Daniel

Patahan Pertama : Adam
Daniel orang pertama yang menyapaku di sekolah setelah kepindahanku dari Indonesia ke Brooklyn.  Ia kemudian mengenalkanku pada si gila Demian, si centil Stacy, dan si bad boy Bruno. Hingga akhirnya kami berempat merangkai cerita persahabatan masa SMA paling hebat sepanjang masa -- setidaknya itu menurut kami.

Ia memang selalu seperti itu. Daniel, ia selalu menjadi yang pertama memulai segala hal. Pada hari itu ia yang pertama menyapaku dan menyeretku masuk dalam adonan persahabatan tiada bandingan. Pada ujian kalkulus pertamaku, ia orang pertama dan satu-satunya yang melemparkan padaku kertas berisi bocoran jawaban. Ketika menyebut namanya, terlalu banyak kata ‘pertama’ sebagai personal branding yang menyanding. Namun sayang, sungguh sayang sekali, ia melewatkan untuk menjadi yang pertama mengambil hatiku.

Andaikan pada musim semi itu ia menyadari perasaannya lebih awal. Seandainya ia mengajakku ke pesta Halloween sebagai teman kencan -- bukan sebagai teman hang out, mungkin keesokan harinya, aku akan menolak saat Adam menyapaku di ruang loker dan mengajakku movie-dating menonton I Am Legend.

Aku selalu merasa nyaman berada di sampingnya. Ia senang mendengarkan ocehanku tentang betapa besar kekagumanku terhadap angkasa, dengan sabar meladeni pertanyaan tak berjawaban tentang kehidupan dibawah kaki yang aku lontarkan. Saat tiba-tiba aku menghilang di kerumunan konser yang kami hadiri, ia akan sekuat tenaga membuka jalan di tengah kerumunan seraya menarikku ke tempat aman. Dengan penuh semangat, ia akan memutar kemudi menuju McDonnald’s sesuai permintaanku, saat teman-teman lain meneriakkan Greezza untuk makan malam. Pernah suatu kali aku terkunci di dalam kamarku selama 12 jam (aku ceroboh mendirus kunci ke dalam kloset padahal tak berduplikat). Daniel menungguiku di luar kamar tanpa beranjak, guna memastikan aku tidak mati kehabisan oksigen di kamar asrama yang pengap.

Hanya kepada satu orang ia mau melakukan itu semua.. kepadaku. Tak pernah ia melakukan satu hal pun yang telah kusebutkan tadi pada Stacy, dan melakukan hanya satu atau dua saja pada mantan-mantan pacarnya. Begitulah Daniel. Terlalu memendam rasa padaku yang telah menambatkan hati pada seorang pecandu kejutan bernama Adam.

Tepat pada hari ke-95 kepergian Adam, aku mengalami fatal breakdown. Seharian aku tidak keluar dari rumah. Tidak mengaktifkan ponsel. Tidak menyalakan satu pun alat elektronik di rumah. Hanya terus-terusan menangis di tempat tidur, menghilang tanpa kabar. Lalu pada pukul enam sore, Daniel mendobrak masuk lewat pintu belakang, menyapaku lembut di depan pintu kamar, menghamburkan dirinya masuk, duduk di tepi ranjang seraya berkata ‘Tak apa, aku disini. Aku akan selalu disini’. Detik itu juga memeluknya, menyerahkan segala kerapuhanku untuk diayomi.

Kini satu tahun sudah aku bersamanya. Pergi menonton bioskop dan makan malam di Uncle Sam’s setiap akhir pekan. Melawan semua sindiran miring tentang betapa cepat seorang perempuan menemukan pendamping setelah tunangannya baru saja ditidurkan di pusara. Mereka tak akan mengerti. Bila tak ada Daniel di sisiku, aku takkan berada disini sekarang.

Hampir setiap malam aku terbangun. Hanya terbangun. Tanpa mimpi buruk. Lalu semua kenangan selama delapan tahun akan muncul bergantian, menampilkan diri layaknya slide presentasi. Kemudian aku akan menangis tanpa henti. Terkadang, agar Daniel tidak mendengar tangisanku, aku akan pindah tidur di sofa ruang tengah rumahnya, menangis hingga tertidur. Keesokan paginya, aku terbangun dengan bantal di bawah kepala dan selimut yang tanpa kusadari menghangatkanku semalaman, sementara Daniel di dapur memasak sarapan.

Tak pernah bisa masuk akalku. Aku menjalin hubungan dengannya saat hati ini telah dimiliki. Terkadang aku merasa tubuhku berada disisinya, sedangkan jiwaku terbang ke padang pasir tempat berkumpulnya orang-orang tak lagi berhati. Keras aku berusaha menjelaskan sebenarnya perasaan apa yang aku miliki untuknya, perasaan yang butuh pelampiasan kah, yang butuh penghibur kah. Perasaan tak terjelaskanku terhadap Daniel berputar-putar di tempat yang sama dari waktu ke waktu. Namun, satu hal yang bisa kujelaskan pasti, ia telah menyelamatkanku.