Bumi Hujan

Hujan belum berhenti. Hari ini genap sepuluh tahun hujan mengguyur bumi. Aku berdiri menatap samudera tak berujung. Tidak banyak manusia tersisa. Hanya aku dan beberapa lainnya. Kami mampu bertahan karena kami ahli pendakian.

Sepuluh tahun lalu, hujan mulai mengguyur. Kami, para penduduk bumi, berpikir bahwa hari itu seperti hari lainnya; bahwa hujan itu seperti hujan lainnya--yang ‘kan segera berhenti. Namun ternyata ia tak pernah berhenti. Semesta mengalami anomali. Jumlah air di bumi terus bertambah.. tidak lagi tetap seperti yang selama ini dijelaskan oleh sains. Langit menunjukkan perangainya. Awan tidak pernah berhenti meneteskan air mata.


Illustration: Christine Daniloff/MIT

Hujan telah melenyapkan seluruh dataran rendah dan menenggelamkan gunung-gunung. Jutaan manusia tidak bisa bertahan. Mereka yang diangkut kapal kehabisan pangan. Hasil pertanian tidak tersisa; ikan di laut habis dimakan. Mereka yang memutuskan untuk berenang tidak memiliki daratan untuk dituju, lalu begitu saja tenggelam. 

Hanya tersisa dataran-dataran tinggi di bumi. Saat ini aku berdiri di salah satunya. Aku dan puluhan lainnya baru saja sampai ke puncak ini setelah mendaki berminggu-minggu. Ketika berangkat kami berjumlah lima ratus, sekarang hanya tersisa lima puluh. Mendaki minim bekal di tengah hujan tidak pernah mudah.

Aku berdiri di sebuah tebing. Menantang genangan air hujan sebesar dunia. Ketika semua manusia musnah, apa kau pikir kau menang, Hujan? Tentu, namun hanya sementara. Setelah kami tidak ada, berakhirlah segala kompetisi. Kau tidak lagi memiliki rival. Lalu apa yang akan kau banggakan?

Aku mendongak menatap langit. Hey Awan, apa yang kau tangisi? Egomu sendiri?

Bencana mahadaya ini tidak tercipta begitu saja. Diceritakan, seorang gadis dari kota York Baru memutuskan untuk terjun dari gedung seratus dua lantai. Ia menggunakan trik empat langkah saat akhirnya memutuskan untuk jatuh. Namun ajaibnya, ketika jatuh ia tidak pernah menyentuh tanah. Ia terhenti di tengah-tengah. Sekejap kemudian di punggungnya tumbuh sayap, lalu ia mampu terbang. Tubuhnya terhempas ke langit. Melayang diantara awan. Sejak itu ia disebut Gadis Layang-Layang.

Gadis Layang-Layang terombang-ambing di atas awan, lalu menangis. Ia ingin jatuh dan menyentuh tanah. Karena tidak bahagia di atas sana, ia menangis dan terus menangis. Hingga tubuhnya diselimuti air mata, lalu menjelma sebagai awan yang tidak berhenti mengguyur hujan. Sejak saat itu, Gadis Layang-Layang telah menyebabkan anomali. 

Apabila mampu, dengan senang hati aku akan membiarkan gadis itu jatuh ke tanah. Kami, penduduk bumi, tidak seharusnya ikut menanggung sedihnya. 

Hari ini, rombongan manusia terakhir bumi telah sampai di puncak paling tinggi. Selanjutnya, cepat atau lambat, genangan air hujan akan mencapai ketinggian ini. Kami telah mempersiapkan diri. Selama ini kami mendaki untuk mempertahankan eksistensi sebagai manusia. Namun apabila tidak ada daratan, kami menyerah. Manusia tidak bisa hidup di langit. 

Ketika nanti  genangan sampai ke langit, air akan melahap awan-awan yang menteskannya. Saat itu lah hujan akan berhenti. Ketika itu, Gadis Layang-Layang akhirnya bisa menyelam dalam genangan air hujan, lalu berenang sangat dalam untuk menyentuh tanah--untuk jatuh sejatuh-jatuhnya, menyelesaikan jatuh yang belum ia selesaikan.

-- Auckland, Aotearoa. April 2018.