Gadis Layang-Layang

Dia berdiri tegak, empat langkah dari tepi. Gedung seratus dua lantai itu menjulang seakan menembus awan. Gadis itu merasa, dia adalah layang-layang.

Angin mengibaskan rambutnya, mengibaskan roknya yang berwarna jingga, mengibaskan cerita yang dia dekap.. menyerahkan cerita itu pada langit.. pada semesta. Tidak ada lagi rahasia di atas sana. Angin mengisahkan atas nama gadis itu. Bahkan burung-burung pun berusaha mencapai ketinggian ini, untuk sekadar tahu apa yang terjadi. Apa yang akan gadis itu lakukan.. gedung seratus dua lantai itu memahami.

Gadis layang-layang memutuskan untuk melangkah maju.

Langkah pertama. Apabila diibaratkan, gadis itu dapat digolongkan genus Euphorbia. Jenis tumbuhan yang tidak pernah memilih menjadi demikian. Penuh duri, memiliki self-defense cukup tinggi, dan tidak mekar besar berwarna-warni. Siapa yang mau memasukkan Euphorbia dalam buket bunga? Hampir tidak ada.

Langkah kedua. Gadis itu teringat sebuah cerita -- yang dia hubungkan dengan ceritanya sendiri. Dikisahkan, suatu malam, seekor unta di padang pasir diikat pada sebuah pohon oleh pemiliknya. Kemudian, sang pemilik melepas tali itu keesokan hari. Namun, sang unta tidak lari, bahkan hampir tidak bergerak. Unta itu diam disana; mengingat malam sebelumnya ketika dia diikat, dan berpikir sekarang dia masih diikat. 

Langkah ketiga. Ketika kebanyakan orang bermimpi menjadi bintang, gadis itu justru ingin menjadi kertas. Sehingga lebih mudah baginya melipat diri di kerumunan. Atau bersembunyi di sela-sela lemari saat pesta. Atau meremas diri sendiri ketika dunia memunggunginya. Atau terbakar habis apabila disulut api. Dia tidak pernah meminta hal-hal besar, melainkan hanya sebuah kedamaian, pengertian, dan kebebasan.

Langkah terakhir, penentu sikapnya hari ini. Garis waktu terpampang di hadapannya. Puluhan bingkai berkelebat di pikirannya. Hidup ini sedang bergurau, tapi saat ini dia tidak ingin tertawa.

Dia mengambil langkah terakhir tanpa ragu. Dalam sekejap, dia benar-benar menjadi layang-layang. Terbang di ketinggian. Dipeluk angin yang daritadi menjadi kawan. Merangkul semesta yang kini menggenggam kisah hidupnya. Ketinggian seratus dua lantai adalah keputusan. Tidak, dia tidak menyesal.