Adam

Setiap di tengah kerumunan pesta, aku senang memandangi Adam dari tempat dudukku selagi ia berbincang dengan koleganya. Di tempat yang seramai itu hanya dia yang mampu menarik perhatianku. Untaian senyumnya, mata bulan sabitnya saat tertawa, gerakan tubuhnya selagi berbicara.
 
Ketika ia berbicara padaku, sorot matanya terasa meluluhkan dengan nada bicara lembut penuh kehangatan. Ketika ia mendengarkanku berbicara, kepalanya menunduk untuk menangkap pandanganku, alisnya mengkerut tanda mendengar dengan seksama, dan tak pernah menyela sebelum aku selesai berbicara.
 
Satu hal darinya yang membuatku jatuh cinta, ia selalu menepati perkataan dan senang sekali melakukan hal-hal spontan. Sering saat kami memiliki janji pergi keluar, bahkan sebelum aku menanyakan pukul berapa ia akan menjemputku, ia sudah berdiri di depan pintu. Ketika ia memiliki kesibukan di kantor, entah rapat atau mengerjakan dokumen bertenggat waktu, ia selalu menyempatkan waktu untuk menelpon guna memberi kabar. 
 
Di musim dingin, kami berdua lebih senang menghabiskan waktu di depan perapian. Mendengarkan lagu The Lumineers sambil berbincang tentang banyak hal. Aku senang sekali bercerita tentang masa rejamaku saat bergabung di geng motor. Melihat balapan setiap malam akhir pekan dan menghabiskan waktu di bengkel melihat teman-temanku memodifikasi kendaraan. Cerita ini sudah aku ulang berkali-kali, namun Adam tetap mendengarkan dengan seksama sambil sekali-kali berkata “Kau belum pernah menyebutkan bagian itu. Terdengar baru.” Ia senang bercerita tentang keinginannya untuk mempunyai rumah di Minnesota -- kampung halamannya yang terakhir kali ia kunjungi di umur sepuluh tahun. Ia ingin rumah itu berada di tepi danau dengan jendela depan yang besar dan ruang luas untuk anak-anak berlarian. Katanya, ia ingin berhari tua di tempat yang tenang semacam itu, bukan di keramaian kota seperti ini. 
 
Aku bisa menghitung berapa kali setahun aku tidak menghabiskan waktu bersamanya -- dalam arti lain, aku selalu bersamanya. Seperti yang kubilang, ia selalu menepati janji tak peduli berapa banyak pekerjaan yang menunggu. Aku tidak pernah menuntutnya untuk melakukan itu semua. Memang begitulah Adam. Selalu mencintaiku. 
 
Dua bulan lalu, di sebuah pertemuan keluarga besarnya, Adam tiba-tiba berteriak meminta perhatian semua orang sambil menarikku ke ruang tengah. Ia lalu berlutut di hadapanku, mengeluarkan kotak berwarna merah berisikan cincin bermatakan permata, dan berkata padaku “Aku ingin memiliki rumah di Minnesota itu denganmu.” Aku dengan bercucur air mata, mengangguk dan memeluknya, selagi seisi rumah beriuh bahagia.
 
Dua minggu sebelum hari besar, semua persiapan sudah 75% selesai. Gaunku pun sudah menggantung di kamar. Aku yang mengurus semua persiapan karena Adam sedang ada konferensi di Meksiko selama seminggu. Dua kali sehari ia menelpon untuk memastikan semuanya berjalan lancar, untuk bertanya apa semua baik-baik saja. Di setiap telponnya ia meminta maaf karena meninggalkanku dengan persiapan besar ini. Aku hanya menjawab tak apa, apa pun itu aku akan mengerti, karena ia pun telah banyak mengertiku selama ini.
 
Sore itu seminggu sebelum hari besar, aku sedang bersantai di teras rumah ketika telponku berdering. Sekali lagi Adam memberiku kejutan. Kejutan yang sungguh besar dan membuatku merasa langit terasa telah jatuh hingga aku merasa tak ada lagi tumpuan.
 
Hari ini aku mengucapkan selamat tinggal kepada Adam. Aku berdiri di pusaranya dengan buket bunga di genggaman tangan. Delapan tahun waktuku bersama pria penuh spontanitas itu telah berhenti berdentang. Rumah impian di Minnesota tak lagi ingin kubicarakan. Orang yang ingin aku ceritakan tentang kepergiannya, adalah ia sendiri. Sungguh, saat ini yang aku nginkan adalah Adam untuk menanyakanku apakah semua baik-baik saja. 

Patahan kedua : Daniel