Timur Jawa

Halo, apa kabar? Timur Jawa baik-baik saja? Ini surat pertama dan terakhir untukmu. Tidak panjang. Aku tidak banyak bicara untukmu. Karena aku dan kamu sudah terlalu tau.

Alasan kenapa aku belum pernah menulis tentangmu, Timur Jawa, adalah karena aku tidak ingin kita berakhir seperti kisah-kisah yang kutulis sebelumnya. Namun garis itu akhirnya bertemu. Kita berada di titik temu itu untuk selanjutnya merintis jalan sendiri. Hari ini adalah penanda. Timur Jawa, selamat berbahagia dengannya.

Kau adalah ombak yang mengalunkan merdu, bintang jatuh di langit malam, dan angin penghembus rindu. Bagiku kau adalah skyscraper yang menjulang. Kau sangsaka hati dan jangkar kapal hidupku--yang tanpamu, aku tidak akan berada di tempat sekarang. Kau adalah inspirasi di segala langkah. Oh, kau juga pernah mengatakannya bukan? Bahwa aku inspirasimu. Tapi maaf, Timur Jawa, aku tidak bisa memberikan segalanya.

Andaikan aku tidak terlalu dingin dan kau sedikit lebih bersabar, aku dan kamu bisa menyusun buku hidup bersama. Sayang sekali, ego telah mengadu kita berdua. Andaikan aku sedikit lebih sederhana dan kau sedikit lebih mendengarkan, aku dan kamu bisa berdiri di titik temu dua garis itu, dan menetap selamanya disana.

Seumur hidupku, kau adalah yang terbaik. Seluruh ruang hatiku telah kau tempati, Timur Jawa. Hingga akhirnya sekarang aku takut. Bagaimana bila aku tidak lagi mampu mencinta? Bagaimana bila tidak ada orang yang mampu membuatku berdebar, seperti setiap kali aku menatapmu? Bagaimana bila tidak lagi ada ruang di jiwaku untuk seseorang lainnya?

Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak bersedih. Sama sekali tidak. Aku tau hari ini akan datang. Piluku telah aku cicil jauh-jauh hari, sehingga kini telah lunas. Kuharap kau selalu bahagia. Timur Jawa, kau akan selalu menjadi raja di ruang di balik dada.

Aku tidak perlu banyak berkata. Kita sudah sama-sama tau. Selamat tinggal.


-- Auckland, Aotearoa. 4 April 2018.