Peri Penaruh Harapan

"Banyak harapan hari ini?" Esperanza menyambut Vona dengan tatapan liar tak terkendali. Ia selalu bersemangat secara berlebihan saat menanyai para Peri Penaruh Harapan tentang berapa banyak harapan yang mereka sebarkan tiap hari. Seperti tak kenal lelah -- yang mungkin karena faktor tuntutan pekerjaannya sebagai Peri Penanya Harapan, Ia melontarkan pertanyaan yang sama pada ratusan Penaruh Harapan selama dua puluh empat jam sehari.
 
Vona, salah satu Peri Penaruh Harapan yang masih baru dalam pekerjaan taruh-menaruh harapan, menjawab dengan nada bicara yang sengaja dipelankan. "Tidak banyak," Ia memberi jeda sebentar. "Mungkin karena Manusia-ku baru saja mengalami kegagalan."
 
"Kegagalan yang sangat besar?"
 
"Tidak juga. Kegagalan yang cukup membuatnya menyerah. Ia juga sering kali berpikir hal-hal buruk tentang dirinya sendiri," Vona mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat -- yang biasa dia lakukan jika sedang gelisah. "Kau tahu kan setiap pikiran negatif yang dilontarkan Manusia tentang dirinya mengikis besarnya harapan yang dapat aku taruh padanya."
 
Sang Penanya, Esperanza, mangut-mangut mendengar penjelasan Vona. Jangan membayangkan Esperanza sebagai peri secantik pemain Telenovela atau penyanyi berdarah Latin. Ia layaknya para peri lainnya. Wajahnya rata, hanya ada dua bola mata yang masing-masing terletak di samping kanan kiri kepala. Tidak ada hidung, telinga, ataupun mulut. Entah darimana suaranya saat berbicara berasal, terlontar begitu saja dari wajahnya. Badannya kecil dengan dua kaki dan dua tangan. Sayap kecil berbentuk mirip sayap lalat menempel di punggungnya sebagai alat terbang kesana-kemari. Para peri, termasuk Esperanza, tidak berpenampilan indah, namun harapan-harapan yang ada di keranjang mereka menjadi pemandu langkah Manusia.
 
"Hari ini aku menaruh beberapa harapan pada Manusiaku yang selanjutnya akan ia taruh pada Manusia yang lainnya..."
 
"Siapa nama Manusiamu?" Esperanza menyela dengan kobaran mata penuh semangat yang tidak juga redup.
 
"Aisling. Namanya Aisling," Vona melanjutkan. "Aku hendak menaruh banyak harapan yang selanjutnya dapat Aisling salurkan pada orang-orang sekitarnya. Namun karena ia berulang kali menyerah dan berpikir tentang hal-hal buruk, satu persatu harapan di dalam keranjang yang aku tenteng menghilang begitu saja."
 
"Oh, begitu." Esperanza mangut-mangut lagi sembari menulis laporan Penaruhan Harapan di sebuah kertas yang lebih mirip daun kering. "Ada lagi?"
 
Vona menyipitkan matanya. "Aku takut, Nyonya Penanya."
 
"Apa yang kau takutkan?"
 
"Aku takut apabila kian hari Aisling terpuruk atas kegagalan hingga menyebabkan ia benar-benar menyerah, maka aku tidak akan punya apa-apa untuk ditaruh padanya. Satu-persatu harapan di keranjangku akan menghilang tanpa asap hingga habis kesemuanya."
 
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Tugasmu bukanlah untuk mengkhawatirkan hal semacam itu. Tugasmu hanya menaruh harapan pada Manusia yang akan ia pakai untuk melanjutkan hidup -- selain oksigen untuk bernafas, mereka juga membutuhkan harapan. Namun apabila mereka mengikis sendiri harapan yang mereka miliki dengan menyerah dan berpikir hal-hal buruk tentang diri mereka sendiri, maka tidak akan ada lagi harapan yang dapat mereka miliki." Esperanza mencoba menenangkan Vona sambil membolak-balik tumpukan kertas di tangannya.
 
"Aku juga mengkhawatirkan sesuatu. Semakin hari, semakin sedikit saja harapan yang dapat aku taruh pada Aisling. Walaupun begitu, ia justru semakin banyak menyalurkan harapan ke orang lain. Menaruh harapan pada mereka dan berharap banyak hal dari mereka."
 
"Dia melakukan itu?" Mata Esperanza membelalak kali ini namun tak begitu terlihat perbedaannya. Satu-satunya cara yang digunakan para Peri Harapan untuk berkomunikasi selain lewat berbicara adalah dengan berekspresi menggunakan mata.
 
"Maka dari itu aku khawatir. Mungkin saja orang-orang itu justru menyia-nyiakan harapan Aisling yang ditaruhnya pada mereka. Aisling kemungkinan akan kehabisan harapan suatu hari dan..," Vona tersengal oleh isakannya sendiri. "Suatu hari Aisling akan tidak memiliki satupun harapan untuk terus melangkahkan kakinya."
 
"Kau tidak perlu merisaukan itu. Tugasmu hanya menaruh harapan." Tegas Esperanza.
 
"Mungkin aku hanya terlalu berharap pada Aisling karena kulihat sesungguhnya ia adalah pria baik dan murah hati. Kegagalan merisaukan dan menggoyahkan percaya dirinya."
 
Esperanza kembali memandang liar dengan tatapan berkobarnya. "Suatu hari nanti saat Manusia-mu itu sudah kehilangan seluruh harapannya dan tidak dapat melanjutkan hidup, kau akan diberi Manusia lainnya. Begitu terus, terus dan terus. Kau harus terbiasa dengan perasaan ini."
 
"Aku mengerti, Nyonya Penanya. Mungkin karena Aisling adalah Manusia pertamaku, aku terlalu bersemangat hingga terlalu berharap banyak hal padanya." Ucap Vona sembari secara perlahan memutar bola matanya melihat ke bawah -- yang adalah ekspresi menunduk bagi para peri.
 
"Sepertinya bukan itu masalanya," Esperanza mengobarkan matanya lebih membara dari sebelumnya. "Kurasa aku tahu kau itu tergolong dalam peri apa."
 
"Peri apa, Nyonya?"
 
"Kau adalah Peri Penaruh Harapan yang Penuh Harapan. Kau akan terus berharap pada setiap Manusia yang kau miliki. Maka dari itulah kau harus terbiasa dengan kekhawatiran dan ketakutan. Kau akan selalu penuh harap seperti banyaknya harapan di dalam keranjangmu."
 
Vona ternganga -- entah ternganga dengan apa karena ia tak memiliki mulut, ekspresi ternganga itu tergambar dari sorot matanya. "Peri seperti itukah aku?"
 
Esperanza mengangguk. Sorot matanya kini meraung Peri Penaruh Harapan di belakang Vona. "Baiklah. Penaruh Harapan Vona silahkan meninggalkan loket Penanyaan. Bagi Penaruh Harapan Dóchas silahkan maju ke depan loket."