Widy: Kenapa Aku Adalah Aku?

 
Pemikiran sebelumnya: Widy: Pendalaman Sore.
 
Sunyi menggantung di langit malam, senyapnya terdistraksi oleh suara seret kakiku yang pelan namun nyaring. Dengan tapak kaki tanpa jejak namun terarah. Hari ini aku kembali bergulat dengan pemikiran dan pertanyaan yang harus kucari sendiri jawabannya.
 
Biasanya aku berbincang dengan diriku pada sore hari. Kebetulan hingga petang harus bekerja lembur. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri trotoar komplek yang jauhnya delapan blok sampai ujungnya menyapa jalan raya.
 
Kebetulan juga, hari ini Fany (si hati) dan Inthon (si pikiran) sedang tidak ingin berdebat dan sepakat menyerahkan semua argumentasi pada induk inangnya, aku.
 
Belakangan, aku menyadari sesuatu yang baru tentang diriku sendiri. Sebagian dari diriku yang berkata ‘ya’ dengan tandingan elakan bernada ‘tidak’ (atau sebaliknya), sementara sesuatu yang lain menggoda dengan berseru ‘hayo, ya atau tidak?’. Rasanya ada tiga suara menggaung saat akan/sedang/telah diambilnya setiap tindakan. Mereka saling timpal imbuh layaknya subtitle yang terpampang di setiap scene.
 
Tiga suara ini bukan dari Fany ataupun Inthon. Mereka adalah sesuatu yang berada jauh di lubuk permukaan diri. Seperti palung, namun ujungnya berbeda, karena bukannya meruncing, mereka justru melebar. Mudahnya, bayangkan saja sebuah kondisi; kau sedang di sebuah pesta, lalu tiba-tiba kau mendengar tiga suara ini dari ‘dalam’:
 
A: Ramai sekali disini. Ayo pulang. Enak di rumah, santai nonton TV. 
B: Loh ‘kan biar eksis. Disini saja. Gaul. Temannya banyak. 
C: Eh, lagi debat ya?
 
Percakapan sejenis diatas selalu hadir pada setiap momen keseharianku. Tidak masalah apabila aku memiliki dua kutub berlainan antara ‘ya’ dan ‘tidak’. Namun ketika ada kutub asing, si Suara C, yang fungsinya menyadari segala sesuatu yang aku perdebatkan, hingga bahkan terlalu peka, menggoda, dan bersinis ria, bisa gila rasanya.
 
Dengan hadirnya Fany dan Inthon saja sudah habis akal. Ditambah tiga suara berkutub tak sama. Pikiranku jauh lebih ramai dari mall saat libur panjang.
 
Apabila kau tidak mengerti apa yang aku katakan, tidak masalah. Aku pun susah payah menerjemahkannya dalam kata karena saking tidak mengertinya (juga).
 
Selain menyadari keberadaan tiga suara tersebut, aku juga sedang berotasi pada kegelisahan yang kesemuanya tentang diriku sendiri. Tentang hasrat dan bagaimana aku membatasinya. Tentang ekspektasi, pencapaian, keburukan diri, hingga kegagalan.
 
Pemikiran-pemikiran ini mencekokiku dengan pertanyaan yang, sungguh, aku tidak yakin akan jawabannya. Karena aku berdiri di lingkaran sudut pandangku sendiri dimana benar dan salah serta kemutlakan menjadi terlalu subjektif. Kita sama-sama tahu, kemutlakan adalah mustahil, apalagi bila berdasarkan pendapat satu orang. Kita tidak sedang hidup di dunia ideal-nya Plato. Lalu kenapa justru aku merisaukan kemutlakan apabila jawaban tersebut hanya untuk diriku, disaat aku sendirilah yang menilai? Entahlah, aku juga ingin tahu kenapa.
 
Beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh korteks di dalam kepalaku akhir-akhir ini bersifat self-evaluation, dan mereka dapat disederhanakan dalam dua pertanyaan ultimasi:
 
Kenapa aku adalah aku?  
Sedangkan mereka adalah mereka?
 
Aku penasaran, kenapa segala yang ada di dunia ini diciptakan berbeda-beda? Lalu dalam perbedaan, bagaimana bisa kita menentukan apa yang lebih dan kurang, apa yang benar dan salah, apa yang ini dan itu? Ketika standar ketepatan pada jawaban tersebut saja berubah-ubah mengikuti perkembangan denting jam. Seperti pada tahun ‘80-an alis tipis berbentuk U tertelungkup adalah tren wanita sosialita, sedangkan jaman sekarang yang berbentuk tebal bagai ulat bulu menjadi idaman.
 
Tren seperti ini tidak dapat stagnan. Sekelompok orang bisa memplintir tren tersebut berdasarkan kesepakatan bersama. Hingga mungkin, tiba-tiba esok hari apa yang kita anggap benar adalah salah dan salah adalah benar. Pada saat inilah perbedaan itu sendiri menjadi jurang pembeda sekaligus umpan kebangkitan serta kejatuhan.
 
Aku penasaran, kenapa aku berbeda dengan orang-orang lainnya? Tubuhku kurus jangkung dengan kekontrasan perut yang buncit. Rambutku hitam bergelombang yang susah sekali dirapikan. Kulitku sawo legam belang-belang di bagian kaki dan tangan. Itu baru secara fisik sudah berbeda dari standar ‘wanita cantik’ abad masa kini. Belum secara mental.
 
Seperti yang kalian duga, aku ini pribadi serumit tumpukan jerami pada musim panen. Tidak pernah sedetikpun kepalaku beristirahat dari menghitung, mempertimbangkan, dan merencanakan. Bahkan satu jam ke depan aku sudah punya rencana mau berbuat apa.
 
Kekompleksanku tidak hanya berhenti disitu. Aku terlalu banyak berpikir tentang hal yang normalnya tidak harus selalu dirisaukan, khawatir secara berlebihan, bersedih tentang yang harusnya dilupakan. Terlalu banyak berpikir kadang membuatku merasa hampir gila. Ingin rasanya rihat sejenak, bersantai tanpa diselimuti kerisauan. Namun seperti anak itik yang tidak bisa lepas dari induknya, pribadi dan pikiran tidak bisa dipisahkan.
 
Yang membuatku makin tak mengerti adalah bagaimana anehnya piribadiku ini. Keanehan ini mengeram di bawah lapisan kulitku. Aku senang hal-hal yang kebanyakan tidak disenangi dan membenci yang biasanya disukai. Aku juga lebih banyak menyendiri -- padahal dunia ini adalah ritme sosial yang tidak berhenti berkata ‘apa kabar’ walaupun baru saja mengucap ‘selamat tinggal’.
 
Semua ini membuatku merasa berbeda dari orang kebanyakan. Teralienisasi oleh jurang perbedaan. Apakah salah apabila aku tidak sama? Hingga pada suatu titik aku berpikir, apakah ada tempat di dunia ini untuk manusia sepertiku? Atau perlu aku beringsut di bawah meja agar memberikan tempat bagi yang lainnya?
 
Namun, kembali lagi pada argumentasi bahwa raya ini penuh tren tidak terduga. Hari ini boleh saja aku merasa dan terlihat berbeda, seperti alien yang melipat diri berkali-kali agar muat di sela-sela kerumunan. Besok bisa saja yang berambut pirang dan bertubuh seksi, yang outgoing dan senang bersosialisasi, adalah ketinggalan jaman. Justru orang-orang berpikiran kompleks sepertiku yang jadi idaman.
 
Mungkin saja. Aku bertaruh pada keajaiban.
 
Akhirnya aku sampai di ujung trotoar komplek. Di hadapanku terhampar jalan raya yang merupakan perbatasan antara pusat dan pinggir kota. Sekarang saatnya berbalik, berjalan kembali lagi ke rumah. Kira-kira, pembahasan apalagi yang perlu kupikirkan?