Infinitation

 
Aku memandang wajah pria dihadapanku dengan seksama. Memperhatikan ia mengerutkan dahi, mengangkat alis, memutar kedua bola mata, dan menarik kedua ujung bibirnya. Mengagumi lesung pipi yang terungkai di wajahnya saat tersenyum. Memuja caranya mengedipkan mata saat berbicara. Memandangnya seakan-akan seperti aku akan segera memakannya. Aku tidak peduli dengan hal lain yang ada di sekitarku saat ini. Yang kutahu adalah ia duduk di hadapanku. Kami berada pada ruang yang sama -- ruang kafetaria kampus yang penuh orang, namun kami duduk berdua bagaikan bumi tak lagi berpenghuni selain kami. Kami berbagi oksigen yang sama. Untuk pertama kalinya aku bisa menghabiskan waktu berdua dengannya walau hanya duduk berhadapan tanpa kata.
 
“Apa kau percaya pada ketidakterbatasan?” Tanyaku memecah keheningan. Beruntung aku sudah mampu mengendalikan kegugupanku saat berbicara di depannya.
 
Liam meletakkan botol air mineral yang ia mainkan di tangan lalu menjawabku dengan dahi mengkerut. “Ketidakterbatasan dalam konteks apa maksudmu?”
 
“Apapun. Maksudku, apa kau percaya bahwa segala sesuatu memiliki batasan? Kita tidak bisa mengatakan bahwa hanya beberapa hal saja yang memiliki batasan sedangkan beberapa lainnya tidak.”
 
“Kurasa beberapa hal memang membawa batasannya sendiri saat pertama kali tercipta.”
 
“Bukankah kita harus memilih salah satu antara keterbatasan atau ketidakterbatasan untuk disematkan pada segala hal? Kalau segala sesuatu tidak terbatas, berarti tidak ada yang terbatas didunia ini. Semua itu disematkan, bukan dibawa sejak awal.”
 
“Penyematan dengan sistem pukul rata maksudmu? Bagaimana bisa kita memastikan ketidakterbatasan dan keterbatasan sesuatu hanya dengan menghakimi satu hal itu saja sementara setiap hal memiliki karakter yang berbeda?”
 
Aku menghela nafas. Aku mengagumi segala hal tentang Liam. Wajahnya, suaranya, pemikirannya. Karena satu hal saja yang membuatku berharap tidak pernah mengaguminya: ia sering mematahkan apa yang aku katakan. Ia memiliki sifat yang sama sepertiku. Kami sama-sama batu dan senang mematahkan sesuatu. Mengetahui kenyataan ini sering membuatku tidak nyaman. Aku tahu kami akan sering tidak sejalan.
 
“Kau lahir ke dunia ini dengan batasan. Saat kau meninggal, itulah batasan akhir hidupmu. Batasan itu kau bawa sejak detik pertama kau menghirup oksigen di bumi.” Lanjut Liam. Ia kembali memainkan botol air mineral di tangannya.
 
“Misalkan saja angkasa. Kita tidak pernah tau sejauh mana batas angkasa sebenarnya karena kita tidak mampu meraihnya. Angkasa sangat luas hingga butuh ratusan tahun untuk menyusurinya. Kesanggupan manusia tidak mampu melakukan hal tersebut.” Balasku mencoba mengukuhkan pemikiranku.
 
Liam mengalihkan padangannya ke arah pintu masuk kafetaria, sorot matanya mencari-cari sesuatu yang seujung jari pun belum menampakkan diri. Ia menjawab tanpa memandangku. “Kau tidak seharusnya menjadikan ketidakterbatasan angkasa sebagai patokan atas ketidakterbatasan yang ada di bumi.” Ia kembali memandangku dan memiringkan kepalanya. “Sepertinya kau sering mempermasalahkan hal yang tidak perlu dipermasalahkan.”
 
“Ketidakterbatasan adalah penting bagiku.” Sahutku cepat.
 
“Kau mempermasalahkan yang tidak perlu dipermasalahkan. Membuang waktu.”
 
Aku tersenyum kecut, teringat perayaan pembukaan gedung baru sebulan lalu saat Liam mengatakan hal yang sama tentang kebiasaanku memandang langit malam.
 
“Keterbatasan hanya dimiliki oleh manusia karena kemampuannya yang terbatas. Manusia mengatakan sesuatu itu terbatas karena memang sampai itulah batas terjauh kemampuannya meneliti. Mereka hanya belum mampu melampaui ketidakterbatasan. Oleh karena itu muncul penyematan terbatas.” Jelasku tentang apa yang aku yakini.
 
“Segala sesuatu tercipta dengan keterbatasannya. Kau tidak bisa menyalahkan manusia karena tidak mampu mencapainya.”
 
“Kalau begitu yang terbatas adalah manusianya bukan bendanya. Aku percaya segala hal di dunia ini tidakterbatas, kecuali manusia, seperti angkasa.”
 
“Terserahlah. Aku tidak bisa mengerti pemikiranmu.” Liam setengah tersenyum padaku dengan tangan yang masih memainkan botol air mineral.
 
Itu karena kau tidak ingin mengerti. Batinku.
 
Kembali ia melemparkan pandangannya ke arah pintu masuk kafetaria. Ia terlihat sedang menunggu sesuatu (atau seseorang) tapi aku tidak tahu apa (atau siapa). Aku tidak tahu dan tidak akan bertanya. Dalam hati aku sedikit (hanya sedikit) tertawa. Begitulah rasanya menunggu, kau tahu kan rasanya sekarang, tidak enak kan. Sorot matamu tak sabar, aku bisa melihatnya. Rasakanlah itu -- yang tak sepersen pun menyamai rasanya menantimu.
 
Sementara matanya bergelora tak sabar, aku memperhatikan wajahnya yang bercahaya bak Supermoon. Wajah yang kupuja hampir selama enam tahun – semenjak SMA tahun kedua. Wajah yang membuatku memutuskan untuk mengikutinya kuliah di universitas ini. Wajah yang selalu tahu bahwa aku menyukainya tapi tidak pernah memberikan sedikitpun tanggapan. Aku akan selalu mempertahankan perasaan ini walaupun berkali-kali ia membuatku tersenyum kecut, walaupun berkali-kali aku dipatahkan. Walaupun berkali-kali ia memberikan tanda padaku untuk mundur. Perasaanku padanya adalah sebuah ketidakterbatasan. Walaupun ia sungguh percaya pada keterbatasan.