Jahat

Bagiku dunia seperti sebuah pertunjukan drama. Dengan mengambil posisi di kursi penonton, aku menyaksikan orang-orang bergumul dalam peran. Aku hanya duduk sambil sesekali beranjak untuk menyelesaikan urusanku sendiri. Apatis. Individualis. Sering kucoba memecah lapisan yang menempel diatas kulitku, namun selalu gagal. Jiwaku selalu menemukan cara menyelinap ke bawah selimut dan sela-sela bantal.

Aku payah sekali dalam hal mengungkapkan perasaan. Beberapa orang berhasil menembus pertahananku. Mereka terus datang dan datang, meski aku berkali-kali berperaga menolak. Berarti sekali rasanya.. memiliki mereka. Namun kepayahanku selalu ambil peran. Aku menghunus pedang pada mereka yang peduli. Hingga akhirnya aku harus melipat diri, menyesal setengah mati karena menyakiti. Lucunya, tanpa bergeming aku tetap menahan pedang di tangan.
 
Maaf karena aku selalu mundur setiap kali kau berbaik hati. Aku sangat mengenal tabiat burukku, bahwa pedang di tangan siap menghunus, bahkan ketika aku tidak menginginkan. Oleh karena itu, kau harus segera pergi sebelum kekejianku mencuat ke permukaan.
 
Setiap hari ketika senja menyapa, aku harus kembali ke balik dinding pertahanan diri. Menahan segala perasaan meski rasanya ingin meledak penuh cinta, penuh rasa.
 
Aku orang jahat. Kau harus berhati-hati.