Secangkir Teh Genmaicha

 

Kulihat dia menatap keluar jendela, lamat-lamat menerawang langit malam. Wajahnya memancarkan air muka yang telah kuhafal empat tahun belakangan. Raut yang hanya menggurat setiap dia mengira aku tidak sedang melihat. Dibalik tatapan dan bibir yang mengatup itu, terdapat dunia yang hanya dimengerti olehnya. Dunia yang tidak dapat aku jangkau. Tidak jarang kudapati kedua matanya sayu, digelayuti bongkahan es seakan tak sabar ingin meleleh.

Dia tidak tahu bahwa aku tahu.

“Ini teh genmaicha kesukaanmu. Yang ini asli dari Ciwidey, oleh-oleh minggu kemarin,” aku menyodorkan secangkir teh, “Minum biar lebih sehat.”
 
Ia menoleh. Air mukanya berubah, rautnya kembali hangat. Sebuah senyum dilemparkannya padaku, senyum yang teramat menentramkan, “Thanks. Udah sehat kok. Nggak lihat bugar begini?”

“Makanya jangan semua pekerjaan ditangani sendiri. Kamu itu manusia, bukan robot. Memangnya keren pingsan di bandara gitu?” aku sekarang berdiri di sampingnya. Kami berdua di antara empat siku-siku jendela.

“Hmm..,” Dia hanya bergumam. Masih menoleh padaku tanpa melepas pandangan.

“Makan yang teratur dan istirahat. Itu kuncinya. Jangan naik gunung terus setiap akhir pekan. Memangnya kamu itu juru kunci pendakian apa? Dikurangin ya?,” kubalas tatapan matanya.

Dia hanya diam. Masih menatapku, tersenyum simpul. Aku menaikkan kedua alisku sebagai tanda meminta tanggapan. Dia mengangguk pelan, “Iya.”

Kami kembali melayangkan padangan keluar jendela. Terdiam lama. Mengagumi langit malam yang bintang-bintangnya malu-malu untuk menunjukkan diri. Kurasakan tangan kanannya meranggah pundakku, erat sekali. Malam ini kami sama-sama butuh kehangatan --baik secara fisik maupun mental.

Aku tidak lagi malu untuk meluberkan segala perasaanku. Dia tidak lagi defensif. Hangat, perhatian, pengertian.. tempat untuk pulang. Membuatku ingin kembali dan terus kembali. Hingga saat ini kami terbiasa meminta dan memberi, karena komoditas yang kami perlukan serta tawarkan pada dasarnya sama.

“Besok penerbangan jam berapa?,” tanyaku memecah keheningan yang sudah seperempat jam menggantung di udara.

“Enam pagi,” jawabnya singkat setelah menghabiskan seruput terakhir teh genmaicha.

“Aku buatin sarapan ya?”

“Kuah ya, pakai telor.”

“Eh?”

“‘Kan dapurmu juga dapurku. Aku tahu hanya ada stok Indomie,” senyum jahil mengembang di wajahnya. Aku hanya mendengus.

Setiap pulang ke Jogja, dia selalu menginap di rumahku. Seminggu terakhir ini juga. Kami terlelap di ranjang yang sama, berhadap-hadapan saat bangun esok pagi. Makan di meja yang sama. Menonton televisi di sofa yang sama. Berbagi kamar mandi yang sama. Kami sudah cukup dewasa untuk aktifitas-aktifitas semacam ini.

Dia kini beranjak dari hadapan jendela lalu duduk di tepi tempat tidur, masih menggenggam cangkir teh genmaicha, “Tanggal 25 nanti aku pulang. Katanya kamu minta ditemani ke acara reuni SMA?”

Aku terdiam sejenak. Bersiap untuk menangkap ekspresi itu. Raut muka yang tidak pernah bisa aku mengerti, mata sayu yang menggelayut diatas tulang pipinya yang menonjol, “Ilham katanya yang mau menemani,” jawabku dengan tatapan siaga.

Ah. Kutangkap lagi raut muka dan mata sayu itu. Keduanya muncul seperti kilat yang menebas pohon di bumi. Dia tidak menyadarinya.

“Oh, Ilham pulang ke Indonesia?”

“Iya.”

Dia tidak menanggapi. Hanya melempariku dengan sebuah senyum simpul.

“Dino..”

“Hmm?,” dia memiringkan kepala, masih tersenyum simpul, “Sudah tidur saja. Besok kita harus bangun pagi,” ucapnya lembut. Dia menaruh cangir teh di meja, menempatkan dirinya di sisi kanan tempat tidur, lalu menepukkan tangannya di sisi kiri untuk memberi tanda bagiku agar segera berbaring.

Aku dan Dino menghabiskan malam seperti malam-malam sebelumnya.. berbagi kebahagiaan, kesedihan, dan kekosongan. Esok dia harus segera kembali ke Tembagapura, kembali bergelut dengan helm proyek dan maket desain.

Kami terlelap dibawah naungan langit malam. Cahaya bulan beriringan memasuki jendela kamar yang sengaja dibuka, menerpa wajah dua insan yang sedang tukar-menukar komoditas: jual-beli perasaan.

-------------------------------------------------------------

Aku memainkan dua cangkir teh di tanganku.

“Genmaicha.. genma.. icha.. gen.. ma.. i.. cha..,” ucapku berulang-ulang seperti sedang menilik jawaban di sela-sela rangkaian frasa.

Aku tidak pernah bertanya kenapa Dino senang sekali dengan teh genmaicha. Dia pernah memberitahu bahwa dia hanya meminumnya ketika bersamaku. Aku pun sepertinya tidak membutuhkan penjelasan atas pertanyaan ‘mengapa’. Aku tahu benar bagaimana semua ini berawal.

Segelas teh membawa kami berdua pada rengkuhan pertemuan.

Lima tahun lalu, tahun pertama studi sarjana di Keio University Tokyo. Hari pertama perkuliahan. Habis-habisan aku mencoba menyesuaikan diri, mempersiapkan untuk dunia perkuliahan di negeri orang. Lalu hari itu, pada hari pertama, aku berhasil melewati hari dengan mulus, berkenalan dengan beberapa orang yang nantinya menjadi sahabat-sahabatku. Salah satunya adalah Dino.

Usai perkuliahan, dalam perjalananku menuju apartemen, aku mampir ke sebuah kedai pinggir jalan yang menyediakan berbagai minuman. Aku memesan segelas teh genmaicha, duduk sendirian di meja pojok ruangan sambil merayakan keberhasilanku beradaptasi. Seketika seorang yang asing menyapaku, meminta ijin untuk bergabung. Aku pun senang hati menyambut seorang bakal calon teman baru.

Setelah tukar-menukar percakapan, kami menemukan beberapa persamaan: asal Indonesia, pertama kali mencicipi teh genmaicha, studi di universitas sama walaupun berbeda angkatan, baru saja kandas dalam percintaan.

Sore itu kami berdua tenggelam dalam obrolan panjang. Satu yang tidak kami rencanakan, bahwa sejak hari itu kami akan saling memperbaiki, hingga sekarang. Bertukar peran menjadi lem kastol dan gerabah ringkih. Ada sesuatu diantara kami yang saling mengikat. Dua cangkir teh genmaicha di atas meja menjadi saksinya.

“Aku barusan transfer sepuluh juta ke rekeningmu,” suara Dino membangunkanku dari lamunan. Dia baru saja selesai mandi. Bercelana jins dan berkaos V-neck, rambutnya basah menimpa sudut-sudut wajahnya, “Cukup, ‘kan?”

Aku menyodorkan cangkir teh ke sisi meja di depanku, “Cukup, kok.”

“Kalau aku ke Jogja bulan depan, aku transfer lagi.”

“Iya, bos. Ayo sarapan dulu.”

Dino menyantap semangkuk Indomie dengan lahap. Apa saja yang kumasak, selalu menjadi favoritnya. Meskipun hanya makanan cepat saji sekalipun.

“Enak ya jadi aku. Menampung kamu seminggu di rumah, eh dapet seperseratus milyar,” cetusku terbahak yang dibalas sepelototan mata oleh Dino.

“Lu jual gue beli,” katanya ketus.

“Lu juga jual, gue juga beli,” balasku tidak mau kalah. Karena bagaimanapun, kami sama-sama penjual dan pembeli sebuah komoditas yang sama. Berperan sebagai produsen dan konsumen.

Kami terdiam beberapa saat. Aku hanya termangu menatap Dino selagi menghabiskan sarapannya.

“Kamu masih sering galau karena Hendrik?,” pertanyaanku menjadi kilat di siang bolong. Dino butuh beberapa saat untuk menjawab setelah tersedak mendengarku bertanya.

Sure. Dia ‘kan cinta pertamaku,” jawabnya, “Tapi dia brengsek. Teganya ganti orientasi hanya karena seorang komikus amatiran. Kalau hari itu aku ngga ketemu kamu di kedai teh, aku pasti udah bunuh diri, lompat dari jembatan penyeberangan. Cinta bullshit. Ngga lagi deh nerima dia di hidupku. Dicoret dari daftar nama masa lalu!”

“Tau gitu, masih suka digalauin?”

“‘Kan cinta pertama. Galaunya seumur hidup,” dia menjawab dengan sorot mata tajam.

Ah. Selain raut wajah sayu yang sering disembunyikannya, aku mendapati dia menyematkan penekanan ketika berucap. Terutama setiap membahas topik ini. Penekanan. Positif kuat yang menandakan negatif, begitu pula sebaliknya. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya aku tahu. Hendrik hanya kambing hitam. Bukan, bukan cowok metropolis itu yang menyumbu murung dan bongkahan es di mata Dino.

Why did you ask?,” dia menaikkan salah satu alisnya.

Nothing. Glad to spend hundreds of nights and mornings with you,” balasku.

“...and my money, too?,” cetusnya.

Of course,” aku terbahak.

Setelah menghabiskan sarapan dan teh genmaicha, kami bergegas menuju bandara. Ada jadwal pesawat yang harus segera Dino kejar. Percakapan barusan telah membuat kami lupa waktu. Sudah biasa. Kami selalu lupa waktu ketika sedang berdua.

-------------------------------------------------------------

“Gimana keadaanmu? Sedang apa sekarang?,” tanyaku pada Dino lewat sambungan telepon. Sudah tiga hari semenjak dia kembali ke Tembagapura, namun aku baru bisa menguhubunginya sekarang.

Ada jeda cukup lama di seberang sana. Lamat-lamat kudengar suara gemersik buku yang dibolak-balik dan cangkir yang diletakkan dengan mantap diatas meja kaca . “I am doing great and healthy. Sedang asyik baca Into The Wild-nya Jon Krakauer.”

“Buku apa?,” aku yang tidak pernah tertarik dengan buku fiksi, hanya sedang basa-basi bertanya.

“Ini bukan fiksi,” jawabnya seperti bisa membaca pikiranku, “Buku ini ditulis seorang reporter, menceritakan kisah nyata seorang pemuda yang melepas kenyamanan yang diberi orangtuanya yang super kaya, supaya bisa tinggal bersama alam, mencari kebebasan.”

What has this book already caused to your personal life?”

Dino di seberang sana tertawa, “Kemarin aku bertengkar sama papa mama. Menolak kiriman uang mulai bulan ini biar mereka bisa berhenti menggunakannya untuk menyetir keputusan-keputusan hidupku,” dia memberi jeda sejenak, “aku juga melepas saham yang udah mereka kasih.”

“Gila kamu Dino, gila,” aku menggeleng kepayahan meski Dino tidak bisa melihat. Hal seperti ini selalu terjadi setiap kali dia membaca buku baru. Drama kehidupan akan selalu terjadi sebagai efek samping pemahaman nilai moral yang disematkan oleh buku yang belum tentu sesuai dengan hidupnya. Semua orang bisa menjadi sasaran drama. Dimulai dari teman, rekan kerja, hingga orang tua.

Ini yang selalu tidak aku mengerti tentang Dino. Aku tidak paham bagaimana bisa sebuah buku bisa memberikannya perasaan bergelombang yang campur aduk, seakan dia menjadi salah satu tokoh cerita. Entah bagaimana caranya lembaran-lembaran kertas bisa dilahap lalu dijadikan pegangan hidup -- secara intelektual maupun moral. Filosofi-filosofi rumit, nasehat-nasehat bijak, motivasi-motivasi pembuka kemungkinan -- Dino selalu menyukai itu semua.

Tidak seperti Dino, aku suka membaca buku non-fiksi terutama yang berhubungan tentang astronomi. Semua yang kubaca adalah ilmiah, bukan yang meraba-raba perasaan ataupun merangkai sebuah jalan takdir manusia.

Kecurigaan terbesarku, ratusan buku yang Dino lahap adalah penyebab sayu yang selalu dipikulnya. Menjalani kehidupan diri sendiri saja sudah kesusahan, apalagi mendalami kehidupan orang lain melalui balutan sastra.

“Keadaanmu sendiri gimana?,” tanya Dino membuyarkan lamunanku.

“Luar biasa. Udah kangen rasanya sama kamu.”

“Baru tiga hari.”

“Tiga hari.. tahan ya ternyata aku tiga hari ngga ngobrol sama kamu.”

“Ya jelas. Karena kamu lagi bahagia.”

“Maksudnya?,” aku tidak mengerti.

“Adelita, sayangku. Kalau kamu galau atau sedih, pasti kamu lari ke aku, mencari secercah penghiburan dan penyeka sepi. Tapi kalau berhari-hari ngga menghubungi, berarti hidupmu sedang baik-baik saja.”

Aku terdiam, “Bukan begitu maksudku selama ini...”

“Santai. Kita timbal balik kok. Tugasku nanti kasih kamu karma,” kudengar suara decak senyum yang tertinggal di akhir ucapan Dino.

“Dino, aku mau kasih tahu kabar penting.”

“Apa?”

Lengang sebentar. Aku hanya terdiam.

“Kamu mau kasih tahu apa?,” tanyanya yang beranjak penasaran di ujung sana.

Ilham proposed me. I am getting married.”

Sekarang Dino yang terdiam. Senyap lama merambat melalui kabel gagang telepon. “Aku ngga peduli aku wanita keberapa. Yang terpenting Ilham jadi milikku. Nanti aku ikut dia pulang Jerman. Semua perhelatan akan diadakan disana,” jelasku.

Aku mengerti diam yang dilontarkan Dino. Dia pasti kecewa pada keputusanku menikahi seseorang yang telah menyedot segala kebahagian, yang memberi lebih banyak ketidakpastian pada wanita yang menunggu selagi dia berkarir (dan mungkin ber-wanita-ria) di negeri orang. Aku tidak peduli. Hanya Ilham yang aku inginkan.

Kudengar hembusan nafas yang dilepaskan panjang. “I am happy for you. Congratulation,” ucap Dino akhirnya. Tidak seperti perkiraanku, dia tidak memaki atau berteriak murka.

Aku diam-diam tersenyum samar, “Kalau aku sudah jadi istri orang, kamu harus berhenti galau karena Hendrik atau cowo-cowo metropolis lain yang deketin kamu. Aku ngga akan bisa selalu bisa diajak curhat.”

“Iya. Berarti tukar menukar komoditas kita selesai sampai disini, ya? Termasuk malam-malam yang kita habiskan bersama,” Dino tertawa, “Yah, kamu ngga akan dapet transfer lagi kalau aku ke Jogja,” candanya.

You are the best of best friends that I have ever had,” ucapku tanpa menanggapi ucapan Dino barusan.

My honour, your majesty.”

Aku mengakhiri percakapan malam ini setelah berbasa-basi sebentar, berpesan agar dia selalu menjaga kesehatan di tanah Papua sana. Masih ada sebuah pertanyaan besar mengenai raut sayu yang menggantung di wajah Dino setiap dia mengira aku tidak sedang melihat. Pertanyaan yang sepertinya tidak akan pernah aku tanyakan.. tentang rahasia yang disembunyikannya dariku -- aku yang notabene tahu segala tentang hidupnya bahkan hingga ukuran celana dalam.

Kusesap secangkir teh genmaicha yang sudah tidak panas di genggaman tangan. Menatap langit penuh bintang dari balik jendela kamar. Sementara Ilham terlelap diatas ranjang. Pria yang sudah kucintai sejak bertahun-tahun itu, yang selalu menyebutku lemah karena senang minum teh bukannya kopi, ketika tertidur sulit sekali terbangun oleh suara apapun. Termasuk obrolanku melalui telpon barusan.