Aku Sudah Kebal

Pic: Gambar yang kusimpan sejak 2011.
 
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Masih ada banyak waktu sebelum jam tidurku akhirnya berdenting. Kantukku belum datang.
 
Di tengah keramaian kepalaku, aku sengaja membuka brankas perasaan yang kuncinya sempat kubuang jauh sampai ke Andromeda. Malam ini aku ingin mengenang rasa itu. Getaran yang merontokkan lutut hingga rasanya ingin terbuai di pangkuan seseorang. Getir yang menusuk, menyedot segala harap hingga tak ada yang tersisa selain ampas asa.
 
Sebut saja dia dengan inisial E.
 
E adalah rotasi yang sebelumnya sempat kuhinggapi (aku akhirnya memilih terbang dan tidak hinggap pada apa-apa).
 
Dulu, E adalah penerang bagiku. Aku pun penerang baginya. Kebersamaan kami begitu indah, seperti bumi ribuan tahun lalu; hijau, rindang, asri, belum terjamah. Itu sebelum segalanya berakhir pada kiamatnya cerita. Pengkhianatan, ketidakpeduliaan, dan jarak. Kami saling memadamkan lilin. Memutuskan berjabat tangan untuk terakhir kali, lalu berpaling dan mengambil jalan masing-masing.
 
Andaikan aku bisa mengungkapkan rasanya. Tapi aneh sekali, malam ini aku tidak bisa mengingat apa-apa. Perasaan itu, cinta dan sakit, kesemuanya ada di dalam brankas yang baru saja aku buka. Hanya saja, tidak ada rasanya. Semuanya hampa. Seperti sambal yang tidak pedas, percuma.
 
Akhirnya aku percaya bahwa ternyata aku sudah kebal. Bahwa tak ada satupun rasa yang tertinggal. Bahwa tadi siang hatiku berkata benar.
 
Saat lunch di sebuah restoran Jepang tadi, E tiba-tiba meraih pundakku dan menyapa seperti sudah seabad tidak bertemu. Wajahnya menggurat senyum yang aku kenal (dulu senyum itu terasa hangat, sekarang terasa seperti ngengat). Aku yang duduk sendirian kaget dan seketika jengah, walaupun begitu aku tetap berusaha sopan.
 
Dia membawa seorang gandengan -- aku kenal wanita itu, salah satu temanku sendiri. Melihat mereka, aku tidak merasakan apa-apa. Sedingin es, sekeras batu. Seperti mati rasa. Tidak ada rasa sakit atau cinta. Datar bagai samudera tanpa angin. Kupandangi keduanya dengan seksama secara bergantian. Kupikir, cocok kok, aku turut bahagia. Dan ketika aku berkata ‘bahagia’ sebenarnya aku tidak merasakan apa-apa.
 
Sudah terlalu lama semenjak kami memutuskan untuk berhenti merintis satu jalan untuk berdua. Andaikan aku bisa memutar waktu, ingin rasanya berteriak pada diriku untuk berhati-hati pada teman sendiri, untuk mencintai lebih besar.. untuk memantaskan diri.
 
Tak ada yang berarti lagi sekarang. Aku dan E adalah gumpalan masa lalu yang sudah saatnya dimuseumkan.
 
Kututup brankas perasaanku. Kali ini aku sudah siap untuk membuang kuncinya di sudut terpojok Andromeda. Terpojok dan terdalam. Berjanji tidak akan mengutak-utiknya lagi.
 
Suatu saat ketika kita bertemu lagi, E, aku sudah kebal. Dan aku tidak akan meminta maaf.