Widy: Pendalaman Sore

Angin mengebas rambutku seperti melodi lembut yang mengalun di sela-sela partikel udara. Langit kemerahan menyeruak di ujung ladang seperti guratan tangan seorang seniman. Matahari akan segera terbenam bersama seluruh harapan yang belum tercapai.
 
Aku duduk sendirian di beranda. Sendiri, namun tidak kesepian.
 
Pikiranku terbuntal bagai benang kusut. Menimbang serta menimang seluruh hasrat terpendam, kisah cinta yang tak kunjung dapat diraih, dan tanggunan akan masa depan. Yang kesemuanya ditentukan oleh perjudian bertajuk takdir tak terelakan.
 
Takdir. Sebuah jawaban manusia atas segala yang ada di jagad raya. Kambing hitam kemenangan dan kekalahan dalam pertarungan. Diksi yang meniadakan manusia dari proses pengadaan eksistensi. Pokoknya, semua ini kehendak Tuhan.
 
Aku termenung sendiri namun sebenarnya berkawan.
 
Satu hal yang belum disadari oleh manusia kebanyakan. Bahwa sebenarnya mereka masing-masing setubuh berdua. Diri mereka yang ada di balik dada dan di dalam kepala. Pikiran dan hati. Keduanya saling bekerja sama agar empunya nyawa tidak disfungsi. Namun, sebenarnya jarang bisa sejalan.
 
Belum banyak manusia tahu kehebatan diri mereka. Di dalam tubuh rentan yang bergidik saat mendengar kata marabahaya, tersimpan potensi besar yang mencerna sekaligus mengembangkan alam semesta.
 
Bayangkan saja, manusia bisa membangun kerajaan di dalam pikiran mereka. Menciptakan figur imaji yang masing-masing diberi karakterisasi, lalu disuruh pergi menjelajah alur cerita fiksi. Manusia bisa menjadi Tuhan! Yang maha kuasa, maha mematikan dan menghidupkan. Semua fikiran, entah baik atau buruk, bisa disimpan di dalam kepala tanpa ada yang mengetahui. Simpan saja. Langsung manusia jadi Tuhan yang sekaligus brankas teraman di penjuru dunia!
 
Kalau masalah pengendalian rasa, serahkan saja pada hati. Analoginya, diri manusia yang satu ini seperti samudera. Cukup ditenangkan oleh ketiadaan angin. Namun, saat angin datang, gempuran ombak pun tercipta. Makin besar angin, makin menggila juga ombaknya. Sifat utamanya, hati itu tidak tahu diri, cenderung tidak punya intelejensi. Tidak bisa berpikir, hanya senang bersendu.
 
Sejak tiga tahun lalu, aku sadar benar akan terbaginya dia menjadi dua. Oleh karena itu diberilah nama pada masing-masing. Fany untuk hati dan Inthon untuk pikiran.
 
Sore ini keduanya sedang mengadakan panel diskusi tentang tren manusia abad ini.
 
Awal tercetusnya topik ini setelah aku mendengar perbincangan beberapa eksekutif muda di restoran tadi siang. Sekelompok pria dan wanita borjuis itu dengan bangga memamerkan betapa tersiksanya selama ini untuk mendapatkan sebuah ‘posisi’. Siksaan yang menjelma jadi ajang prestasi. Bukan pencapaiannya yang terpenting, melainkan menderitanya.
 
Manusia sekarang senang benar mengoarkan berapa gelas kopi yang diminum setiap hari, sedikitnya waktu mereka tidur semalam karena melembur pekerjaan, dan kuantitas pertemanan sarat kualitas yang mengundang kesepian.
 
Kutipan bijak jadi kudapan setiap hari. Kedekatan fisik tidak lagi esensial. Dan malah justru mengejar jauhnya jarak yang didekatkan oleh sinyal.
 
Jagad ini makin lama makin bising oleh seruan prestasi yang dikumandangkan oleh empunya sendiri. Disampaikan dengan dada membusung. Mematikan harapan yang dimiliki oleh siapapun yang mendengar. Makin bising oleh diskusi kosong dengan pokok bahasan yang dipelintir, memperdebatkan apa yang benar, padahal yang dibutuhkan sebenarnya hanya cukup saling memaklumi lalu diam.
 
Raya ini bertambah sesak oleh besarnya kepala para manusia yang merasa dirinya pintar. Saking merasa pintar, hingga berani mengambil peran sang komandan sambil berseru ‘Aku ini lebih tahu!’ Padahal tidak tahu saja di pojok ruangan sana, manusia yang paling pendiam itu sedang menertawakannya. Tidak tahu saja manusia pendiam itu sebenarnya tahu melebihi yang berseru, namun lebih memilih menunduk seperti api yang memahami hujan.
 
Kritikan pedas dilayangkan oleh Inthon. Semua itu harus berdasar logika, kukuhnya. Dia pun mengajukan pertanyaan pada angin kosong, ‘Apakah manusia sudah lupa untuk diam sejenak dan berpikir ke dalam? Bukannya berlagak seperti anak keemasan.’
 
Fany tentu mengandalkan rasa. Berpendapat bahwa semua ini sekadar evolusi manusia. Tidak seharusnya mengkaji dengan menggunakan perbandingan primitif, padahal dimensi waktu sangat berbeda. Hei, manusia adalah makhluk berkembang!
 
Langit kemerahan kini sudah berubah menjadi sepenuhnya gelap. Lampu remang menerangiku beserta Fany dan Inthon. Sekarang saatnya makan malam. Kami pun segera bangkit dan menyudahi sesi pendalaman hari ini. Entah topik apa yang akan dibahas esok. Tergantung fenomena apalagi yang akan aku temui.
 
Jangan tanya siapa yang menyusun kisah ini. Tentu yang senang berpikir. Yang bagian merasakan cukup memberi tambahan untuk memberi nyawa pada cerita. Jangan heran juga dengan paradoksnya. Fanny dan Inthon memang suka main putar-putaran.