Orcinus Orca

Ia layaknya Orcinus Orca. Paus pembunuh yang merajahi lautan layaknya ratu. Menyeka kehidupan kecil yang menghalangi jalan. Melenggang tanpa perlu melebarkan tangan, melainkan cukup berjalan, dan semua orang akan tunduk bagai benalu.
 
Pandangan matanya menyeluruh, membunuh, mematikan yang kiranya memiliki pengetahuan tak sebesar dirinya. Senyumnya melukiskan proses panjang dari revolusi sebuah senyum. Yang tadinya senyum malu-malu ala pemula, senyum sopan ala seorang rekan, senyum bangga ala pemegang piala, hingga akhirnya menjadi senyum angkuh ala sang pengukuh. Kerut dahinya tak pernah berubah. Menandakan pikiran yang tak berhenti bekerja, tak lelah menimang dan menimbang.
 
Baginya tak ada waktu untuk hal-hal kecil. Apalagi tentang cinta. Suatu kolusi perasaan yang menuntut pelampiasan, penyemangat, dan penenang dari hingar bingar kompetisi dunia. Perasaan yang melemahkan perlahan. Yang hadir sebagai destruksi bagi sebuah sistem yang tertata. Kebanyakan orang memberi atribusi pada perasaan itu sebagai cinta. Padahal, bagi Orcinus Orca, atribusi cinta hanya merupakan fluid turbulance tak berdasar. Menyacah independensi diri secara tak berlogika. Mengatasnamakan simbiosis mutualisme (bahkan terkadang komensalisme) sebagai validasi kehadiran satu sama lain. Sebuah bentuk escapism yang larinya ke dalam sebuah romansa. Padahal, escapism yang menaruh harapan pada makhluk hidup sama saja bunuh diri. 
 
Orcinus Orca tak punya sayap. Namun mampu terbang melampaui permukaan air, melompati kapal pesiar diatasnya. Apalah arti aplikasi penunjang bila dapat dilakukan dengan satu dentikan jari. Yang tadinya ada pun tak lagi punya makna bila intelejensi bisa melampaui, sehingga seakan yang sudah ada menghilang dikempiskan angin, dikebiri ketidakmampuan untuk berkompetisi. 
 
Tak perlu kau menemuinya. Cukup tanya sekelilingmu siapa itu Orcinus Orca, dan langsunglah kau tahu siapa disini yang jadi ratu. Dengarlah kisah tentangnya hingga kandas impianmu jadi pemegang kuasa yang duduk di singgasana.