Hanya Sebuah Obrolan

(Sudut pandang Landon)
 
“Aku ingin berbincang denganmu sore ini. Bercerita tentang hal-hal kecil saja,” ucap Madlyn. Tangannya menggenggam erat tenganku. Sorot matanya meneriakkan sesuatu yang tidak dapat aku artikan, “kumohon duduklah bersamaku di kafe pertama kali kita bertemu. Sungguh ini untuk terakhir kali.”
 
Aku menatapnya tanpa berkata apapun. Mematung, merasakan kehangatan tangannya pada telapak tanganku yang dingin. 
 
Pilihanku hanya dua: berkata jujur atau diam. Jujur bahwa tidak ada rasa tertinggal. Bahkan sekadar menghabiskan waktu bersama pun aku enggan. Madlyn adalah seorang wanita luar biasa. Hanya saja, aku tidak bisa.
 
Aku memilih pilihan kedua. Diam lalu melangkah pergi. Berjalan menjauh setelah perlahan melepas genggamannya. Meninggalkannya di tengah kerumunan para pejalan kaki. Membiarkannya tak punya pilihan selain berdiri sendiri.
 
Aku sadar sedang menghancurkan hatinya. Padahal yang dia inginkan hanya sebuah obrolan.
Aku tahu dia sangat mencintaiku.
 
Kupikir dulu juga merasakan hal yang sama. Namun ternyata pada setiap pertemuan kami, terkikis sedikit-demi sedikit keinginanku untuk bersamanya.
 
Dia hanya ingin berbincang. Sedangkan aku enggan.
 
----------------------------------------------------------------------

(Sudut pandang Madlyn)
 
Aku melihatnya dari kejauhan. Siluet itu di tengah keramaian Times Square pada perayaan akhir tahun. Entah keajaiban apa yang membawa kami berada di tempat yang sama, menghirup udara yang sama.
 
Berbulan-bulan aku menanti kabar dari Landon. Hanya untuk bertanya tentang sebuah kepastian. Untuk meminta penjelasan kenapa dia berhenti datang ke tempat kami menikmati kopi di sore hari. Memberitahu betapa aku mencintainya.
 
Aku memberanikan diri untuk menghampiri. Kulihat dia sendirian, atau sedang menunggu beberapa teman. Entahlah. Yang kuinginkan hanya menatap wajahnya.
 
Jantungku berdegup kencang. Kuranggah pundaknya. Dia menoleh, air mukanya terlihat terkejut. Tanpa mengatakan apapun, dia hanya memberiku tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
 
“Aku ingin berbincang denganmu sore ini. Bercerita tentang hal-hal kecil saja,” ucapku tanpa berbasa-basi. Tanpa sebuah tanya tentang kabar. Tanganku meraih telapak tangannya, mengenggam erat.
 
Sesuatu di dalam diriku sedang meneriakkan sesuatu. Memohon hingga rasanya jantungku ingin jatuh ke tanah. Aku sangat ingin berbincang dengannya lagi. Berbicara tentang perasaanku dan segalanya tentang dunia.
 
“Kumohon duduklah bersamaku di kafe pertama kali kita bertemu. Sungguh ini untuk terakhir kali,” pintaku.
 
Dia masih diam. Hanya menatapku selama beberapa detik. Kurasakan tangannya melepaskan genggamanku. Tangannya yang hangat pada telapak tanganku yang dingin.
 
Kulihat dia membalikkan badan dan berjalan di tengah kerumunan orang. Meninggalkanku berdiri sendirian. Tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bahkan tidak satu kata sapaan.
 
Rasanya aku ingin menghilang, menenggelamkan diri ke dasar lautan. Melemparkan tubuh menembus atmosfer terluar. Menghilang selamanya. Membiarkan segalanya terbakar.
 
Seakan semua waktu yang kami lewati tidak berarti. Dia begitu saja pergi.
 
Padahal aku menunggu begitu lama hanya untuk sebuah obrolan.