Semoga

 
Seperti debur ombak, ia melaju dan memacu, beberapa saat datang lalu pergi. Menyapu pasir pantai yang termangu menatap matahari terbenam. Pasir pantai, ketika ditanya kenapa ombak harus menerpanya, pasti tergagu tidak tahu. Sama seperti ketika seorang anak manusia jatuh cinta. Cinta sulit sekali dicari alasannya.

Tidak peduli hanya berapa kali pertemuan atau berapa lama pembicaraan. Kita bisa sangat tergila-gila pada seseorang. Hingga akhirnya rasa gila itu menjadi cinta. Kasih kepada sesama yang nilainya lebih dari apapun, karena kasih yang satu ini sebagai pengharapan akan masa depan, pendamping suka duka, dikala sehat dan sakit serta jatuh dan bangkit.
 
Tidak butuh alasan. Hati mengenali hal-hal baik di sekitarnya, dan ketika ia menemukan yang sesuai, maka ditepislah semua kekurangan. Menerima sepenuh hati, mencinta sampai mati.
 
Pun terkadang cinta tidak butuh balasan. Cukup mengamati dari kejauhan, dari balik tembok maya ataupun nyata, menyaksikan belahan jiwa berbahagia dengan hidupnya -- atau mungkin dengan pasangannya. Mengambil kursi penonton, menjadi penikmat kisah hidup orang yang dicinta, sembari memanjat butir-butir doa atas segala ‘semoga’.
 
Semoga dia didampingi seseorang yang baik.
 
Semoga dia dikelilingi oleh orang-orang baik.
 
Semoga dia diberkahi pekerjaan yang baik.
 
Semoga dia selalu berbahagia,
 
sehingga aku juga bisa,
 
ikut berbahagia.