Euphorbia

1st : Daffodil // 2nd : Asteroid // 3rd : Supermoon // 4th : Infinitation “ // 5th : Neocortex
 
“Es krim coklat dengan sprinkles untukmu dan es krim tiga rasa untukku,” ujar Adam sembari menyodorkan secontong es krim. Ia lalu duduk di sebelahku dengan bibir yang tersenyum lebar.
 
“Sudah gila ya? Tersenyum sendiri begitu.”
 
Adam menyerongkan posisinya duduk agar bisa berhadapan denganku. Tangannya merentang seperti sedang ingin memeluk sesuatu -- pastinya bukan aku, tentu angin dan angan yang ia dambakan, “Rasakanlah, Anne. It’s a very good day. A good place to visit, too. Kapan lagi bisa ke kebun bunga setelah membunuh diriku yang lama.”
 
Aku menoyor kepalanya, “Dengarlah. Ini yang kumaksud saat melarangmu bertransformasi. Sebelumnya saja kau sudah seperti orang gila, apalagi sekarang. Super gila.”
 
“Pernah dengar kalau kegilaan itu tanda kecerdasan?”
 
“Kemarin aku bertemu orang gila. Dia telanjang, berjalan dengan santai di jalan raya, sambil tersenyum tidak karuan. Cerdas tentu saja.”
 
“Lucu sekali,” Adam melengos, sedetik kemudian memelototiku, “Aku ini sedang bertransformasi yang tadinya seorang robot pekerja, sekarang menjadi manusia penuh kemerdekaan. Kau harusnya bangga atas keputusanku!”
 
Aku balik memelototinya, kesepuluh jariku kuhadapkan ke depan wajahnya, “Tentu aku bangga atas keberanianmu. Hanya menyesalkan kau tidak mengambil pesangon puluhan ribu dollar yang ditaruh di kedua telapak tanganmu. Kita bisa saja membeli mobil baru.”
 
“Kita? Terdengar seperti kita adalah sepasang suami istri,” Adam tertawa keras yang terdengar sangat dibuat-dibuat.
 
“Jangan bercanda. Sekali platonic, tetap platonic.”
 
“Ya ya ya,” Adam menyernyitkan pandangannya padaku, “Sedang memandang apa? Bunga di kebun ini beragam dan indah, kenapa hanya melihat ke arah sana saja?”
 
“Aku sedang memperhatikan sesuatu.”
 
“Apa memang?”
 
Aku mengarahkan telunjukku di arah jarum jam dua, “Lihatlah kumpulan bunga Euphorbia yang disana. Melihat ada yang berbeda?”
 
Adam mengerucutkan bibir, menggeleng.
 
“Ada sekumpulan bunga Euphorbia yang tumbuh dari satu akar, berwarna berbeda dengan kumpulan bunga dari akar lain. Mereka abu-abu seperti sisa kayu bakar yang telah padam. Batangnya berwarna hampir seperti jelaga.”
 
“Ah, yang itu. Tidak terlihat menarik. Bahkan kupu-kupu tidak ada yang mau bertengger padahal sepertinya ada ratusan binatang terbang yang ada disana.”
 
Aku mengangguk, “Aku penasaran kenapa mereka berbeda. Maksudku, tidakkah kau rasa tidak adil? Euphorbia Abu-Abu itu pasti juga ingin menjadi diva. Lalu kenapa mereka tercipta seperti itu?”
 
“Seperti itu apa maksudmu? Dibandingkan dengan Euphorbia lain, mereka justru terlihat paling cantik. Berbeda. Terjaga dari jamahan binatang yang bisa saja justru merusaknya.”
 
“Tidak semua orang akan berpikir sama denganmu. Pasti banyak yang berpikir mereka buruk rupa. Menuntut agar mereka seindah yang berwarna merah, kuning, dan biru. Oh, padahal kalau bisa meminta, mereka pasti ingin seperti yang lainnya.”
 
Adam melingkarkan tangannya pada pundakku, tangannya menyapu bunga-bunga di hadapan kami, “Bunga-bunga yang lainnya memang indah. Mereka juga punya hak untuk menilai dan dinilai. Semua bunga itu tidak akan pernah bisa menghindari penilaian. Apalagi dengan identitasnya sebagai simbol kecantikan.”
 
“Ya, mungkin seperti itu..”
 
“Biarlah Euphorbia Abu-Abu dikatakan apa saja. Tapi kita berdua sama-sama tahu mereka istimewa. Sesuatu yang keindahnya tersembunyi justru sebenarnya yang paling mengagumkan. Membutuhkan orang-orang yang luar biasa agar bisa melihat keindahan mereka.”
 
“Istimewa, ya.. Kuharap lebih banyak orang yang bisa melihat mereka istimewa.”
 
“Justru jangan!”
 
Aku terlonjak, “Kenapa?”
 
“Kalau semakin banyak orang yang melihat keistimewaan Euphorbia Abu-Abu, justru menjadi tidak istimewa. Malahan menjadi biasa seperti yang lainnya.”
 
Aku menoleh pada Adam, “Seperti itukah kita lima tahun yang lalu?”
 
Adam tersenyum, “Ya begitulah. Andai saja yang dibalik dadamu itu tidak direbut oleh Liam terlebih dulu. Tidak akan ada tautan platonic seperti sekarang ini.”
 
Kami berdua tidak mengucap kata selama beberapa menit. Tenggelam dalam penyangkalan dan persetujuan yang tidak bisa diungkapkan.
 
Keheningan dipecah oleh Adam, “Ah sudahlah, ayo jalan-jalan. Capai duduk terus.”
 
“Naik sepeda, ya. Capai jalan kaki terus.”
 
“Kan kita daritadi kita duduk?”
 
Aku bangkit berdiri, “Pikiran kita yang jalan-jalan.”