Embun: Bola dan Karakter Cerita


Surat-surat sebelumnya: Dari Euphorbia, Untuk Embun & Embun
 
Halo, Embun, kali ini aku tidak akan menyembunyikan namamu lagi dibalik saku. Bahkan ketika aku menulis ini, kita sedang duduk bersebelahan. Menikmati malam yang dirundung hujan. Aku meminum kopi dan kau menyeduh teh kesukaanmu.
 
Seharusnya, surat semacam ini ditulis diam-diam. Sembunyi-sembunyi dibalik semu identitas yang membuat pembacanya bertanya-tanya apakah ini untuk dia. Tapi lihatlah, kau merengek minta dituliskan lagi satu, setelah memberondong pertanyaan mengenai maksud dari dua sebelumnya.
 
Aku harus menghela nafas panjang sebelum menuruti sifat kekanakanmu.
 
Satu hal yang selalu mengingatkanku tentangmu, Embun, adalah bola. Kegilaanmu dengan Barca dan malam-malam panjang yang kita habiskan berbincang hingga kehabisan kata. Kau adalah rutinitas harian sebelum dan setelah tidur. Kita adalah dua sahabat yang selalu berbagi senang dan derita, menerjang dunia dibalik segala rasa.
 
Setelah aku mengungkapkan, kau pun mengatakan segalanya. Hingga kita sampai pada satu kesimpulan bahwa rasa itu ada, namun tidak lebih dari sekadar pengisi kekosongan. Tidak pernah memerlukan simpul. Seperti hujan yang sedang kita tatap sekarang, setelah nanti reda, bumi hanya basah sebentar lalu kembali seperti sedia kala.
 
Malam-malam yang kita habiskan berdua -- di bioskop, di teras rumahku, di kamar kosmu, di warung burjo, di atas sepeda motor, di acara yang kita hadiri bersama -- adalah momen dimana kita hanya pria dan wanita yang membutuhkan teman. Dua manusia yang perlu penyeka kesendirian. Sepasang anak muda yang mengharap sosok di samping badan.
 
Kita secara tidak sadar menempatkan diri sebagai pemberi dan penerima komoditas kebutuhan yang teknisnya sama. Simbiosis mutualisme.
 
Orang-orang selalu berkata ‘Kalian kelihatan cocok sekali, hlo!’. Padahal tidak tahu saja, bahwa selalu ada tawa sesaat setelah siapapun dari kita yang bercerita ‘Masa tadi X ngira kita pacaran’. Tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut. Meski berkali-kali aku mendapati beberapa tawa yang dipaksakan.
 
Bagimu aku seperti bola yang kau agungkan. Yang kau tunggui di tengah malam, yang kau mainkan seminggu sekali di lapangan futsal, namun tidak pernah digeluti secara profesional.
 
Sedangkan bagiku, kau adalah tokoh dalam cerita fiksi yang kutulis. Pribadi yang kubutuhkan sebagai gambaran tentang pria idaman. Aktor yang kuberi atribusi sifat dan tabiat berdasar imajinasi. Sejujurnya aku penasaran, apakah selama ini aku memandangmu sebagai dirimu sendiri atau sebagai refleksi figur dari dirimu yang sengaja aku ciptakan?
 
Embun, pada akhirnya kita memiliki konklusi, setelah sekian lama berkutat pada deguban dan kebingungan. Bahwasanya aku adalah bola dan kau adalah karakter cerita. Selamanya.
 
Aku tidak akan menyebut deguban itu palsu. Pun kebingungan ini benar adanya.. pria dan wanita macam apa yang merasa biasa saja pada sebutan ’kawan’ dikala saat berdua rasanya penuh bunga?
 
Oh, lihat saat ini kita sama-sama tertawa menanggapi paragraf barusan.
 
Hujan baru saja reda, Embun. Mari kita nikmati bau hujan yang tertinggal diatas tanah depan rumah. Seperti titik-titik kenangan yang menempel di ingatan sebelum akhirnya terlupakan.