harapan tentang berapa banyak harapan yang mereka sebarkan tiap hari. Seperti tak kenal lelah -- yang mungkin karena faktor tuntutan pekerjaannya sebagai Peri Penanya Harapan, Ia melontarkan pertanyaan yang sama pada ratusan Penaruh Harapan selama dua puluh empat jam sehari. Vona, salah satu Peri Penaruh Harapan yang masih baru dalam pekerjaan taruh-menaruh harapan, menjawab dengan nada bicara yang sengaja dipelankan. "Tidak banyak," Ia memberi jeda sebentar. "Mungkin karena Manusia-ku baru saja mengalami kegagalan." "Kegagalan yang sangat besar?" "Tidak juga. Kegagalan yang cukup membuatnya menyerah. Ia juga sering kali berpikir hal-hal buruk tentang dirinya sendiri," Vona mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat -- yang biasa dia lakukan jika sedang gelisah. …

Daniel

Patahan Pertama : AdamDaniel orang pertama yang menyapaku di sekolah setelah kepindahanku dari Indonesia ke Brooklyn.Ia kemudian mengenalkanku pada si gila Demian, si centil Stacy, dan si bad boy Bruno. Hingga akhirnya kami berempat merangkai cerita persahabatan masa SMA paling hebat sepanjang masa -- setidaknya itu menurut kami.
Ia memang selalu seperti itu. Daniel, ia selalu menjadi yang pertama memulai segala hal. Pada hari itu ia yang pertama menyapaku dan menyeretku masuk dalam adonan persahabatan tiada bandingan. Pada ujian kalkulus pertamaku, ia orang pertama dan satu-satunya yang melemparkan padaku kertas berisi bocoran jawaban. Ketika menyebut namanya, terlalu banyak kata ‘pertama’ sebagai personal branding yang menyanding. Namun sayang, sungguh sayang sekali, ia melewatkan untuk menjadi yang pertama mengambil hatiku.
Andaikan pada musim semi itu ia menyadari perasaannya lebih awal. Seandainya ia mengajakku ke pesta Halloween sebagai teman kencan -- bukan sebagai teman hang out…

Adam

Setiap di tengah kerumunan pesta, aku senang memandangi Adam dari tempat dudukku selagi ia berbincang dengan koleganya. Di tempat yang seramai itu hanya dia yang mampu menarik perhatianku. Untaian senyumnya, mata bulan sabitnya saat tertawa, gerakan tubuhnya selagi berbicara. Ketika ia berbicara padaku, sorot matanya terasa meluluhkan dengan nada bicara lembut penuh kehangatan. Ketika ia mendengarkanku berbicara, kepalanya menunduk untuk menangkap pandanganku, alisnya mengkerut tanda mendengar dengan seksama, dan tak pernah menyela sebelum aku selesai berbicara. Satu hal darinya yang membuatku jatuh cinta, ia selalu menepati perkataan dan senang sekali melakukan hal-hal spontan. Sering saat kami memiliki janji pergi keluar, bahkan sebelum aku menanyakan pukul berapa ia akan menjemputku, ia sudah berdiri di depan pintu. Ketika ia memiliki kesibukan di kantor, entah rapat atau mengerjakan dokumen bertenggat waktu, ia selalu menyempatkan waktu untuk menelpon guna memberi kabar.  Di musim di…