Dari Euphorbia, Untuk Berry

 
Akhirnya kita berjumpa lagi, Berry, setelah beberapa lama kuhapus dirimu dari segala kemungkinan atas temu sapa. Senang melihatmu kembali dari balik jeruji dunia maya.
 
Sebelumnya, biar aku jelaskan dulu, kenapa aku menyebutmu Berry. Tidak ada hubungannya dengan buah atau filosofi dibaliknya. Ini hanya permainan kata. Semoga kau cukup pintar untuk memahami.
 
Kali ini ijinkan aku memberitahumu beberapa hal yang tidak sempat aku sampaikan. Sebagian besar adalah jawaban atas permasalahan dimana tiba-tiba kau mendiamkanku, tanpa bertanya ‘kenapa’, tanpa meminta secuil penjelasan. Sebagian kecil adalah ungkapan perasaanku tentang segala kesempatan yang kau buang, dengan alasan ‘belum saatnya’, ‘Tuhan belum merestui’, dan ‘aku ada tugas kelompokan’.
 
Berry, hingga sekarang aku masih bertanya-tanya apakah sebenarnya kita saling mengenal. Entah bagaimana berawal, kita membangun kemungkinan-kemungkinan (yang kini kupikir sekadar bayanganku saja). Berkomunikasi bagai ombak pasang-surut, berbulan-bulan pasang, lalu beberapa saat kemudian surut selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya sebuah percikan api membawa kita berbincang lagi lewat rentetan ketikan huruf.
 
Percakapan yang tidak biasa. Perhatian secara lebih yang sepertinya tidak perlu diberikan. Pertemuan yang tidak pernah diadakan. Kau tidak seharusnya memperlakukan seorang wanita bagai layang-layang. Bertanya kabar lalu merancang masa depan tanpa ketegasan.
 
Padahal sebuah temu adalah penting untuk memantapkan hati. Kalau alasanmu adalah ‘bisa nanti’ dan ‘Tuhan belum mengijinkan sekarang’, maka semua kesempatan yang terlepas merupakan kesalahanmu sebagian besar. Sebagian kecilnya kesalahanku yang terlalu lama bergantung pada angin kosong berbalut dunia virtual.
 
Harus kuakui kau adalah tiket berlayar ke lautan berombak tenang. Gaya hidupmu yang sederhana, keinginan kuatmu untuk sebuah penghidupan yang lebih baik, pengetahuanmu yang lumayan tentang Tuhan, latar belakangmu yang berbasis kekeluargaan, dan pribadimu yang sarat keceriaan. Siapapun pasti ingin berjuang denganmu, termasuk aku (dulu). Mengejar yang ada di depan. Kau berlari, dan aku berenang.
 
Ada beberapa alasan, Berry, kenapa aku dulu sempat tak menggubrismu ketika sedang berada di pulau Dewata. Pertama, aku memiliki tanggung jawab besar dan ponsel bukanlah prioritas utamaku ketika itu. Kedua, kita sudah sama-sama dewasa untuk tahu bahwa sesuatu yang berkutat pada maya, akan selalu menjadi maya.
 
Begini, Berry, menurutku maya tidaklah nyata. Apabila kita membangun sesuatu yang berdasarkan serbuk-serbuk di udara dunia virtual, maka sesungguhnya pondasinya hanyalah ide dan bayangan tentang apa yang kita inginkan. Bukan yang sesungguhnya, bukan yang sebenarnya. Karena, sekali lagi, semua hanya maya. Dalam hal ini seharusnya kita berhati-hati -- siapa tahu ternyata tertipu.
 
Seseorang dari masa laluku, yang kuberi nama Skyscrapper, pernah berpesan:
"Apabila kau tidak melihat adanya masa depan dirimu pada seseorang, jangan sekali-kali memberi harapan seperti tali itu suatu saat akan tersimpul. Patahkan sekarang, sedari awal. Kejahatan paling kejam dalam urusan hati adalah memberi harapan palsu."
Pesan itu tidak pernah kulupakan. Aku praktekkan pada setiap bakal calon awal kisah yang parau. Selalu kututup pintu pada apa yang tidak aku inginkan. Namun, apabila aku pernah membukanya dan menunggu cukup lama untukmu, kau mengerti ‘kan betapa aku mengharap masa depan di dalam matamu yang tidak pernah kupandang itu?
 
Beberapa lama aku berdiri di ambang pintu. Menyaksikanmu selangkah maju lalu selangkah mundur, seperti serdadu yang bimbang memilih berperang atau pulang. Kemudian, aku tidak tahan.. aku tidak bisa selamanya berkutat pada titik yang tidak maju-maju. Itu lah alasanku menutup pintu. Menghalau segala kemungkinan atasmu padaku dan atasku padamu dengan sebuah ketegasan.
 
Apabila kita berjodoh, itu pun bila Tuhan mengijinkan, kita akan bersimpul, Berry. Seperti yang selalu kau katakan dulu.
 
Semoga suatu saat kita bisa bertemu.
 
Salam, 
Sosok nyata dibalik foto-foto yang kau simpan, Euphorbia.