Matahari, Bulan, dan Bumi

“Kau adalah Bumi. Sedangkan masing-masing dari mereka adalah Matahari dan Bulan,” ucap seseorang segera setelah aku membuka pintu kaca. Kulihat ia duduk di balik sebuah meja di pojok ruang, menatapku penuh selidik, “namun teman-temanmu yang sedang berada di kedai seberang tidak mampu mengerti,” lanjutnya.
 
“Bagaimana kau bisa tahu?” Aku masih berdiri, tangan kananku menahan pintu.
 
“Karena itu kau menemuiku. Kau tidak bisa bercerita pada siapapun bahkan pada teman terdekatmu. Menemuiku adalah salah satu cara untuk mengangkat beban, benar kan?”
 
“Aku tadi bertanya, bagaimana kau bisa tahu?” Ucapku ulang.
 
Wanita berambut merah di balik meja itu tersenyum ramah, “Aku hanya melihat kilasan bayangan dan mendengar gemersik suara. Kau memberiku kekuatan itu tepat saat memutuskan pergi kesini.”
 
“Aku adalah Bumi, lalu?”
 
“Duduklah. Buat dirimu nyaman.”
 
Aku meraih kursi tepat di depan meja. Kuakui gugup membayangkan apa yang akan wanita itu katakan tentang kisah yang tidak bisa kupahami, kukendalikan, terlebih kuceritakan. Kisah gejolak perasaan pada dua orang insan pemberi kehangatan.
 
“Bumi tidak berdiri sendiri, dear, kau tidak menggantung begitu saja di tata surya tanpa rangkulan alam semesta. Ada Matahari dan Bulan mengapitmu. Entah siapa dulu yang datang lebih awal, intinya mereka menerangkan duniamu.”
 
“Yang kurasakan di duniaku sekarang adalah gelap, bukan terang.”
 
Wanita itu meraih kedua tanganku yang kutaruh diatas meja. Jemarinya meraba telapak tanganku, “Itu karena kau enggan menerima keberadaan keduanya, malahan ingin menyingkirkan.”
 
“Menerima atau menyingkirkan, keduanya sama saja. Aku tidak mampu menjangkau,” aku terdiam sejenak. Mengingat bagaimana jarak telah mempermainkanku selama ini, “pun apabila aku harus berdiri sendirian, itu adalah keputusanku. Aku yang pergi, bukan sebaliknya.”
 
Wanita itu tertawa, “Oh dear, egomu sangat besar. Itu kekuatan yang bisa melemahkanmu.”
 
“Kau baru saja menyebutkan kata sifat yang berseberangan.”
 
Ia tidak menanggapi ucapanku barusan, “Jarak yang kau maksudkan sebenarnya kau sendiri yang menciptakan. Bumi adalah satelitmu, sedangkan Matahari sang sumber energi. Mereka bukan planet di luar Milky-way yang untuk kau raba pun mustahil. Mereka sangat dekat dan kau harus cukup berani mengambil langkah.”
 
“Baik, andaikan saja aku akan menerima mereka. Bisakah aku memilih salah satu?”
 
“Sama sekali tidak.”
 
“Hm.. tolong berikan elaborasi.”
 
“Begini, dear, kau tidak bisa hidup tanpa keduanya. Mereka bersinar untukmu. Ketika siang, Matahari bersinar diatas kepala, menerangi setiap gerak-gerik dan menghangatkan seluruh sendimu. Saat malam tiba, Bulan hadir memberi cahaya yang tak kalah luar biasa. Ia menyerahkan segalanya agar kau tidak kedinginan di kegelapan. Keduanya bergantian menyuplai penerangan dan kehangatan, tapi tidak dapat hadir dalam satu waktu.”
 
“Bulan memperoleh cahaya dari Matahari. Berarti sebenarnya ia adalah ekstensi Matahari untuk mengayomiku di malam hari, ketika ia pergi?”
 
“Kurang lebih,” wanita itu masih menggenggam kedua tanganku. Seakan ia sedang menyedot sesuatu yang entah apa, “tapi Bulan adalah dirinya sendiri. Ia tetap satelitmu.”
 
“Kalau begitu aku bisa hidup tanpa Bulan? Toh ia tidak punya cahaya sendiri.”
 
“Lalu siapa yang akan menerangimu di malam hari?”
 
Aku terdiam.
 
Dear, kau tidak bisa menghindar dari takdir. Keduanya akan ada dalam hidupmu hingga akhir waktu. Matahari adalah cinta -- berada di sampingmu menerjang dunia, sedangkan Bulan jadi belahan jiwa -- duduk denganmu untuk mendengar kisah pilu lalu menaruh senyum lagi diwajah cantikmu.”
 
“Lalu pertanyaannya, siapa yang Matahari dan siapa yang Bulan?”
 
Kulihat senyum sama yang sedari tadi menggantung pada bibir wanita itu. Senyum yang menyiratkan retorika. Seakan ia tahu, namun tidak ingin aku tahu. “Kau yang harus memutuskan itu. Cukup lihat siapa yang paling terang.”
 
“Kurasa itu cukup sulit, menentukan siapa lebih terang.”
 
“Tunjukkan sisi tergelapmu, lalu siapa diantara mereka yang memberimu cahaya tidak terkira, maka ia lah Matahari.”
 
“Masuk akal. Aku akan mencobanya” aku menganggut-anggut, “baiklah. Terima kasih atas semua saran tadi. Kau menerima kartu kredit? Aku tidak membawa uang tunai.”
 
“Tentu. Ini,” ucapnya sembari menyodorkan sebuah mesin yang merogoh bilangan angka dari sebuah kartu. “Kau harus cepat-cepat kembali. Salah satu dari mereka sedang gelisah mencarimu di kedai seberang.”
 
“Sedangkan yang satunya?”
 
“Dia sedang terbang.”
 
Aku tersenyum mendengarnya. Senyum pertama yang menggurat sejak masuk ke tempat ini. Segera aku keluar, berjalan menuju tempat seberang. Pada langkah yang entah keberapa, aku menoleh untuk melihat stiker besar yang menempel pada pintu kaca, stiker identitas dari tempat yang terletak di lantai satu sebuah rumah tua, bunyinya “Madam Rosa: Tahu Tanpa Perlu Kau Bercerita”.