Posts

Showing posts from February, 2016

Kepala. Gila

Beberapa hari ini meracau seperti burung kehabisan pangan. Ketika mencoba terlelap, mata terbelalak. Ketika harusnya terjaga, mata berusaha terperjap. Makhluk kecil yang entah berapa jumlahnya berlarian di kepala secara kontinyus -- memukulkan palu pada sesuatu yang bukan paku, membakar sambil menyiram minyak, merongrong untuk apa yang tidak ada di saku. Rasanya hanya ingin terlentang menatap langit-langit kamar. Perasaan yang tidak pernah tersampaikan. Rencana yang belum dilaksanakan. Ambisi non realistis yang tidak kunjung padam. Kesedihan orang lain yang tidak sengaja dirasakan. Ingin sekali berguling ke tempat dimana waktu terhenti. Sehingga bisa begini tanpa menyia-nyiakan diri. Ingin sekali meringsek ke sudut dimana tidak tersentuh cahaya. Sehingga bisa bersembunyi di kegelapan bahkan dari bayangan sendiri. Menoleh ke kanan, tidak ditemukan peraduan. Menoleh ke kiri, tidak juga ditemukan. Ke atas dan ke bawah, nihil tetap saja. Dia belum datang. Mungkin sedang berkelit dengan sepeda …

Tidak mengerti, jangan benci

Keseluruhan yang ada di dunia mustahil sepenuhnya diketahui. Realitas tidak terbatas, padahal intelejensi manusia terbatas. Hingga banyak teka-teki yang belum terpecahkan, terbengkalai menjadi misteri dengan jawaban dilumat pasir waktu. Banyak hal yang bersembunyi dibalik kisi-kisi jendela. Karena tidak dimengerti, bukan berarti hal rumit tersebut tidak benar pun baik. Karena tidak mengerti, bukan berarti berhak untuk menghakimi. Coba pikirkan lagi. Apakah hal yang tidak dimengerti tersebut merupakan produk gagal pikir, atau pengetahuanmu saja yang belum mampu mencapai?  Cukup memaklumi lalu diam. Jagad raya ini luas tidak terkira. Itu saja baru luas fisiknya. Belum dihitung luas jagad pikiran masing-masing jutaan manusia. Jangan membenci sesuatu yang tidak dimengerti.

Widy: Pendalaman Sore

Angin mengebas rambutku seperti melodi lembut yang mengalun di sela-sela partikel udara. Langit kemerahan menyeruak di ujung ladang seperti guratan tangan seorang seniman. Matahari akan segera terbenam bersama seluruh harapan yang belum tercapai. Aku duduk sendirian di beranda. Sendiri, namun tidak kesepian. Pikiranku terbuntal bagai benang kusut. Menimbang serta menimang seluruh hasrat terpendam, kisah cinta yang tak kunjung dapat diraih, dan tanggunan akan masa depan. Yang kesemuanya ditentukan oleh perjudian bertajuk takdir tak terelakan. Takdir. Sebuah jawaban manusia atas segala yang ada di jagad raya. Kambing hitam kemenangan dan kekalahan dalam pertarungan. Diksi yang meniadakan manusia dari proses pengadaan eksistensi. Pokoknya, semua ini kehendak Tuhan. Aku termenung sendiri namun sebenarnya berkawan. Satu hal yang belum disadari oleh manusia kebanyakan. Bahwa sebenarnya mereka masing-masing setubuh berdua. Diri mereka yang ada di balik dada dan di dalam kepala. Pikiran dan hati. …

Fire Fire Fire // Poem Reading

Sianida

Perlahan kau memutus satu persatu urat nadi yang menjalar di sekujur tubuhku. Menggerogoti tiap insan sel yang menggeliat tak berdosa. Meremukkan tulang hingga serpihan. Menguras darah hingga tetes terakhir penentu nyawa. Begitu mudahnya kau lakukan, hanya dengan sekali tiup, sehembusan nafas dan sesorotan mata, ditambah jejalan satu kalimat tak berperasaan “Kau terbaik dari yang pernah ada.”  Satu teh Chamomile yang kupesan setelah perhelatan akbar semalam ternyata membopongku pada rengkuhan bermuka dua, rengkuhanmu yang penuh tanda tanya. Kepalsuan tak tahu diri. Menghampiriku pada seruput pertama. Lalu berkata betapa cocoknya aku jadi pemeran utama dalam film bertema gembira. Film dengan kau sebagai sutradara selaku produser satu-satunya.  Kupercaya saja. Sepanjang hidupku tak pernah kutemui penipu. Jadi tak tau bagaimana alur serta konsistensi cara bermain tipu-menipu. Sering kulihat sulap, namun tak pernah kusangka bahwa kotak dengan kelinci di dalamnya merupakan trik semata. Kukir…

Orcinus Orca

Ia layaknya Orcinus Orca. Paus pembunuh yang merajahi lautan layaknya ratu. Menyeka kehidupan kecil yang menghalangi jalan. Melenggang tanpa perlu melebarkan tangan, melainkan cukup berjalan, dan semua orang akan tunduk bagai benalu. Pandangan matanya menyeluruh, membunuh, mematikan yang kiranya memiliki pengetahuan tak sebesar dirinya. Senyumnya melukiskan proses panjang dari revolusi sebuah senyum. Yang tadinya senyum malu-malu ala pemula, senyum sopan ala seorang rekan, senyum bangga ala pemegang piala, hingga akhirnya menjadi senyum angkuh ala sang pengukuh. Kerut dahinya tak pernah berubah. Menandakan pikiran yang tak berhenti bekerja, tak lelah menimang dan menimbang. Baginya tak ada waktu untuk hal-hal kecil. Apalagi tentang cinta. Suatu kolusi perasaan yang menuntut pelampiasan, penyemangat, dan penenang dari hingar bingar kompetisi dunia. Perasaan yang melemahkan perlahan. Yang hadir sebagai destruksi bagi sebuah sistem yang tertata. Kebanyakan orang memberi atribusi pada peras…