Embun

 
Kebajikan macam apa yang telah kamu perbuat sebelumnya, Embun, sehingga diberkahi kemampuan membaikkan orang lain? Walau kamu tidak sadar. Sebesar apa doa yang telah selalu menyertaimu -- yang kau tularkan pada orang-orang di sekitar, hingga membuat mereka ingin sebaik kau?
 
Embun, kamu pasti akan terkejut mengetahui begitu banyak bintang bersinar di atas kepalamu. Mereka menerangi setiap langkah. Langkahmu adalah pilihan, adalah mimpimu. Raihlah. Para bintang tersenyum untuk setiap tapak kaki yang kamu pijak. Kamu hanya perlu mendongak.
 
Embun, andai kamu sadar, betapa berartinya kamu bagi beberapa orang. Tawamu, mata bulan sabitmu, semangatmu, dan gelora ambisimu. Banyak hal yang melekat padamu menjadi inspirasi bagi beberapa nyawa, termasuk aku.
 
Andai kamu tahu. Andai kamu sedikit saja ingin tahu. Embun, kamu harus tahu.
 
Embun, aku selalu berusaha meringsek masuk ke dalam atmosfirmu yang selalu dianugerahi keceriaan. Agar aku bisa ikut merasakan rasa bahagia yang kau pancarkan. Karena, sejujurnya, aku jarang sekali bertemu seseorang yang mampu menciptakan pelangi di musim dingin, menabur benih bunga saat musim gugur, bahkan membawa surya di pangkuan sorot mata -- seperti kamu.
 
Embun, setiap kali bertemu, aku ingin sekali memasukkanmu ke dalam saku. Membuatmu hanya milikku. Karena kamu mempunyai sesuatu yang aku butuhkan. Sebuah rangkulan alam semesta yang belum sampai padaku, yang agaknya memiliki harapan tepat saat kamu pertama kali menyapa... beberapa tahun silam.
 
Aku membayangkan aku+kamu=kita pada setiap lamunan. Di kursi belakang mobil, di balik jendela kamar, di bawah atap rumah orang. Diikuti syahdunya alunan lagu Michael Jackson berjudul Love Never Felt So Good sebagai latar belakang.
 
Embun, akan kutulis lagi beberapa rangkaian paragraf untukmu. Aku hanya berharap tidak menemukan rangkulan alam semesta lainnya. Besar harapanku kamu adalah Matahari atau Bulan. Namun, kembali lagi pada fakta, saat ini kamu hanya sebuah bintang.