Meja Mahoni

“Kastil yang arsitekturnya indah ala Eropa, tapi interior di dalamnya mentok meja mahoni. Itu perumpaan yang menggambarkan Ani. Memasuki kastil itu dengan menyernyitkan dahi. Itu bagaimana perasaanku terhadap hubungan kami,” Tegas Fitra dengan puitis, sembari tangan kanannya menggapai sesuatu di udara, entah apa.
 
Aku hanya mengangguk sekejap. Penampilan band indie yang sedang berlangsung di kafe agaknya lebih menarik daripada kisah roman picisan. Kusesap rokok di tangan untuk terakhir kali, lalu melemparnya ke asbak di atas meja. Sebotol bir telah menemukan jalannya di sistem pencernaan. Sudah waktunya memesan botol kedua.
 
“Mas, satu lagi ya,” Lambaiku pada salah satu pelayan.
 
“Nih ya, kalo WA dia ga aku bales dalam lima belas menit, dia bakalan telpon dan konfirmasi keadaan! Bak agen intelejen meminta kepastian misi kehidupan! Bisa gila!”
 
Akhirnya Fitra mendapat perhatianku, “Ya kenapa mulai?”
 
“Mulai apanya?”
 
“Pacaran sama Ani, lah! Menyesali keputusan sendiri dan maki-maki. Itu namanya membodohkan diri sendiri. Kamu yang gila.”
 
Fitra menghela nafas sekejap, bersiap-siap untuk menyerbu penjelasan, “Dulu dia ngga seperti itu. Pertama lihat ya, aku udah jatuh cinta. Cantiknya minta ampun! Orangnya baik juga. Dia pujaan di kampus dan bahkan di kantor. Bidadari ternyata mau sama makhluk kayak aku. Ya mana bisa ditahan.”
 
“Kamu tampil di hadapannya pakai seragam sih. Lencanamu berbinar, menyilaukan,” Sanggahku.
 
“Itu kan senjataku biar dapat cinta. Jaman sekarang, siapa yang ngga kelepek-kelepek sama tentara.”
 
Botol bir keduaku sudah hadir di hadapan. Aku harus segera meminumnya, sebelum secara tidak sadar aku melemparkannya ke kepala pria kekar di hadapanku ini, “Berapa duit keluar setiap bulan?”
 
At least dua juta,” Jawab Fitra singkat.
 
“Lalu apa timbal baliknya?”
 
“Maksudnya?”
 
“Timbal balik.”
 
“Sisca! Ngomong yang jelas sih!”
 
“Isinya Fitra! Isi Kastil megah itu apa? Kepintaran, keahlian? Dengan dua juta sebulan itu kamu dapat bonus apa selain wajah cantik, bodi bohai, dan kebanggaan punya pacar dandanan artis?,” Cercahku tidak sabar.
 
Sejam yang lalu aku masih berlapang dada mendengar keluhan tentang hubungan yang baru berumur empat bulan ini. Sekarang telingaku mulai panas. Aku hanya ingin bersantai menikmati malam sembari mendengar lantunan lagu live di tengah kota Jogja yang dirundung hujan.
 
Fitra memutar kedua bola matanya, “Ya yang tadi aku bilang. Mentok meja mahoni.”
 
“Hahahahahaha!,” Aku terbahak antara kasihan dan geli tidak tertahan. Kuputuskan roman picisan ini tidak seharusnya kuberi perhatian. Pandanganku kelempar keluar jendela, sementara telinga hanya kupasang untuk mendengar perpaduan air hujan dan alunan lagu penghantar tengah malam.