Neocortex

#1st : Daffodil 
#2nd : Asteroid 
#3rd : Supermoon 
#4th : Infinitation
 
“Kita sudah disini dua jam. Mau berapa lama lagi?” Gerutu Adam yang sejak tadi duduk di sampingku tanpa beranjak. Menemani gadis berambut merah ini menyeratkan kuas kecilnya di selembar Canson 200 gram.
 
Tidak kujawab dan tidak kuambil pusing. Sesebal apapun ia berlama-lama menunggu, tidak akan ia beranjak dan pergi. Karena masih butuh aku sebagai kartu-diskon-berbentuk-manusia guna mendapat potongan harga di Cupcake Shop. Kami akan mengunjungi resto cupcake itu sore ini. Berhubung aku kenal baik dengan Dolores, pemiliknya, tentu potongan harga menyapa di pintu masuk resto.
 
“Seharusnya kau menggunakan underpainting saja. Agar cepat selesai.” Adam menggerutu yang entah sudah keberapa.
 
Aku menertawakannya. “Tahu apa kau tentang teknik melukis? Underpainting? Maaf, aku bukan pemula.”
 
Pandanganku bolak-balik dari bangunan Brooklyn Public Library ke kertas di pangkuan, dan sebaliknya. Konsentrasiku tidak dapat diganggu gugat. Bahkan Adam yang daritadi merengek pun tak kulayangkan pandangan barang sedikit padanya.
 
Ini adalah kebiasaanku. Melukis apa yang ada di ruang terbuka on the spot. Dengan buku gambar kusut karena terlalu banyak dibuka, ditutup, dan diremas. Terkadang aku ke McKinley Park untuk mengabadikan manusia dan apa saja yang sedang mereka lakukan disana. Terkadang ke Prospect Park Zoo untuk menumpahkan interaksi antara binatang-binatang atau binatang-manusia ke dalam coretan cat air. Lebih sering aku ke tempat-tempat spontan yang menarik perhatian.
 
Hari ini, aku sedang ingin melukis bangunan perpustakaan kota dengan pintunya yang sangat megah. Besar berwarna hitam dan emas dengan ukiran ala Mesir di permukaan. Biasanya aku pergi berburu sendiri. Namun, hari ini rupanya ada yang ingin ikut makan cupcake dengan potongan harga.
 
“Anne?”
 
“Hmm?”
 
“Kenapa tidak kau kirimkan lukisan-lukisanmu itu ke majalah macam Art Hive? Agar dipublish sehingga dunia melihat. Agar tak hanya menumpuk di rak buku samping televisi. Agar tak sekadar menempel tanpa arti di dinding sepanjang dapurmu. Agar bisa dilihat dan dikagumi.”
 
Untuk pertama kalinya dalam dua jam ini Adam berkata tanpa menggerutu -- dan pertanyaannya terdengar serius. Aku menjawab tanpa mengalihkan pandangan. “Siapa bilang tanpa arti? Mereka disana menemani bunga daffodil-ku diatas meja.”
 
“Bunga yang sudah layu.” Jawabnya cepat.
 
Tidak kutanggapi perkataannya barusan. “Lagipula kalau dunia sudah melihat lalu kenapa? Apa yang akan kudapat? Nama yang dikenal, mungkin. Tawaran jadi ilustrator perusahaan real estate, mungkin. Ah, apalah arti itu semua.”
 
“Itu artinya kau mengembangkan bakatmu.”
 
“Apakah pengembangan bakat ditentukan dan direalisasi hanya dengan memperlihatkan karya pada dunia?,” aku menoleh untuk pertama kalinya, menangkap pandangannya, “tidak bisakah aku berkembang dengan menikmati sendiri?”
 
“Tentu bisa. Namun untuk apa kau berkembang bila hanya kau yang menikmati. Ayolah berpikir layaknya orang-orang besar. Picasso akan tergerogoti di tanah tanpa dikenal namanya bila ia tidak berkarya di hadapan dunia.”
 
Kali ini aku meletakkan kuasku dan meluruskan kaki, membiarkan buku gambarku terkulai begitu saja diatas lutut. “Aku tidak ingin ada intervensi terhadap neokorteks-ku. Picasso pasti tak mempertimbangkannya sampai kesana, kasihan.
 
“Kubiarkan saja yang di dalam sini berpikir, merajahi ruang, dan menumpahkannya di atas kertas tanpa ambisi untuk merangkul dunia beserta isinya," aku mengarahkan ujung jari telunjukku ke kening, "yang kukejar adalah orisinalitas terhadap daya pikir juga imajinasi. Aku tidak ingin merisaukan tentang apakah orang-orang menyukasi lukisanku. Apakah perusahaan yang mempekerjakanku berpikir karyaku layak untuk dipakai. Apakah kritikus menilai tinggi -- yang kupikir itu adalah penghinaan pada karya seni.”
 
Adam tertawa kecil. Tangannya mengacak rambutku. “Kau terdengar skeptis barusan. Arthur Schopenhauer akan bangga padamu karena mematuhi ajaran pesimismenya. Dengar, itulah resiko dari membagi apa yang kau punya. Disukai dan tidak disukai. Dengan keuntungan menginspirasi.”
 
“Aku lebih suka menikmatinya sendiri. Egois memang. Tapi aku tak butuh disukai terlebih menginspirasi. Melukis adalah caraku berpikir mengenai dunia yang apa adanya. Caraku mengagumi wujud dari sesuatu serta tegaknya ia berdiri merajam waktu,” aku kembali meraih kuas, kutekuk lagi kakiku, dan mengarahkan pandanganku pada yang seharusnya aku pandang, “apabila aku mulai peduli tentang opini, yang ada di kepalaku ini tak akan lagi murni. Pasti akan kukejar standar bagus menurut orang. Tak lagi memperdulikan apa yang aku suka, tapi apa yang mereka suka.”
 
“Anne, kau butuh opini untuk berkembang.”
 
“Yang aku butuhkan adalah karyaku menempel di dinding untuk menemani menatap langit malam. Kau lebih senang menonton televisi daripada duduk bersamaku di balik jendela. Maaf, sudah kutemukan penggantimu.” Kekehku sembari mendulit cat warna krem yang baru aku racik.
 
“Kau mengagumi diri sendiri lewat apa yang kau tumpahkan disana,” tunjuknya ke barang yang kupangku. “self-adoring, kau tahu. Berpusat pada diri sendiri. Sehingga kapanpun butuh eksistensi, tinggal kau pandang yang ada di dinding atau yang tertumpuk di rak, dan booms, tahulah kau ternyata dirimu ada.”
 
Aku mengangguk sekali tanpa jejak. “Mungkin kau benar juga. Aku ini butuh eksistensi tanpa opini. Hmm.. dan tentu saja lapangan berpikir tanpa intervensi.”
 
“Rasanya kau selalu seperti itu.”
 
“Maksudmu?”
 
“Mengagumi tanpa butuh balasan. Hanya mengagumi. Tak keberatan bertepuk sebelah tangan selama kau masih bisa memandanginya.”
 
“Apa sebenarnya yang sedang kau bicarakan?” Hardikku seraya menunjukkan kekesalan.
 
“Kau tahu benar apa.” Senyum jahil terungkai di wajah Adam. Dari ujung mataku kulihat kepalanya menghadap ke langit, memandang entah apa yang ada disana.
 
“Aku hanya mengejar kepuasan diri. Bila aku belum puas, kuulangi. Bila sudah, kusudahi. Jika dunia tak sengaja memandang dan suka, maka syukur. Jika tidak suka, maka aku tak peduli. Kesempurnaan daya pikir berseni adalah ketika tak lagi sisi eksternal mempengaruhi.”
 
“Ya.. baiklah. Apapun itu aku akan setuju.” Adam mengangguk. “Tunggu dulu. Sebenarnya aku selalu melihatnya, tapi tak benar-benar bertanya.”
 
“Apa itu?”
 
Adam memiringkan kepalanya, mulutnya setengah terbuka, matanya menyorot langsung mataku yang tak tertarik menatapnya. “Kenapa kau selalu membubuhkan nama Penaluna di setiap lukisanmu? Semacam nama pena?”
 
Aku mengangguk. Mataku berkedap-kedip tak wajar. “Iya.” Jawabku singkat.
 
Lukisanku akhirnya selesai. Aku segera merapikan senjata, kusimpan mereka di dalam plastik bekas Walmart yang nantinya kumasukkan ke dalam ransel bersama buku gambar dan seperangkat kuas. Adam terlihat bahagia. Semakin dekat ia pada cupcake terenak di kota ini yang didapat dengan harga tak semestinya. Aku juga bahagia. Karena hingga saat ini neokorteks-ku masih aman terlindungi.