Antara Nol dan Tidak Terbatas

Setidaknya, sedikit banyak berbagi inti dengan elaborasi dalam Widy: Pendalaman Sore.
 
Berapa sebenarnya jumlah galaksi di tata surya? Sejauh ini para peneliti mengatakan bahwa jumlahnya ratusan hingga ribuan. Tentu tidak dibuktikan dengan penemuan nyata seperti saat Isaac Newton menemukan gaya gravitasi dan lalu mengelaborasi teori tentangnya. Penemuan galaksi tata surya hanya dengan sepandangan mata, melalui teropong berteknologi tinggi, lalu diolah dengan rumus sains. Kita tidak dapat melakukan perjalanan mencapai planet terluar, apalagi galaksi lain selain Milky-Way.
 
Intinya, sejauh ini galaksi berjumlah banyak. Tidak terhitung. Nah, disinilah muncul sebuah pertanyaan, apabila sebegitu banyaknya, kenapa tidak dibuat sederhana dengan memberinya nilai Nol? Toh sama-sama tidak dapat dihitung dengan jari. Seperti saat penemu Bahasa Inggris, entah siapa itu, yang memutuskan bahwa gula adalah jamak dan sebuah institusi yang menaungi ratusan kepala adalah tunggal. Keduanya tidak masuk akal ketika kita meniliknya dari logika secara jumlah per satuan. Namun, itulah cara termudah untuk mengungkapkan mereka agar dapat dimengerti.
 
Kebingungan yang sama juga dapat disangkutpautkan dengan pikiran manusia. Disini, anggaplah tata surya adalah ruang berpikir sedangkan galaksi adalah biji pikiran yang terbuntal bagai benang, berdesakan ingin unjuk diri sesering mungkin -- terutama saat tengah malam.
 
Daya pikir manusia itu luar biasa. Kita bisa menciptakan dunia yang serba baru dengan difasilitasi oleh imajinasi, meramu jalan kehidupan seseorang atau suatu kelompok melalui runtutan cerita bertajuk fantasi, serta menyimpan rahasia serapat-rapatnya tentang apapun yang ada di dunia.
 
Apa yang ada di dalam kepala manusia itu tidak terbatas. Apalagi bila ditambah dengan adanya kolusi perasaan yang entah kenapa senang sekali ambil andil dalam perkara mendramatisir keadaan. Kesenangannya adalah bersendu. Bagaikan penyair yang seringnya memberi narasi pada setiap detil kejadian bagai pertunjukan Broadway.
 
Ada satu hal yang membuat daya pikir manusia jauh lebih menang daripada tata surya. Adalah absennya alat bantu yang mampu meneropong jauh ke dalam lubuk hati. Bolehlah ilmu psikologi menawarkan berbagai pendekatan yang digadang mampu mengungkapkan isi hati serta pikiran manusia, namun sekali lagi, ilmu tersebut masih terbatas.
 
Tata surya dapat dengan mudah dipetakan dan diramal karena ia sesungguhnya hanya satu di jagad raya. Sedangkan ruang berpikir manusia adalah berbeda-beda di setiap kepala. Mengingatkan saja, jumlah manusia di dunia ada puluhan hingga ratusan juta.
 
Lalu, ilmu psikologi apa yang mampu memetakan satu persatu jagad pikir tiap manusia guna memperoleh hasil yang personal secara mendalam sesuai kepribadian? Hmm.. Mungkin aku terlebih dahulu belajar di jurusan psikologi.
 
Over all, secara kasat mata, yang ada di kepala itu tidak dapat dihitung. Sehingga pantasnya disebut tunggal. Namun ketika disebut tunggal, tidak selalu benar, mempertimbangkan adanya banyak satuan yang pantas dipertimbangkan. Oleh sebab itu, menurutku, pantasnya kita berikan saja atribusi Nol pada pikiran manusia. Hal ini jauh lebih adil untuk menganggapnya tidak ada sama sekali -- karena saking banyaknya -- daripada membuat iri oposisi binari yang setiap saat dapat dijungkir balikkan.
 
Kondisi yang sama juga berlaku sama pada tata surya.
 
Atribusi Nol adalah solusi tercanggih dari peradaban manusia masa kini. Dan hal ini baru saja diungkapkan olehku lewat rangkaian paragraf usang -- yang mungkin juga tidak akan dibaca oleh siapa-siapa. ............. Ya, sama-sama.