Dari Euphorbia, Untuk Embun

Sebelumnya, aku ingin meminta ijin terlebih dahulu, Embun, untuk menyembunyikan namamu di balik saku. Aku tahu kau tidak akan sadar ini semua tentangmu. Aku yakin, sangat yakin, kau belum pernah bertemu seseorang serumit aku. Kurasa kau bahkan takkan sadar bahwa ada yang berbeda. Bagimu semuanya terlalu sama.
 
Walaupun kita sudah saling tahu sejak lama, aku ingin mengucapkan, “Salam kenal”. Kau telah berhasil menembus pertahanan yang kubangun. Yang kau temui sekarang adalah sepenuhnya aku, Euphorbia. Bukan tembok yang kugambar menyerupai wajah yang selalu menyimpan rahasia.
 
Harus kusebut apa kau sekarang? Sahabat? Oh, tunggu sebentar. Bahkan sahabat yang telah mengenalku selama lima belas tahun belum pernah mencapai garis jalan yang kau injak sekarang. Kalau begitu, mungkin kau adalah sahabat baik.
 
Lagi, tunggu sebentar. Kalau kita sahabat baik, kenapa selalu ada rasa menggelitik yang membuatku geli, merongrong lidah untuk memintamu tinggal lebih lama, berdegup seperti jinjitan anak manusia di balik dada. Aneh sekali. Aku selalu tidak sabar bertemu agar segera membaui parfummu, melihat senyummu, mendengar bicaramu. Ah, mungkin kau adalah sahabat baik baik.
 
Kau selalu bertingkah manja, tidak dewasa. Yang ini lebih aneh lagi. Padahal, aku orang yang paling tidak sabar meladeni orang yang tidak cekatan. Aku suka berurusan dengan orang macam tentara. Tapi untukmu, semuanya berbeda. Tentu saja, semua karena kau adalah sahabat baik baik baik.
 
Selama ini aku banyak bergantung padamu. Bertahun-tahun menahanmu, menyeretmu dalam adonan keseharianku. Sepertinya karena bagiku kau adalah pemberat timbangan. Yang ketika kau ada, keseimbangan kan tercipta.
 
Kita sama-sama tahu bahwa sebenarnya saling memperhatikan. Walaupun sering tidak bertemu secara langsung, tapi kau tahu lah Embun, bahwa hal pertama yang kutanyakan saat akhirnya berjumpa, adalah bagaimana berjalannya jamuan makan semalam. Padahal kita tidak bertukar kabar, lalu bagaimana aku tahu apa yang tadi malam kau lakukan?
 
Kau ingat saat membangunkanku suatu malam lewat telepon? Kudengar suara lirihmu diujung sana. Memintaku menemani menonton bola selagi menghabiskan bonus pulsa. Dalam setengah tidurku kudengar kau berkata, “Terima kasih dan maaf selalu membuatmu merasa terabaikan, padahal saat kubutuhkan di tengah malam, kau legawa menahan kantuk yang tak tertahan.”
 
Memang, satu hal yang membuatku sering kesal yakni tabiatmu yang senang mengabaikan. Aku tahu kita hanya sahabat baik baik baik, tapi bukankah hanya ingin didengar tanpa mendengar adalah tidak sopan?
 
Meskipun begitu, dibalik segala keangkuhan dan ketidakpedulian, ada sesuatu dari dirimu yang selalu membuatku ingin selalu kau pedulikan, layaknya aku sebuah rotasi.
 
Aku senang menyebutmu Embun karena kau begitu adanya. Layaknya Embun di pagi hari. Semburat segar yang menyerbakkan ketenangan. Tanda atas sebuah hari baru. Pemulai dari segala hal baik. Sejukmu melelehkan segala api yang membara di balik dada. Kau, pembahagia yang senang tertawa, dibalik segala gundahmu tentang dunia.
 
Akan kutulis lagi tentangmu, Embun, namun tidak semuanya sekarang. Aku masih perlu keyakinan. Tunggu saja. Semoga selagi menunggu, kita berdua tidak bertemu penyeimbang timbangan lainnya.
 
Salam, 
Sahabatmu selama bertahun-tahun, Euphorbia.