Perangai bintang

Tahu bagaimana perangai bintang di atas sana? Yang kau pandangi, kagumi saat mendongakkan kepala.
 
Bintang merupakan awan molekul raksasa. Bertengger tenang di ruang angkasa. Memancarkan sinar seperti yang dikomandokan oleh sang inti. Segumpalan awan berstatus quo. Tidak memihak siapa-siapa. Bukan milik siapa-siapa. Berindependensi tinggi. Perbandingannya dengan barang bumi, seperti samudera tanpa angin siang dan malam.
 
Kemudian pada satu titik waktu, ia meledakkan diri sendiri. Entah datang angin dari mana.
 
DUARR! SUPERNOVA!! Terlempar satu persatu molekul yang senang bertengger malas itu. Terlontar mengerubungi alam semesta memicu debu kosmik. Lalu menggelayut pada kekosongan interstellar.
 
Mungkin bosan pada kehampaan, debu kosmik yang jumlahnya milyaran berkubu dan berkonspirasi untuk saling menghibur diri. Banyak kubu itu selanjutnya masing-masing menjajaki proses pembentukan bintang baru. Memulai peradaban melanjutkan tugas ibunya yang telah meledak. Sebut saja mereka Globula Bok.
 
Gugus Globula Bok kemudian bertransformasi sedemikian rupa. Terfragmentasi. Terkontraksi oleh tekanan-tekanan ruang angkasa. Menarik debu kosmik yang tidak berkubu untuk membesarkan diri. Bahkan juga merekatkan diri dengan gugus dari kubu lain. Berproses untuk mencapai kesetimbangan antara tekanan termal dan tekanan akibat gravitasi. Gugus pejuang ini pun sekarang adalah protobintang.
 
Memakan waktu jutaan tahun bagi protobintang agar menjadi bintang seutuhnya. Menggantungkan diri pada kontraksi termal dan gravitasi. Berputar, bergulung. Begitu terus hingga fusi nuklir terjadi. Fusi yang mengukuhkan keberadaan mereka sebagai bintang dengan cahaya yang sinarnya menyilaukan mata.
 
Sang bintang telah terbentuk kembali. Ia pun kembali bertengger di angkasa. Tangga ultimasinya sudah tercapai. Ukurannya lebih besar sekarang -- hasil penggabungan diri dengan debu kosmis lainnya.
 
Ledakan dan proses panjang telah terlampaui walau tak semudah menjentikkan ujung jari. Inilah kenapa ia begitu bersinar. Cahaya yang dipancarkannya adalah hasil pergelutan dengan ledakan, tekanan, kontraksi, dan fragmentasi. Pantas ia begitu berbangga diri.
 
Jangan salah. Suatu saat ia akan meledak lagi. Begitu terus. Meledak. Berproses. Berultimasi. Meledak lagi. Hingga ia bisa mencapai ukuran tebesar layaknya sang matahari.
 
Memang begitu perangai sang bintang. Ia begitu senang membesarkan diri.