Opto, Ergo Sum

 
Seorang penulis pernah berkata, “Opto, Ergo Sum. Aku memilih maka aku ada.”
 
Aku tak genap setitik ketika dibandingkan dengan luas semesta. Hanya secuil kehidupan diatas katulistiwa. Helai benang yang disulam menjadi tubuh ringkih, selalu bergidik ketika mendengar kata marabahaya. Tak ada hebatnya.
 
Apabila bisa memilih, aku ingin terlahir dengan segala kelebihan. Lebih penampilan, lebih kepintaran, lebih kekuatan. Namun, nyatanya.. aku terlahir sedemikian rupa tanpa diberi kesempatan untuk menentukan pilihan. Dan aku tetap ada.
 
Ketika ada ungkapan ‘Opto, Ergo Sum, kemungkinan besar persoalan memilih ini ada di dunia lahir. Yaitu ketika kita sudah diberkahi kehidupan. Artinya eksistensi manusia dapat dikukuhkan apabila individu tersebut mampu mengambil opsi untuk mempertahankan hidupnya. Menentukan jalan mana agar bisa hidup dengan segala kelebihan serta kekurangan.
 
Kemudian, muncul pertanyaan mengenai kesempatan memilih sebelum lahir. Agar ada, aku tidak pernah memilih. Lalu bagaimana bila aku memilih untuk tidak ada? 
 
Jawabannya, aku tidak diberi kekuatan untuk memilih di kehidupan ruh. Hanya satu kali dipilihkan sebuah opsi. Yaitu untuk hidup. Selanjutnya, sejak hembus nafas pertama, aku berjuang mati-matian untuk bertahan di siklus kehidupan melalui berbagai jalan bercabang.
 
Aku tidak memilih untuk ada. Namun agar tetap ada serta bermakna, jalan terbaik dan yang terus naik harus dipilih.
 
Karena tidak ingin percuma. Aku tidak akan hidup segan, mati tak mau.