Sianida

Perlahan kau memutus satu persatu urat nadi yang menjalar di sekujur tubuhku. Menggerogoti tiap insan sel yang menggeliat tak berdosa. Meremukkan tulang hingga serpihan. Menguras darah hingga tetes terakhir penentu nyawa. Begitu mudahnya kau lakukan, hanya dengan sekali tiup, sehembusan nafas dan sesorotan mata, ditambah jejalan satu kalimat tak berperasaan “Kau terbaik dari yang pernah ada.” 
 
Satu teh Chamomile yang kupesan setelah perhelatan akbar semalam ternyata membopongku pada rengkuhan bermuka dua, rengkuhanmu yang penuh tanda tanya. Kepalsuan tak tahu diri. Menghampiriku pada seruput pertama. Lalu berkata betapa cocoknya aku jadi pemeran utama dalam film bertema gembira. Film dengan kau sebagai sutradara selaku produser satu-satunya. 
 
Kupercaya saja. Sepanjang hidupku tak pernah kutemui penipu. Jadi tak tau bagaimana alur serta konsistensi cara bermain tipu-menipu. Sering kulihat sulap, namun tak pernah kusangka bahwa kotak dengan kelinci di dalamnya merupakan trik semata. Kukira itu nyata.
 
Kau janjikan aku tempat pengambilan gambar di tengah kota. Dengan gedung tinggi dan kebun penuh bunga. Telah disiapkan naskah cerita yang kau susun dengan sepenuh jiwa. Hasil mendambakan serta mendoakan bahkan sebelum kita saling tau nama. Katamu dari jauh hari kau sudah tau aku akan datang, yang terbaik dari semua pemeran utama. Hingga akhirnya kita bertemu di kedai minum 24 jam. Pertukaran pandangan mata yang mengisi baterai keberanianmu bagai pangeran yang baru memangku mahkota.
 
Ketika cangkir tehku mulai kosong, kau memesan secangkir lainnya. Selagi itu terus bercerita tentang peran yang akan aku mainkan. Sebagai sutradara sekaligus produser tentu kau takkan ragu karena tampaknya instingmu telah memilih orang tepat sesuai kata hati.
 
Lalu cangkir kedua itu datang di atas meja. Aroma bunga tak terelakkan membuatku terlena, sementara telingaku terbuai merdu ucapanmu bagai radio yang memutar lagu lawas di musim gugur. Kuhabiskan secangkir Chamomile kesukaanku sekali tegak. Kulihat dari ujung mataku kau menyeringai bagai pesulap yang sedang menunjukkan kebolehan.
 
Aku tak sadarkan diri.
 
Beberapa saat kemudian kutemukan diriku mengambang di antara cahaya. Aku bertanya-tanya apakah ini yang kau maksud peran utama yang akan kumainkan. Rasanya memang aku menjadi yang terbaik, tak ada lainnya selain aku untuk diajak berkompetisi.
 
Aku bertanya-tanya. Apakah ini yang kau maksud dengan pemenuhan harapan. Karena sungguh, bila memang ini rasanya terbang untuk jatuh ke palung dengan dasarnya yang jauh menembus bumi, kau telah menepati setiap detil perkataan yang kau serukan barusan. Tiap partikel dalam diriku telah menyatu dengan udara, dihempaskan oleh angin sepoi tak bertenaga, diremas bagai selembar kertas yang gram-nya tak berharga.
 
Pria berkemeja kotak-kotak yang kutemui baru sejam lalu, kau tahu apa itu pernyataan keterbalikan?