Kita di Sebuah Senja

Merdu debur ombak mengalun di telingaku. Sosokmu hadir di depan mataku.. nyata tanpa reka. Kau bercerita tentang gunung dan laut, tentang langit dan bumi.. jelas tanpa retorika. Aku tak jenuh mendengarkan sembari bermain dengan pasir pantai. Senja ini, kita mengungkapkan semua.

Bertahun-tahun yakin tali itu tidak akan bersatu. Aku ingat pertemuan terakhir kita. Kau mengantarku pulang, berdiri di depan pintu, mengirimkan sinyal tak ada harapan, lalu aku menutup pintu, berjanji tidak akan jatuh pada pusaran itu lagi.

Namun, lihat lah sekarang. Kau satu-satunya yang menembus proteksi diriku. Apabila diibaratkan bumi, kau hampir mencapai inti. Apabila diibaratkan angkasa, kau telah dekat dengan perbatasan galaksi. Dengan kata lain, kau mahadaya.

Kemampuanmu memahami kisah hidupku sungguh mengagumkan. Kau terjun dari tebing tinggi, meluncur menuju palung jiwaku yang terdalam. Aku telah menunjukkan semuanya. Ketakutanku, kekhawatiranku, kelemahanku, dan segala sisi burukku. Kau hanya tersenyum, dan berkata ‘Kamu baik-baik saja’. Kemudian kau berdiri di balik penyekat collision point, mengulurkan tangan.. mengajakku berdansa di luar zona perlindungan diri. Lagu pengiringnya, When It’s Time oleh Greenday yang selalu membawa haru.

Kemeja cokelat yang kau pakai bersinar diterpa cahaya langit senja. Membuatku ingin mendekapmu, menekan tubuhmu hingga berkeping-keping, lalu memasukkan tiap kepingnya ke dalam lubang di dada.. agar hanyut di pembuluh darah, mengalir ke seluruh tubuh.

Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Perasaan ini meledak seketika. Aku tidak tahan lagi. Rasa bahagia telah memenuhi setiap ruang dalam sendiku.

Kau membolak-balikkan keadaan hanya dengan satu senja. Terjun menuju palung hanya dengan satu percakapan. Di matamu aku melihat masa depan. Hari ini di pesisir pantai, kita mengukir cerita. Setiap bagian dirimu mengalir di nadiku. Semua kisahku tersimpan di benakmu. Kau mahadaya, aku jatuh cinta.